Status Gunung Ile Lewotolok di NTT Naik ke Level Siaga, Ribuan Kali Erupsi dalam 15 Hari

Gunung, erupsi, Status Gunung Ile Lewotolok di NTT Naik ke Level Siaga, Ribuan Kali Erupsi dalam 15 Hari

Badan Geologi resmi menaikkan status aktivitas Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Petugas Pemantau Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan terkini dari pos pengamatan, peningkatan status tersebut mulai berlaku Minggu (18/1/2026) pukul 11.00 Wita.

"Kenaikan status itu terjadi karena jumlah kejadian erupsi semakin meningkat tajam dari hari ke hari," ujarnya dilansir dari Antara.

Erupsi Ribuan Kali Sejak Awal Januari 2026

Stanislaus menjelaskan, gunung api yang pernah meletus pada 2020 hingga menyebabkan ribuan warga mengungsi itu, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 4 Januari 2026.

Pada tanggal tersebut, erupsi menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 300 meter di atas puncak. Aktivitas kemudian terus meningkat hingga pertengahan Januari.

Puncak peningkatan aktivitas terjadi pada 13 Januari 2026, ketika terekam 341 kejadian gempa erupsi. Pada hari yang sama, petugas juga mulai mengamati aliran lava keluar dari kawah, yang sebelumnya masih berada di dalam kawah.

Berdasarkan catatan kegempaan periode 1–15 Januari 2026, terdeteksi ribuan aktivitas pada Gunung Ile Lewotolok, meliputi:

  • 2.713 kali gempa erupsi
  • 4.391 kali gempa embusan
  • 5 kali gempa guguran
  • 834 kali tremor non-harmonik
  • 7 kali gempa hybrid
  • 13 kali gempa vulkanik dangkal
  • 25 kali gempa vulkanik dalam
  • 8 kali gempa tektonik lokal
  • 8 kali gempa tektonik jauh

Sementara itu, pada periode 16–18 Januari 2026 sejak pukul 06.00 Wita, tercatat tambahan 831 gempa erupsi, 925 gempa embusan, serta 1 gempa vulkanik dalam.

Kondisi Visual Gunung Ile Lewotolok

Secara visual, Gunung Ile Lewotolok terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang, membumbung setinggi 20–200 meter dari puncak.

Kolom erupsi tercatat mencapai 200–500 meter di atas puncak, dengan warna putih, kelabu, hingga hitam. Lontaran material erupsi terpantau sejauh 300 meter dari pusat erupsi dan keluar kawah ke arah tenggara.

Aktivitas erupsi juga disertai suara gemuruh lemah hingga sedang. Selain itu, terjadi guguran material meski jarak dan arahnya tidak teramati secara visual.

Adapun aliran lava terpantau mengalir ke sektor barat dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir kawah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang