Psikolog Jelaskan Akar Kekerasan Seksual, dari Pola Asuh hingga Lingkungan

kekerasan seksual, empati, Psikolog Jelaskan Akar Kekerasan Seksual, dari Pola Asuh hingga Lingkungan, Penyebabnya bukan satu faktor, Pengaruh lingkungan dan cara pandang tentang laki-laki, Kurangnya empati sejak kecil, Kebiasaan kecil di rumah ikut membentuk cara berpikir, Pentingnya mengenalkan batasan sejak dini, Peran orangtua dalam menghadapi pengaruh lingkungan, Perubahan bisa dimulai dari rumah

Kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan terus berulang dan menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat.

Masalah ini bukan muncul secara tiba-tiba, tetapi terbentuk dari cara anak dibesarkan dan lingkungan yang memengaruhinya sejak kecil.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan bahwa perilaku ini tidak bisa dijelaskan hanya dari satu penyebab.

Dalam wawancara dengan pada Selasa (14/4/2026), Danti menjelaskan bahwa akar masalahnya saling berkaitan dan sering tidak disadari sejak awal.

Penyebabnya bukan satu faktor

Danti menjelaskan bahwa kekerasan seksual perlu dilihat dari berbagai sisi, bukan hanya satu faktor.

Dalam banyak kasus, ada beberapa hal utama yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah rasa bahwa diri sendiri lebih penting dari orang lain.

laki yang terbiasa merasa keinginannya harus dipenuhi bisa tumbuh dengan cara pandang seperti itu.

Kondisi ini membuat orang lain tidak dilihat sebagai individu yang harus dihargai.

Pengaruh lingkungan dan cara pandang tentang laki-laki

kekerasan seksual, empati, Psikolog Jelaskan Akar Kekerasan Seksual, dari Pola Asuh hingga Lingkungan, Penyebabnya bukan satu faktor, Pengaruh lingkungan dan cara pandang tentang laki-laki, Kurangnya empati sejak kecil, Kebiasaan kecil di rumah ikut membentuk cara berpikir, Pentingnya mengenalkan batasan sejak dini, Peran orangtua dalam menghadapi pengaruh lingkungan, Perubahan bisa dimulai dari rumah

Ilustrasi orangtua dan anak. Psikolog mengungkap bahwa kekerasan seksual tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari pola asuh, lingkungan, dan cara anak memahami emosi sejak kecil.

Lingkungan juga berperan besar dalam membentuk perilaku.

Banyak anak laki-laki diajarkan bahwa mereka harus kuat, dominan, dan tidak boleh menunjukkan emosi.

Cara pandang ini bisa membuat mereka merasa perlu menunjukkan kekuasaan. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa muncul dalam bentuk perilaku yang merugikan orang lain.

Kurangnya empati sejak kecil

Faktor lain yang penting adalah kurangnya empati.

Anak yang tidak diajarkan memahami perasaan orang lain akan sulit menyadari dampak dari tindakannya.

Danti menekankan bahwa empati perlu diajarkan sejak dini. Tanpa empati, seseorang bisa tidak menyadari bahwa tindakannya menyakiti orang lain.

Kebiasaan kecil di rumah ikut membentuk cara berpikir

Masalah ini sering dimulai dari hal sederhana di rumah.

Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan bisa membentuk cara pandang yang tidak setara.

Contohnya, ketika anak perempuan diminta membantu pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki tidak.

Kebiasaan lain seperti membiarkan perilaku kasar dengan alasan “anak laki-laki memang begitu” juga bisa berdampak.

Komentar tentang tubuh perempuan di depan anak juga bisa membentuk cara pandang yang salah.

Pentingnya mengenalkan batasan sejak dini

Danti menekankan bahwa anak perlu belajar tentang batasan sejak kecil. Anak perlu memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri.

Pengalaman ini membantu anak menghargai batasan orang lain.

orangtua bisa memberi contoh sederhana, seperti meminta izin sebelum meminjam barang milik anak.

Cara ini membantu anak memahami arti menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Peran orangtua dalam menghadapi pengaruh lingkungan

Lingkungan luar tidak selalu bisa dikontrol, tetapi orangtua tetap memiliki peran penting.

Saat anak mendapat pengaruh yang kurang baik, orangtua sebaiknya tidak langsung memarahi.

Danti menyarankan agar orangtua mengajak anak berdiskusi. Tujuannya agar anak memahami dampak dari suatu perilaku.

Memberikan contoh yang baik di rumah juga membantu anak membentuk nilai yang sehat.

Perubahan bisa dimulai dari rumah

Mendidik anak laki-laki di masa sekarang memang tidak mudah.

Namun, hal penting yang perlu dibangun adalah kemampuan memahami emosi dan menghargai orang lain.

Anak yang memiliki empati dan sikap menghargai cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Kasus kekerasan seksual tidak hanya soal pelaku dan korban, tetapi juga tentang bagaimana nilai dibentuk sejak kecil.

Perubahan bisa dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang