Misteri Kematian Mahasiswi Manado, Keluarga Serahkan Bukti Dugaan Pelecehan Oknum Dosen

pelecehan seksual, kematian AEM, Misteri Kematian Mahasiswi Manado, Keluarga Serahkan Bukti Dugaan Pelecehan Oknum Dosen

Pihak keluarga mahasiswi di Manado berinisial AEM, yang ditemukan meninggal dunia di sebuah tempat kos di Tomohon pada Desember 2025, mendatangi Mapolda Sulawesi Utara (Sulut) pada Rabu (7/1/2026).

Kedatangan keluarga didampingi tim kuasa hukum bertujuan untuk memberikan keterangan tambahan sekaligus menyerahkan bukti baru terkait dugaan kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami korban sebelum ditemukan tewas.

Kejanggalan di Balik Kematian Korban

Pihak keluarga meyakini bahwa kematian AEM bukan disebabkan oleh tindakan bunuh diri.

Keyakinan ini didasari oleh sejumlah temuan di lapangan, mulai dari hilangnya bukti rekaman CCTV di lokasi kejadian hingga adanya luka fisik pada tubuh korban.

"Hilangnya bukti CCTV, luka di tubuh korban, serta keterangan saksi memperkuat keyakinan kami bahwa ini bukan bunuh diri, melainkan korban tindak kejahatan," ujar tim kuasa hukum keluarga.

Ibu korban, S, mengenang putrinya sebagai sosok yang penuh semangat dan optimistis menyambut masa depan. Sebelum kejadian, AEM sempat berjanji akan segera menyelesaikan studinya dan membahagiakan orangtua.

"Saat menelepon saya selalu ia katakan: 'Mama tinggal satu langkah lagi, banyak berdoa, kita akan wisuda. Kita akan kasih kebanggaan buat Mama. Mama harus langsing supaya bagus pakai baju saat saya wisuda nanti'," ungkap S dengan penuh haru di Mapolda Sulut, Rabu (7/1/2026).

Bukti Chat dan Dugaan Pelecehan oleh Oknum Dosen

Kuasa hukum keluarga, Niczem Alfa Wengen, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyerahkan bukti tambahan berupa tangkapan layar percakapan (chat) di sebuah grup.

Dalam pesan tersebut, almarhumah sempat menceritakan dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen berinisial DM.

"Bukti ini sebagai bahan tambahan bagi penyidik untuk mengambil keterangan para saksi. Terinformasi, hingga saat ini DM masih mengelak melakukan pelecehan tersebut," kata Niczem.

Niczem menegaskan komitmennya untuk mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi korban dan keluarga.

Pengakuan Saksi: Korban Sempat Dibawa ke Area Pemakaman

Selain bukti percakapan, tim kuasa hukum juga mengungkap kesaksian krusial dari salah satu saksi yang melihat kondisi korban pada 29 Desember 2025.

Saksi tersebut melihat AEM kembali ke kos dalam keadaan menangis dan terdapat luka di bagian kaki.

"Saksi bertanya, kenapa menangis? AEM menjawab ia diturunkan oleh oknum dosen tersebut di pinggir jalan dekat lorong," tutur Niczem menceritakan kembali keterangan saksi.

Berdasarkan pengakuan korban kepada saksi saat itu, oknum dosen DM diduga sempat membawa korban ke sebuah area pekuburan dan mencoba melakukan tindakan tidak terpuji.

"Katanya oknum dosen itu ingin melakukan hal tidak baik pada dirinya, dan almarhumah sempat dibawa ke pekuburan," tambah Niczem.

Hingga saat ini, kasus kematian mahasiswa tersebut masih dalam proses penyidikan intensif oleh Polda Sulawesi Utara untuk mengungkap penyebab pasti kematian serta kebenaran di balik dugaan pelecehan yang dilaporkan keluarga.

Artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Sebelum Evia Ditemukan Tewas Tak Wajar di Kos, Ternyata Mahasiswi Unima Itu Dibawa Dosennya ke Kubur

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang