Peta Zona Rawan Banjir di Aceh: 6 Kabupaten Siaga dan Ribuan Warga Terdampak

bencana hidrometeorologi, zona rawan banjir di Aceh, Zona rawan banjir, bencana di Indonesia, zona rawan banjir, Peta Zona Rawan Banjir di Aceh: 6 Kabupaten Siaga dan Ribuan Warga Terdampak, Banjir Lhokseumawe rendam 43 gampong, Aceh Barat: DAS Krueng Woyla dan Meureubo Meluap, Aceh Utara: 17 kecamatan terendam, status siaga darurat, Banjir meluas ke Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Bireuen

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat zona rawan banjir di Aceh kembali meluas.

BNPB menyebut ini menjadi bagian dari rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia pada akhir November 2025.

Dalam periode pemantauan Rabu (26/11/2025) hingga Kamis (27/11/2025) pukul 07.00 WIB, banjir berulang dan luapan sungai berdampak pada puluhan gampong dan lebih dari 15 kecamatan di sejumlah kabupaten di Aceh yang saat ini berada dalam status siaga.

Banjir Lhokseumawe rendam 43 gampong

Bencana hidrometeorologi pertama yang dilaporkan BNPB adalah banjir di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah setempat secara terus-menerus sejak Senin (24/11/2025) sekitar pukul 04.35 WIB.

Dikutip dari BNPB, Kamis (27/11/2025), curah hujan yang berlangsung lama membuat debit air meningkat signifikan, sehingga merendam permukiman warga di empat kecamatan yang masuk zona rawan banjir di Aceh.

Genangan air dilaporkan meluas ke 43 gampong dengan wilayah terdampak paling luas berada di Kecamatan Banda Sakti, yang mencakup gampong berikut Gampong Tumpok Teungoh, Simpang Empat, Lhokseumawe, Pusong Baru, Kampung Jawa Baru, Banda Masem, Hagu Barat Laut, Hagu Selatan, Hagu Teungoh, Kampung Jawa Lama, Keude Aceh, Kuta Blang, Lancang Garam, Mon Geudong, Pusong Lama, Ujong Blang, Ulee Jalan, hingga Uteun Bayi.

Banjir juga menggenangi Kecamatan Blang Mangat yang, meliputi Mesjid Punteut, Blang Punteut, Kumbang Punteut, Rayeuk Kareung, Asan Kareung, Mane Kareung, Blang Buloh, Blang Weu Baroh, Alue Lim, Baloi, Blang Cut, dan Blang Teue.

Sementara itu, Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu ikut terdampak di gampong Panggoi, Paya Bili, Uteun Kot, Blang Poroh, Mns Mee, Cot Girek, Paya Punteut, Mns Alue, Mns Mesjid, Padang, Cot Tring, Paloh Dayah, Ujong Pacu, dan Blang Pulo.

Hingga saat ini sekitar 100 kepala keluarga dilaporkan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

BPBD Kota Lhokseumawe melakukan kaji cepat, membuka posko siaga, menyiapkan dapur umum, dan berkoordinasi dengan Damkar, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat untuk penanganan banjir yang belum surut.

Aceh Barat: DAS Krueng Woyla dan Meureubo Meluap

Zona rawan banjir di Aceh juga meluas ke Kabupaten Aceh Barat.

Banjir di daerah ini dipicu hujan berintensitas tinggi yang menyebabkan debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Woyla dan Meureubo meningkat dan akhirnya meluap pada Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 10.00 WIB.

Luapan sungai merendam permukiman warga di empat kecamatan dengan sebaran mencapai 16 gampong.

Wilayah yang terdampak di Kecamatan Sungai Mas, meliputi Gampong Kajeng, Geudong, Lancong, Tungkop, Leubok Beutong, Gleng, Gunong Buloh, dan Gaseu.

Di Kecamatan Arongan Lambalek, banjir menggenangi Gampong Teupin Peuraho.

Kecamatan Woyla Timur terdampak di Gampong Seuradeuk, Pasi Ara, Rambong, dan Baro.

Kecamatan Pante Ceureumen melaporkan banjir di Gampong Canggai, Keutambang, dan Seumantok.

Banjir mengganggu mobilitas warga, menutup sebagian akses jalan, dan memaksa sedikitnya 183 kepala keluarga terdampak dan 33 kepala keluarga mengungsi.

Sebanyak 183 unit rumah terendam, satu kantor camat dan dua akses jalan terdampak sehingga tidak berfungsi normal.

BPBD Kabupaten Aceh Barat mengerahkan tim menggunakan perahu karet untuk evakuasi warga di kecamatan Sungai Mas serta mendirikan dapur umum di Gampong Geudong dan Gampong Tungkop.

Penanganan dilakukan dalam kerangka status siaga bencana hidrometeorologi yang telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Aceh Barat Nomor 98 Tahun 2025, berlaku 12 September hingga 31 Desember 2025.

Aceh Utara: 17 kecamatan terendam, status siaga darurat

Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu zona rawan banjir di Aceh dengan dampak luas dan kompleks.

Banjir di wilayah ini dipicu hujan berintensitas sedang hingga lebat sejak 20 November 2025 setelah hujan merata pada 19 November, dengan durasi antara 3-10 jam.

Curah hujan tinggi diperparah sistem drainase yang tersumbat, kapasitas saluran yang tidak memadai, dan limpasan air dari kawasan perbukitan, sehingga menggenangi permukiman, fasilitas umum, tambak, lahan pertanian, dan akses jalan.

Banjir itu tercatat berdampak pada 17 kecamatan dengan total 130 gampong.

Wilayah yang terdampak antara lain Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktya, Muara Batu, Langkahan, Syamtalira Aron, Samudera, Baktya Barat, Lapang, Dewantara, Matangkuli, Banda Baro, Lhoksukon, Pirak Timu, Sawang, dan Nibong.

Secara keseluruhan, 2.668 kepala keluarga atau 4.441 jiwa terdampak, sementara 1.270 kepala keluarga atau 3.507 jiwa mengungsi.

Kerusakan material meliputi 2.668 unit rumah terdampak dengan rincian tiga unit rusak berat, 17 unit rusak sedang, enam unit rusak ringan, satu ruas jalan utama mengalami abrasi, sekitar 420 hektare lahan sawah terendam, serta 571 unit tambak di 15 gampong di Kecamatan Seunuddon tenggelam.

Penanganan dilakukan melalui siaga Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Aceh Utara yang bekerja berdasarkan Status Siaga Darurat dalam Keputusan Bupati Aceh Utara Nomor 360/845/2025, berlaku 23 November 2025 hingga 15 Januari 2026.

Kebutuhan mendesak yang diidentifikasi, antara lain alat berat untuk normalisasi aliran air, bahan makanan pokok, dan bantuan logistik lainnya.

Banjir meluas ke Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Bireuen

Di Kabupaten Aceh Timur, banjir kembali terjadi setelah sebelumnya sempat surut.

Hujan deras sejak 20 November 2025 disertai angin kencang membuat sejumlah sungai meluap dan menggenangi pemukiman, sarana umum, dan infrastruktur dasar dengan tinggi air antara 10-40 sentimeter.

Dampak banjir meluas ke 17 kecamatan dengan 124 gampong terdampak, di antaranya Kecamatan Simpang Ulim, Nurussalam, Madat, Julok, Pante Bidari, Indra Makmur, Ranto Peureulak, Birem Bayeun, dan Sungai Raya.

Sebanyak 7.972 kepala keluarga atau 29.706 jiwa terdampak, dengan 920 kepala keluarga atau 2.456 jiwa mengungsi ke masjid, meunasah, dan rumah kerabat.

Sedikitnya 7.972 rumah terendam, dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dua fasilitas ibadah dan tiga fasilitas pendidikan terdampak, dua akses jalan terputus, satu jembatan rusak, dan satu kedai rusak berat.

Di Kabupaten Aceh Singkil, banjir dari luapan Sungai Lae Cinendang merendam permukiman di tujuh kecamatan setelah hujan intensitas tinggi sejak 19 November 2025.

Jumlah terdampak mencapai 6.579 kepala keluarga atau 25.827 jiwa, dengan 684 kepala keluarga mengungsi.

Sekitar 6.000 rumah terendam, disertai kerusakan fasilitas pendidikan, ibadah, kesehatan, dan jaringan jalan, termasuk jalur penghubung antardesa dan jalan nasional di Kecamatan Singkil Utara dan Danau Paris.

BPBD Kabupaten Aceh Singkil memperkuat respons darurat dengan asesmen lanjutan, penyediaan sarana evakuasi, dan penanganan dalam kerangka status siaga bencana hidrometeorologi yang masih berlaku hingga akhir Desember 2025.

Di Kabupaten Bireuen, banjir sejak Minggu (23/11/2025) pukul 02.00 WIB berdampak pada tiga kecamatan dan empat gampong, yakni Kecamatan Makmur (Gampong Ulee Glee, Leube Me, Ara Lipeh), Kecamatan Samalanga, dan Kecamatan Gandapura (Gampong Lhok Mambang).

Sebanyak 956 kepala keluarga atau 2.272 jiwa terdampak, dan 40 kepala keluarga atau 100 jiwa terancam terisolasi seiring akses jalan yang mulai tertutup air.

Sebanyak 12 rumah tergenang, 20 rumah terancam terisolir, dengan tinggi muka air 20-30 sentimeter dan akses ke perkebunan warga serta sejumlah jalan desa belum dapat dilalui normal.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang