Lubang Raksasa Mirip Sinkhole Muncul di Aceh Tengah, Warga Sempat Direlokasi
Fenomena lubang raksasa menyerupai sinkhole muncul di wilayah Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Keberadaan lubang ini kembali menjadi perhatian karena ukurannya terus membesar dari waktu ke waktu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan, longsoran tanah berbentuk lubang tersebut sudah terpantau sejak awal tahun 2000-an.
Namun, hingga saat ini belum ada literatur ilmiah yang secara pasti menjelaskan awal mula terbentuknya lubang raksasa tersebut.
Berdasarkan catatan kejadian, dampaknya sudah dirasakan warga sejak bertahun-tahun lalu.
Pada sekitar 2006, longsoran di lokasi ini pernah memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Warga Kampung Bah Serempah juga sudah direlokasi ke Kampung Serempah Baru pada 2013-2014.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut,” ujar Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Penelitian Lubang Raksasa di Kecamatan Ketol
BPBD Aceh Tengah bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sempat melakukan penelitian bersama pada 2022 untuk mengkaji karakteristik lubang raksasa yang muncul di Kecamatan Ketol.
Merujuk hasil penelitian BPBD Aceh Tengah yang diterima Kompas.com, Kamis (15/1/2026), lokasi pergerakan tanah secara administrasi berada di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Wilayah ini berbatasan dengan Kecamatan Lampahan di sebelah timur laut serta Kabupaten Bireuen di sisi utara.
Luas desa lokasi penelitian sekitar 3,75 kilometer persegi berdasarkan pengukuran Google Earth.
Lokasi ini berada kurang lebih 17 kilometer di barat laut Kota Takengon dan Danau Lut Tawar.
Kondisi Geologi dan Pergerakan Tanah
Berdasarkan peta geologi regional, wilayah yang terdapat lubang raksasa termasuk dalam Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang berumur kuarter.
Hasil pengamatan lapangan dan pemetaan menggunakan drone menunjukkan bahwa litologi daerah tersebut didominasi material vulkanik.
Secara megaskopis, terlihat adanya mineral limonit pada singkapan batuan.
Temuan ini mengindikasikan pengaruh aktivitas hidrotermal di kawasan tersebut.
Namun, pengambilan sampel material tidak dapat dilakukan pada saat itu karena singkapan berada di dinding jurang dengan kedalaman sekitar 50 meter dari permukaan jalan.
Pergerakan Tanah Terus Aktif
Survei ortofoto di lokasi gerakan tanah Ketol dilakukan dua kali, tepatnya pada 5 Desember 2021 dan 12 Februari 2022.
Hasil korelasi kedua data tersebut menunjukkan pergerakan tanah yang sangat aktif.
Dalam periode tersebut, tanah tercatat bergeser rata-rata sejauh 8,5 meter ke arah tenggara.
Analisis dilakukan menggunakan konfigurasi dua karena kondisi batuan di wilayah ini tergolong lunak.
Dari hasil pengukuran, zona jenuh air ditemukan pada kedalaman 10 hingga 100 meter di beberapa titik.
Lapisan ini diinterpretasikan sebagai material vulkanik yang bersifat permeabel, sedangkan di bawah kedalaman 100 meter terdapat lapisan vulkanik yang impermeabel.
Pengukuran AGR pada lintasan tertentu menunjukkan zona jenuh air berada pada kedalaman 12 hingga 35 meter.
Data ini, jika dikorelasikan dengan ortofoto, memperlihatkan arah longsoran dominan menuju tenggara dan selatan.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, pergerakan tanah diperkirakan akan terus berlangsung dan semakin aktif di zona jenuh air sehingga kawasan ini dinilai memiliki potensi tinggi mengalami gerakan tanah secara berkelanjutan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang