Dugaan Kekerasan Seksual di Balik Kematian Mahasiswi di Manado, Kuasa Hukum Serahkan Bukti ke Polda Sulut

kekerasan seksual, Dugaan Kekerasan Seksual di Balik Kematian Mahasiswi di Manado, Kuasa Hukum Serahkan Bukti ke Polda Sulut, Kesaksian Pilu. Korban Diduga Dibawa ke Pekuburan, Kejanggalan di TKP dan Rekaman CCTV, Bukti Digital Diserahkan ke Penyidik dan Rektorat, Harapan Keluarga: "Tinggal Satu Langkah Lagi Wisuda"

Misteri kematian tidak wajar seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) di Manado, EAM (22), mulai menemukan titik terang.

Sejumlah fakta baru muncul terkait dugaan kekerasan seksual yang dialami korban sebelum ditemukan meninggal dunia di indekosnya, Kelurahan Matani Satu, Tomohon Tengah, Selasa (30/12/2025).

Tim kuasa hukum keluarga korban mendatangi Mapolda Sulawesi Utara (Sulut) untuk menyerahkan bukti-bukti tambahan guna mengungkap tabir di balik wafatnya mahasiswi asal Kepulauan Sitaro tersebut.

Kesaksian Pilu. Korban Diduga Dibawa ke Pekuburan

Kuasa hukum keluarga, Niczem Alfa Wengen, mengungkapkan fakta mengejutkan berdasarkan keterangan saksi. Pada 29 Desember 2025, atau sehari sebelum ditemukan tewas, korban E terlihat menangis saat kembali ke kos.

"Saksi bertanya mengapa menangis dan ada luka di kaki. Korban menjawab bahwa ia diturunkan di pinggir jalan oleh oknum dosen berinisial DM. Katanya, oknum tersebut ingin melakukan hal tidak baik dan korban sempat dibawa ke pekuburan," ujar Niczem di Mapolda Sulut, Rabu (7/1/2026).

Pihak keluarga telah menghadirkan empat saksi untuk diperiksa penyidik, termasuk orang tua korban, A (ayah) dan S (ibu), serta dua saksi yang mengetahui dugaan pelecehan tersebut.

Kejanggalan di TKP dan Rekaman CCTV

Selain dugaan kekerasan seksual, tim kuasa hukum menyoroti sejumlah kejanggalan di lokasi kejadian perkara (TKP).

Niczem menyebut adanya ketidaksinkronan informasi dari pemilik indekos dengan pihak kepolisian.

"Ibu kos tidak mengizinkan keluarga melihat kondisi kos dari luar pagar dengan alasan larangan dari Polres Tomohon. Namun, saat dikonfirmasi, pihak Polres menyatakan tidak pernah mengeluarkan larangan tersebut," ungkap Niczem.

Persoalan rekaman CCTV juga menjadi sorotan.

Pemilik kos awalnya mengklaim CCTV sudah diserahkan sejak lama, namun faktanya perangkat tersebut baru diamankan penyidik pada malam sebelum pemeriksaan saksi di Polda.

Bukti Digital Diserahkan ke Penyidik dan Rektorat

kekerasan seksual, Dugaan Kekerasan Seksual di Balik Kematian Mahasiswi di Manado, Kuasa Hukum Serahkan Bukti ke Polda Sulut, Kesaksian Pilu. Korban Diduga Dibawa ke Pekuburan, Kejanggalan di TKP dan Rekaman CCTV, Bukti Digital Diserahkan ke Penyidik dan Rektorat, Harapan Keluarga: "Tinggal Satu Langkah Lagi Wisuda"

Ilustrasi kekerasan seksual. ? Misteri kematian tidak wajar seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) di Manado, EAM (22), mulai menemukan titik terang. Sejumlah fakta baru muncul terkait dugaan kekerasan seksual yang dialami korban sebelum ditemukan meninggal dunia di indekosnya, Kelurahan Matani Satu, Tomohon Tengah, Selasa (30/12/2025).

Guna memperkuat laporan, kuasa hukum menyerahkan sejumlah barang bukti krusial kepada penyidik Subdit Renakta (Remaja, Anak, dan Wanita) Polda Sulut, di antaranya:
  • Tangkapan layar percakapan (chat) di grup di mana korban membeberkan dugaan pelecehan.
  • Rekaman video korban bersama oknum dosen DM di dalam mobil.
  • Data berbagi lokasi (share location) yang menunjukkan pergerakan korban sebelum kejadian.

Bukti-bukti ini juga telah diserahkan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unima.

Pihak keluarga mendesak rektorat untuk segera mengambil tindakan tegas berupa pemecatan terhadap DM yang hingga kini dilaporkan masih mengelak dari tuduhan.

Harapan Keluarga: "Tinggal Satu Langkah Lagi Wisuda"

Kepergian EAM meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena korban dijadwalkan menjalani ujian proposal pada 6 Januari 2026.

Sang ibu, S, mengenang pesan terakhir putrinya yang penuh optimisme.

"Dia selalu bilang, 'Mama tinggal satu langkah lagi, banyak berdoa, kita akan wisuda'. Dia ingin membuat kami bangga," kenang S dengan mata berkaca-kaca.

Latar belakang kepribadian korban yang ceria dan optimis membuat keluarga tidak percaya jika korban meninggal karena mengakhiri hidup sendiri. Ayah korban, A, berharap Polda Sulut dapat mengungkap kasus ini secara transparan demi keadilan bagi putrinya.

Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Sebelum Evia Ditemukan Tewas Tak Wajar di Kos, Ternyata Mahasiswi Unima Itu Dibawa Dosennya ke Kubur

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang