Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian Santri di Kubu Raya, Dugaan Kekerasan Belum Dipastikan

Pontianak, Kalimantan Barat, Kubu Raya, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian Santri di Kubu Raya, Dugaan Kekerasan Belum Dipastikan

Polres Kubu Raya masih menelusuri penyebab kematian IZA, santri Pesantren Labbaik Indonesia, yang meninggal dunia.

Korban wafat setelah menjalani perawatan di RSU Santo Antonius Pontianak, Kalimantan Barat, pada Jumat (1/3/2026) pagi.

IZA sudah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak Kamis (12/3/2026).

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah muncul lebam dan luka di wajah korban.

Polisi hingga kini belum bisa memastikan apakah kematian IZA disebabkan oleh dugaan kekerasan atau faktor lain.

Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, mengatakan bahwa korban masih di bawah 17 tahun.

"Sampai saat ini Polres Kubu Raya masih melakukan pemeriksaan maraton terhadap saksi-saksi yang ada di lembaga pendidikan tersebut," ujar Ade saat dihubungi Kompas.com, Jumat.

"Jadi yang disampaikan, kami masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap sebab-sebab korban itu mengalami luka lebam," tambahnya.

Instruksi Kapolres Kubu Raya

Ade menyampaikan, Kapolres Kubu Raya AKBP Wahyu Jati Wibowo sudah memberikan instruksi agar Unit Reserse melakukan pemeriksaan secara intensif terkait kematian IZA.

Pihak-pihak yang akan diperiksa antara lain pengasuh di lembaga pendidikan tempat korban menempuh studi dan teman-temannya. Namun, petugas belum bisa memeriksa orangtua korban karena masih dalam kondisi berduka.

"Nanti setelah itu semua selesai, visum juga selesai, nanti baru kita bisa menyimpulkan. Apa penyebab-penyebab meninggalnya korban," imbuh Ade.

Ia menambahkan, Kapolres Kubu Raya juga memberi perhatian khusus dalam kasus ini, terutama terkait proses pemulangan jenazah dari Kubu Raya ke Kayong Utara, domisili asal korban.

Di sisi lain, Unit PPA Polres Kubu Raya juga sudah mendatangi rumah sakit tempat korban dirawat terakhir kali untuk membantu proses pemulangan jenazah.

"Itu yang akan kita lakukan juga. Melakukan koordinasi dengan keluarga korban, orangtuanya dan keluarga-keluarga lainnya bahwa kasus ini tetap berjalan," terang Ade.

"Kami dari Polres, dari pihak kepolisian belum pernah menyatakan atau mengeluarkan statement bahwa korban itu meninggal karena penganiayaan. Semuanya masih dalam proses penyelidikan," pungkasnya.

Kata Pihak Keluarga soal Kondisi Korban Sebelum Meninggal

Sebelumnya, pihak mengetahui kondisi IZA setelah pesantren menghubungi orangtua dan menyampaikan bahwa putra mereka mengalami reaksi alergi terhadap obat parasetamol.

Orangtua korban, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, kemudian berangkat dari Kabupaten Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memeriksa kondisi putranya.

Namun, mereka dikejutkan dengan kondisi korban yang berbeda dengan penjelasan pihak pesantren.

"Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi," ujar Ahmad, dikutip dari TribunPontianak, Jumat (13/3/2026).

Dari foto yang beredar, korban mengalami pembengkakan di bagian mata hingga hampir tertutup.

Selain itu, ada pula memar dengan warna kehitaman di area mata dan pipi, sedangkan kondisi kening terdapat benjolan berukuran besar.

Berdasarkan kondisi IZA, pihak keluarga menduga bahwa korban meninggal karena kekerasan.

"Dokter mengatakan ada trauma di kepala," kata Ahmad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang