Mengapa Lubang Raksasa di Aceh Tengah Membesar Jadi 30.172 M2? Ini Penjelasan Dinas ESDM

Aceh Tengah, lubang, longsor, Mengapa Lubang Raksasa di Aceh Tengah Membesar Jadi 30.172 M2? Ini Penjelasan Dinas ESDM

Lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, terus membesar dan kini mencapai 30.172 meter persegi.

Kondisi itu tersaji dalam hasil kajian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh yang tertuang dalam surat resmi Dinas ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026 yang ditujukan kepada Bupati Aceh Tengah.

Adapun lubang yang terbentuk akibat longsor di ruas Jalan Buter–Pondok Balik tersebut dalam sepekan terakhir telah memakan badan jalan, menghilangkan sebagian lahan perkebunan warga, serta mengancam rumah penduduk di sekitarnya.

Longsor Terjadi Sejak 2011, Luas Lubang Terus Bertambah

Dalam salinan surat resmi Dinas ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 disebutkan bahwa longsor di Desa Pondok Balik telah terjadi secara terus-menerus sejak 2011.

Pada pemantauan tahun 2022, luasan gerakan tanah tercatat 28.000 meter persegi dan terus berkembang hingga kini menjadi 30.172 meter persegi.

Luasan lubang tersebut telah mencapai badan jalan utama dan terus berkembang ke arah tenggara.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelusuran, luas lubang pada 2021 masih sekitar 7.000 meter persegi.

"Pada tahun 2022 kami pantau sudah mencapai 28.000 meter persegi, sekarang sudah di atas 30.000 meter persegi," ujar Ikhlas melalui sambungan telepon, Sabtu (31/1/2026).

Menurut dia, kondisi saat itu belum sampai merusak badan jalan. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan longsoran telah menghancurkan ruas Jalan Buter–Pondok Balik dan bergerak ke arah tenggara, mendekati lokasi tower sutet PLN yang kini telah dipindahkan.

Penyebab Lubang Raksasa di Aceh Tengah Membesar

Ikhlas menjelaskan, secara geologi wilayah Aceh Tengah didominasi batuan vulkanik berupa tufa dan aliran piloklastik yang dikenal sebagai Formasi Geureudong. Formasi ini berasal dari material gunung api Geureudong yang telah tidak aktif jutaan tahun lalu.

Material tersebut bersifat lepas dan mudah menyerap air. Ketika hujan turun, tanah menjadi jenuh air dan menambah beban pada lereng yang sudah curam dan tererosi.

"Apalagi curah yang terbentuk karena terjadinya beberapa kali erosi hingga terjal dan tegak, itu yang membuat lereng tersebut tidak stabil," kata Ikhlas.

Ia menambahkan, hujan lebat yang terjadi saat siklon Senyar pada akhir November 2025 turut mempercepat pergerakan longsoran tanah.

"Pemicunya hujan, getaran, gempa maupun air bawah tanah," tandasnya.

Adapun aliran air bawah tanah yang terus menggerus material serta kemiringan tebing yang curam meningkatkan potensi longsor lanjutan, terutama saat hujan deras atau terjadi gempa bumi.

Rekomendasi Dinas ESDM Aceh

Menyikapi kondisi tersebut, berdasarkan salinan surat resmi Dinas ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162, Dinas ESDM Aceh merekomendasikan agar masyarakat menghindari kawasan dan ruas jalan di sekitar longsor karena pergerakan tanah masih berpotensi terjadi.

Pemerintah Daerah juga diminta memasang rambu peringatan rawan longsor, garis pembatas, serta meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana kepada warga.

Selain itu, ESDM Aceh merekomendasikan pemantauan berkala, pembuatan saluran drainase kedap air yang menjauh dari area longsor, serta mempertimbangkan pemindahan trase jalan ke lokasi yang lebih aman.

Setiap rencana pembangunan jalan baru di sekitar wilayah tersebut juga diminta untuk didahului kajian geologi teknik, guna menghindari risiko bencana serupa di masa mendatang.

Kemudian, Pemerintah Daerah juga diminta memperkuat tebing dan mengurangi potensi longsor lanjutan melalui tindakan nonstruktur, seperti penanaman vegetasi penyangga, maupun tindakan struktur penguat tebing apabila memungkinkan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "" dan "Lubang Raksasa di Aceh Tengah Meluas Jadi 30.000 Meter Persegi, Apa Penyebabnya?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang