Wamen ESDM Ungkap Pertimbangan Soal Penentuan Kuota BBM bagi SPBU Swasta di 2026

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2024
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2024

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, buka-bukaan soal penentuan atas penetapan kuota BBM bagi para operator SPBU swasta di tahun 2026.

Dia mengakui, saat ini sebenarnya para operator SPBU swasta sudah mengajukan kuota kebutuhan BBM untuk tahun ini.

"SPBU swasta sudah mengajukan kuota untuk 2026. Seharusnya itu sudah tahap penyelesaian di Dirjen Migas (Kementerian ESDM)," kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 2 Januari 2026.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.

Sementara untuk penetapan kuota yang akan ditetapkan Kementerian ESDM, Yuliot mengatakan bahwa hal itu akan disesuaikan dengan angka penjualan masing-masing SPBU swasta pada tahun 2025 lalu.

"(Kuota BBM bagi SPBU Swasta) untuk tahun 2026 itu akan menyesuaikan dengan penjualan (di 2025). Kemudian juga ada asumsi kenaikan," ujar Yuliot.

Namun, Yuliot mengaku belum bisa mengungkapkan soal berapa asumsi kenaikan tersebut. Dia mengaku, pihaknya di Kementerian ESDM masih harus menunggu data kenaikan penjualan dari para operator SPBU swasta tersebut.

"Kami akan lihat terlebih dulu berapa realisasi penjualan di tahun 2025, itu kan kita belum dapat. Ini lagi dikonsolidasikan sama Dirjen Migas," ujarnya.

Diketahui, sebelumnya masalah stok impor BBM bagi para operator SPBU swasta ini, sempat menjadi masalah di akhir 2025 lalu. Sehingga, hal itu menyebabkan kelangkaan BBM terjadi di SPBU-SPBU swasta tersebut.

Kelangkaan yang terjadi akibat habisnya stok impor yang diberikan pemerintah kepada para SPBU swasta tersebut, sempat ditangani dengan kebijakan pemerintah memberikan kuota tambahan sebesar 10 persen dari volume impor yang ditetapkan pada 2025.

Namun nyatanya, pasokan dari kuota tambahan bagi SPBU Swasta itu pun kembali habis, sehingga pemerintah mendorong mereka untuk menyerap impor BBM dari Pertamina secara business-to-business (B2B).

Meski awalnya beberapa SPBU swasta sempat menolak, namun mereka akhirnya sepakat membeli dari Pertamina. Dimana, BP-AKR tercatat membeli sebanyak 100 ribu barel, kemudian disusul oleh Vivo dan Shell dengan volume yang sama. Sehingga, secara total Pertamina akhirnya kembali menyuplai BBM ke SPBU swasta hingga sebanyak 430 ribu barel.