Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Penanganan Pemerintah dan Analisis Ahli Geologi
Lubang raksasa muncul di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Keberadaan lubang ini terus meluas dan menyebabkan kerusakan serius pada badan jalan. Alhasil, akses transportasi terganggu.
Selain itu, meluasnya lubang tersebut juga mengancam permukiman warga di sekitar lokasi munculnya.
Pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Aceh Tengah telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi sementara.
Namun, Kementerian Pekerjaan Umum akan menangani sepenuhnya karena lubang tersebut membutuhkan kajian teknis yang lebih mendalam.
Lantas, bagaimana penjelasan dari Kementerian PU serta analisis penyebabnya?
Penanganan lubang raksasa di Aceh Tengah
Kepala Dinas PU Aceh Tengah Pijas Visara, mengatakan penanganan lubang raksasa di Ketol saat ini sudah masuk dalam proses kementerian.
Menurut dia, secara teknis lokasi tersebut masih dikaji untuk menentukan metode penanganan yang paling tepat.
"Intinya, lubang itu akan ditangani Kementerian PU, sekarang sedang berproses. Secara teknis sedang dalam kajian kementerian. Tetapi, persiapan sudah dilakukan BPJN Aceh sebelum menteri datang kemarin," ucap Pijas Visara, dikutip dari , Sabtu (7/2/2026).
Ia menegaskan, keterlibatan Kementerian PU diperlukan karena skala kerusakan dan risiko yang ditimbulkan cukup besar.
Pemerintah pusat dinilai memiliki sumber daya dan keahlian teknis yang lebih lengkap untuk menangani persoalan tersebut secara menyeluruh.
"Lubang itu akan ditangani Kementerian PU, sekarang sedang berproses. Secara teknis sedang dalam kajian kementerian," lanjut Pijas.
Sementara menunggu hasil kajian tersebut, pemerintah daerah tetap melakukan langkah-langkah darurat agar aktivitas masyarakat tidak sepenuhnya terhenti.
Solusi sementara: opsi pembangunan jalan alternatif
Sebagai solusi sementara, Dinas PU Aceh Tengah telah mengusulkan beberapa opsi mitigasi, terutama terkait relokasi jalur jalan yang terdampak langsung oleh lubang raksasa.
"Awalnya kita sudah tawarkan tiga opsi untuk mitigasi yang dilakukan khusus relokasi jalan. Salah satu opsi itu sudah dikerjakan, yaitu dibuatnya jalan alternatif sepanjang 1200 meter, tidak jauh dari jalan utama yang rusak," kata Pijas Visara.
Jalan alternatif tersebut diharapkan dapat menjadi jalur pengganti sementara bagi kendaraan yang melintas di kawasan Ketol.
Namun, Pijas mengakui risiko kerusakan tetap ada, mengingat lubang raksasa terus meluas ke arah jalan tersebut.
"Karena luas lubang ke arah jalan alternatif tadi sudah mencapai 40-50 meter, maka apabila terjadi kerusakan jalan alternatif, masih ada opsi Jalan Gelumpang Payung-Pondok Balik," sebut Pijas.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah menyiapkan jalur cadangan lain jika kondisi di lapangan semakin memburuk.
Mitigasi jangka panjang dan harapan warga
Pijas menyebutkan, opsi ketiga yang disiapkan adalah pemanfaatan jalur Jembatan Segene Balik.
Jika lubang terus meluas, pihak Dinas PU menilai jalur Segene Balik adalah yang paling aman.
"Alternatif ketiga itu ada di jembatan Segene Balik. Apabila lubang semakin meluas, maka jalur ini adalah yang paling aman. Tetapi harus ada perbaikan jalan sepanjang 5 kilometer, serta pembangunan kembali jembatan yang rusak karena bencana," lanjut Pijas Visara.
Di sisi lain, warga sekitar berharap penanganan dilakukan secara cepat dan komprehensif.
Mereka khawatir jika lubang raksasa dibiarkan terlalu lama, kerusakan akan semakin meluas dan membahayakan keselamatan masyarakat.
"Masyarakat berharap penanganan yang cepat dan komprehensif agar peristiwa serupa tidak terulang dan tidak menambah kerusakan yang lebih parah," ujar salah seorang warga di sekitar lokasi.
Hingga kini, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat sembari melakukan pengamanan di sekitar lokasi lubang raksasa.
Warga diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Hipotesis sinkhole, masih perlu kajian lanjutan
Dosen Geologi Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir Bambang Setiawan, menilai lubang raksasa di Kecamatan Ketol menunjukkan ciri-ciri sinkhole.
Meskipun demikian, kesimpulan tersebut masih memerlukan kajian teknis lanjutan.
"Itu emang ciri-ciri biasanya itu sinkhole, biasanya. Cuma saya gak tau posisi koordinatnya di mana, jadi saya gak bisa ngecek peta geologinya. Kan biasanya kalau sinkhole itu kan korelasinya dengan keberadaan batu kapur atau batu gamping, itu korelasinya," kata Bambang, dikutip dari , Sabtu.
Ia menjelaskan, sinkhole umumnya terbentuk akibat pelarutan batuan kapur di bawah permukaan tanah yang menciptakan rongga hingga akhirnya amblas.
Namun, Bambang mempertanyakan keberadaan material longsoran yang seharusnya terlihat jika proses amblasan terjadi secara bertahap..
Menurut Bambang, pada amblasan yang berlangsung perlahan, material tanah biasanya masih terlihat menumpuk di bagian bawah lubang.
Akan tetapi, kondisi tersebut tidak tampak pada lubang raksasa di Ketol.
"Karena dia gradually pelan-pelan jatuh secara terus menerus. Nah tapi kalau misalnya kita lihat visual yang sekarang, material yang teronggokkan ke bawah tadi kan nggak ada. Nggak tau ke mana," lanjutnya.
Untuk mengetahui pastinya lubang raksasa di Aceh Tengah ini, Bambang menyatakan perlu melihat lebih detail dan melakukan kajian lanjutan.
Ia berharap bisa meninjau lokasi munculnya lubang raksasa itu secara langsung pekan depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang