Kekerasan Seksual via Grup Chat, Psikolog: Notifikasi HP Bisa Jadi Pemicu Trauma Korban

Gelombang kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan IPB University menunjukkan satu benang merah yang mengkhawatirkan, yaitu penyalahgunaan teknologi digital untuk melanggengkan pelecehan secara kolektif.
Jika di ranah luring kekerasan sering kali terjadi secara tertutup, kasus di tiga kampus besar ini menunjukkan pola serangan sistematis di ruang digital.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menegaskan bahwa fenomena ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar "obrolan kasar" di media sosial.
"Apalagi jika disertai relasi kuasa atau mobbing digital," tegas Danti kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Bahaya relasi kuasa
Berdasarkan analisis psikologi, alasan mengapa kasus-kasus ini terus berulang terletak pada relasi kuasa yang timpang.
Mengacu pada Teori Basis Kekuasaan, pelaku sering kali memanfaatkan posisi mereka untuk menciptakan hambatan bagi korban.
Melalui kekuasaan koersif (coercive power), korban dihantui rasa takut akan konsekuensi akademik, seperti nilai buruk atau pengucilan sosial jika berani bersuara.
Sering kali, lingkungan sekitar melakukan gaslighting institusional. Tindakan pelecehan dilabeli sebagai "bercanda" atau "salah paham," sehingga korban meragukan realitas traumanya sendiri.
Menurut Danti, salah satu poin yang paling menonjol dalam kasus di UI dan IPB adalah keterlibatan kelompok dalam grup percakapan. Danti menyebut hal ini sebagai mobbing digital, di mana dinamika kekerasan berubah dari individu menjadi sistemik.
Dalam ruang gelap digital ini, terjadi fenomena deindividuasi. Anggota grup merasa identitas mereka melebur dan kehilangan tanggung jawab moral karena merasa anonim.
Ditambah lagi dengan Bystander Effect Digital, di mana anggota lain yang hanya menyimak (diam) sebenarnya sedang memberikan "persetujuan massal" yang melukai mental korban.
Dampak bagi korban: penjara tanpa dinding
Dampak yang dialami korban dalam kasus kekerasan seksual digital ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Danti menyoroti karakteristik unik dari pelecehan via chat atau grup chat yang membuat trauma terasa omnipresent atau hadir setiap saat.
Ponsel, yang merupakan benda paling privat, justru menjadi pintu masuk bagi serangan. Hal ini mengakibatkan korban mengalami:
- Invasi ruang privat: Tidak ada tempat bersembunyi. Setiap kali notifikasi ponsel berbunyi, korban bisa mengalami hipervigilansi atau kewaspadaan berlebih.
- Learned helplessness: Kondisi di mana korban merasa usaha apa pun untuk melawan adalah sia-sia karena serangan datang secara kolektif.
- Betrayal trauma: Luka mendalam karena dikhianati oleh lingkungan yang seharusnya menjadi tempat belajar yang aman.
Danti menekankan bahwa efek jangka panjang dari pola kekerasan ini dapat memicu depresi hingga PTSD. Ia juga meluruskan persepsi publik yang sering menyudutkan korban karena tidak langsung melapor.
"Pelecehan seksual secara kelompok dan adanya indikasi relasi kuasa dalam ruang digital, adalah bentuk kekerasan yang sangat melumpuhkan. Diamnya korban bukanlah tanda persetujuan, melainkan tanda dari sistem pertahanan diri di tengah ketidakseimbangan kekuasaan yang ekstrem," ujar Danti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang