"Pemerintah Tolong Bantu Masyarakat Aceh", Keluhan Warga Banda Aceh di Tengah Kelangkaan LPG
Stok Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, sangat terbatas dalam beberapa pekan terakhir.
Keterbatasan LPG terjadi setelah wilayah Aceh diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.
Salah satu warga Banda Aceh, Nur (49), meminta pemerintah untuk segera membantu masyarakat Aceh.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat di daerahnya benar-benar membutuhkan gas untuk memasak dan keberlangsungan hidup sehari-hari.
“Pemerintah tolong bantu masyarakat Aceh di seluruh wilayah Provinsi Aceh, bawa tabung gas berisi gas yang cukup untuk masyarakat Aceh,” kata Nur dalam keterangannya kepada Kompas.com, Senin (15/12/2025).
“Kami di Aceh sangat membutuhkan gas untuk memasak untuk keberlangsungan hidup sehari-hari,” tambahnya.
Harga Makanan Naik Gara-gara LPG Langka
Nur menambahkan, harga makanan di rumah makan dan warung mengalami kenaikan dari Rp 3.000 hingga Rp 6.000 imbas kelangkaan LPG dalam beberapa hari terakhir.
Ia juga menerima keluhan dari salah satu penjual makanan bahwa LPG yang semula dibanderol Rp 195.000 hingga Rp 200.000 melonjak menjadi Rp 300.000.
“Ada juga yang beli sampai Rp 370.000,” ungkap Nur.
Ia menceritakan, dirinya masih berkesempatan untuk mendapatkan gas di tengah kelangkaan LPG.
Namun, Nur hanya bisa mendapatkan LPG tabung lama berwarna biru, padahal sebelumnya menggunakan Bright Gas warna pink.
“Ini yang ada tidak ada yang lain lagi. Itu pun sangat langka,” kata Nur.
Warga Banda Aceh Terpaksa Memasak Pakai Tungku dan Kayu Bakar
Nur menambahkan, tetangga di sekitar rumahnya terpaksa memasak menggunakan tungku dan kayu bakar.
Memasak menggunakan tungku dan kayu bakar sebenarnya tidak mudah di wilayah Banda Aceh karena selain susah, tempat untuk menyalakan api juga tidak ada.
Tetapi, tidak ada pilihan lain bagi warga untuk bertahan selain menggunakan tungku dan kayu bakar.
“Enggak ada pilihan lain, gas habis, mau antre, antreannya begitu padat, berjubel, ada yang tak sanggup lagi antre, ya pulanglah,” ungkap Nur.
Warga Banda Aceh Sudah Muak
Warga Banda Aceh lainnya, Zulfah (29) mengatakan, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) biasanya menjual LPG, namun stoknya sangat terbatas dalam beberapa pekan terakhir.
Zulfah memperlihatkan kondisi antrean di Jalan Jenderal Soedirman, Banda Aceh ketika LPG sengaja disusun secara berjejer oleh pemiliknya hingga mengular.
“Minggu lalu aku cari gas untuk tabung yang kosong, sampai hari ini belum dapat. Tadi pagi gas yang kedua abis. Hari ini aku ikut antrean gas 5,5 (kg) ada sekitar 300 tabung yang antre. Kuotanya cuma 50 (tabung),” ujar Zulfah kepada Kompas.com, Sabtu (13/12/2025).
“Yang gas 12 kg tadi lumayan banyak, 400 tabung lebih ada kayaknya yang terdistribusi, tapi antreannya sekitar 1.000 tabung,” tambahnya.
Zulfah mengatakan, ia sempat mencoba membeli gas LPG tabung 12 kg, tetapi antrean pembeli sudah mencapai 900 hingga 1.000 orang.
Ia juga berusaha membeli gas LPG sampai ke minimarket dan pangkalan-pangkalan besar, namun tidak membuahkan hasil.
“Itu pun udah ngantre belum tentu dapat. Gas itu bermalam di halaman sekitar, karena stoknya terbatas,” ungkap Zulfah.
“Semua orang di sini udah muak kali sama lambatnya penanganan,” tambahnya.
Respons Pertamina
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengimbau warga Banda Aceh, Provinsi Aceh, untuk tidak melakukan panic buying di tengah keterbatasan stok LPG yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul keluhan masyarakat terkait kelangkaan LPG serta lonjakan harga gas di pasaran.
Menurut Roberth, Pertamina terus berupaya menjaga pasokan energi tetap tersalurkan ke masyarakat.
“Kami mengimbau agar masyarakat dapat menggunakan energi atau LPG secukupnya dan jangan panic buying,” ujar Roberth kepada Kompas.com, Sabtu (13/12/2025).
“Kami berusaha semaksimal mungkin agar energi tetap terdistribusi walaupun bertahap dan butuh waktu tambahan,” tambahnya.
Roberth menjelaskan, pasokan LPG untuk wilayah Banda Aceh selama ini disalurkan dari Lhokseumawe melalui jalur darat.
Namun, proses distribusi menghadapi kendala akibat kondisi jalur yang masih terisolasi dan belum sepenuhnya tersambung.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina telah menyiapkan skema distribusi alternatif dengan memanfaatkan moda transportasi laut.
Penyaluran LPG dilakukan menggunakan kapal Roro yang melayani rute Lhokseumawe–Banda Aceh secara bolak-balik.
Robert menegaskan, Pertamina tetap berkomitmen menyalurkan LPG secara optimal agar kebutuhan energi masyarakat Banda Aceh dapat terpenuhi, meski distribusi dilakukan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan.
“Tepatnya kemarin siang dengan jalur tempuh alternatif dan moda alternatif (kapal Roro) ini baru sampai di Banda Aceh,” kata Robert.
“Tentunya ini adalah alternatif terbaik saat ini yang dilakukan, walaupun masih perlu pengaturan karena jumlah ter-deliver belum sesuai jumlah permintaan,” tambahnya.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini