Kronologi Dugaan Kekerasan Oknum TNI AL di Pelabuhan Melonguane Talaud, 6 Warga Jadi Korban
Aksi kekerasan yang diduga melibatkan sejumlah oknum anggota TNI Angkatan Laut kembali menghebohkan warga Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (22/1/2026) malam hingga Jumat (23/1/2026) dini hari dan memicu keresahan serta kemarahan masyarakat setempat.
Insiden bermula di kawasan Pelabuhan Melonguane. Sejumlah oknum TNI AL diduga berada dalam pengaruh minuman keras dan membuat keributan di area pelabuhan.
Berdasarkan keterangan warga, sebelum penganiayaan terjadi, para oknum tersebut terlihat berteriak-teriak dan bertindak tidak terkendali. Aksi tersebut bahkan sempat direkam oleh warga sekitar.
Bagaimana kronologi awal penganiayaan di Pelabuhan Melonguane?
Peristiwa penganiayaan pertama dialami seorang guru SMK bernama Berkam Saweduling. Saat kejadian, korban sedang memancing di Pelabuhan Melonguane sekitar pukul 21.00 Wita. Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang berteriak-teriak dalam kondisi diduga mabuk.
Korban kemudian menyadari bahwa sekelompok orang tersebut merupakan oknum anggota TNI AL yang bertugas di Lanal Melonguane.
Merasa terganggu dengan kebisingan dan perilaku mereka, korban menegur sambil merekam kejadian menggunakan ponsel.
Namun, teguran tersebut justru berujung pada tindakan kekerasan. Korban mengaku langsung menjadi sasaran pengeroyokan.
“Karena saya merekam, mereka langsung memukul saya. Saya dikeroyok sampai jatuh dan tetap dipukul,” ungkap Berkam Saweduling.
Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka cukup serius. Bagian mata kanan korban tampak membengkak dan memerah, sementara di bagian belakang tubuh terdapat luka goresan yang diduga akibat tindakan kekerasan fisik.
Bagaimana kondisi korban dan berapa jumlah warga yang terdampak?
Korban pertama kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Mala untuk mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan informasi yang diterima Tribun Manado, jumlah korban dalam peristiwa tersebut mencapai enam orang warga.
Lima korban lainnya diketahui mengalami penganiayaan setelah mendatangi lokasi untuk menanyakan kejadian yang menimpa korban pertama.
Berdasarkan pantauan dari foto-foto yang beredar, salah satu korban yang berprofesi sebagai guru tampak mengalami pembengkakan parah di bagian mata kanan yang memerah. Pada bagian belakang tubuhnya juga terlihat luka goresan cukup besar.
Kondisi para korban tersebut semakin memicu emosi warga setempat. Insiden ini dinilai telah melampaui batas dan menambah daftar panjang keresahan masyarakat terhadap perilaku oknum aparat yang diduga kerap mabuk dan membuat keributan.
Mengapa warga Melonguane menggelar aksi protes?
Insiden penganiayaan tersebut memicu kemarahan warga Melonguane. Ratusan warga kemudian menggelar aksi spontan sebagai bentuk protes di depan Patung Tuhan Yesus Melonguane.
Aksi tersebut dilakukan sebagai ungkapan kekecewaan dan tuntutan agar aparat berwenang bertindak tegas terhadap pelaku kekerasan.
Warga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan ada jaminan rasa aman bagi masyarakat sipil.
Apa penjelasan pihak kepolisian terkait kasus ini?
Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Arie Sulistyo Nugroho, membenarkan adanya peristiwa dugaan penganiayaan tersebut. Ia mengatakan pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dari masyarakat.
“Masyarakat sudah melapor ke Polres dengan jumlah pelaku yang dilaporkan sebanyak enam orang,” ujar Arie.
Ia menjelaskan, pada awal kejadian korban hanya satu orang. Namun, dalam perkembangannya, lima warga lain yang datang untuk menanyakan peristiwa tersebut justru ikut menjadi korban penganiayaan.
“Korban awal satu orang. Kemudian lima orang yang menanyakan kejadian ikut juga menjadi korban, sehingga total korban berjumlah enam orang,” jelasnya.
Bagaimana tanggapan dan langkah Danlanal Melonguane?
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melonguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, memberikan keterangan resmi terkait dugaan tindak penganiayaan yang melibatkan sejumlah oknum anggotanya terhadap warga sipil.
Letkol Laut (P) Yogie Kuswara menyampaikan bahwa pihak Lanal Melonguane telah melakukan mediasi dengan keluarga para korban. Menurutnya, permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.
“Sudah ada mediasi antara pihak Lanal dan keluarga korban dan semuanya telah terselesaikan dengan baik,” ujar Yogie Kuswara.
Ia menegaskan bahwa Lanal Melonguane siap bertanggung jawab atas kondisi para korban yang terdampak dalam peristiwa tersebut.
Selain itu, Danlanal memastikan bahwa oknum prajurit yang diduga terlibat dalam tindakan penganiayaan telah diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan TNI.
“Para pelaku yang diduga melakukan penganiayaan sudah diproses di pengadilan militer sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.
Sebagain artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Kronologi Oknum TNI AL Diduga Aniaya Warga dan Guru di Talaud Sulut, Korban Dikeroyok Usai Menegur.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang