Fenomena Lubang Raksasa Mirip Sinkhole di Aceh Tengah, BPBD Ungkap Hasil Penelitian
Sebuah lubang raksasa berupa tanah amblas atau longsoran yang menyerupai sinkhole muncul di wilayah Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, menyatakan bahwa fenomena ini sudah terjadi sejak tahun 2000-an.
"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Di mana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Andalika menambahkan, pergerakan tanah ini pernah memutus akses jalan penghubung Blang Mancung-Simpang Balik pada 2006.
Kemunculan lubang raksasa juga mendorong otoritas setempat untuk melakukan relokasi terhadap sebagian warga dari Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada 2013–2014.
"Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," jelas Andalika.
Hasil Penelitian Lubang Raksasa Aceh Tengah
Lokasi lubang besar yang dipicu oleh pergerakan tanah secara administrasi berada di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Tim Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh yang disampaikan Pusdalops BPBD Aceh Tengah kepada Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Wilayah lubang raksasa berbatasan dengan Kecamatan Lampahan di timur laut dan Kabupaten Bireuen di utara.
Luas lokasi penelitian mencapai 3,75 km2 dengan jarak sekitar 17 km barat laut kota Takengon dan Danau Lut Tawar.
Secara geologi, kawasan ini termasuk Formasi Satuan Lampahan (Qvl) berumur kuarter.
Data lapangan dan pengamatan drone menunjukkan bahwa litologi daerah ini merupakan material vulkanik yang menunjukkan keberadaan mineral limonite, mengindikasikan pengaruh hidrotermal.
Namun, pengambilan sampel sulit dilakukan pada 2022 karena lokasi singkapan berada di dinding jurang setinggi 50 meter dari permukaan jalan.
Hasil survei ortofoto pada 5 Desember 2021 dan 12 Februari 2022 menunjukkan tanah bergerak aktif dengan rata-rata pergeseran 8,5 meter ke arah tenggara.
Sementara itu, analisis juga dilakukan menggunakan konfigurasi dua karena kondisi batuan di daerah penyelidikan merupakan batuan lunak.
Tim mendapatkan temuan bahwa lokasi yang diteliti terdapat zona jenuh air pada kedalaman 10–100 meter.
Litologi yang menjadi zona jenuh air diinterpretasikan sebagai material vulkanik permeable.
Kemudian, pada kedalaman 100 meter ke bawah diinterpretasikan sebagai litologi material vulkanik impermeable
Tim Dinas ESDM Aceh menyampaikan, berdasarkan pengukuran yang sudah dilakukan, pergerakan tanah diprediksi semakin aktif di zona jenuh air.
"Kondisi ini menyebabkan daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah secara menerus," jelas Tim Dinas ESDM Aceh dalam laporannya pada 2022.
Rekomendasi Tim Dinas ESDM Aceh
Tim Dinas ESDM Aceh sudah memberikan sejumlah rekomendasi untuk menghadapi kemunculan lubang raksasa yang mirip sinkhole di Aceh Tengah.
Pertama, perlu dilakukan relokasi jalan menjauhi lokasi longsor untuk mencegah potensi terputusnya akses dan membahayakan pengguna jalan.
Pembangunan jalan relokasi juga harus memperhatikan aspek geologi teknik dan hidrogeologi.
Selain itu, Tim Dinas ESDM Aceh merekomendasikan pemantauan secara berkala dan penyelidikan lebih lanjut terhadap pergerakan tanah.
Hal yang tidak kalah penting adalah pemasangan rambu peringatan rawan longsor dan garis pembatas di sekitar tebing.
"Memberikan pemahaman geologi tentang bahaya yang disebabkan oleh gerakan tanah (longsor) dan indikasinya sebagai upaya mitigasi bencana tersebut," kata Tim Dinas ESDM Aceh.
"Diperlukan kajian yang komprehensif untuk melakukan mitigasi secara struktural," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang