Banjir Lombok Renggut Korban Jiwa, 1.711 Warga Terdampak dan Rendam Ratusan Rumah
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal menginstruksikan seluruh perangkat daerah terkait untuk bergerak cepat menangani dampak banjir yang melanda Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah pada Selasa (13/1/2026) malam.
Penanganan difokuskan pada keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan dasar, serta percepatan respons di lapangan agar dampak bencana tidak meluas.
Instruksi tersebut disampaikan Gubernur kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB, serta Dinas Kesehatan NTB.
Seluruh instansi diminta bekerja secara terpadu dengan pemerintah kabupaten dan unsur lainnya guna memastikan masyarakat terdampak tertangani dengan baik.
Bagaimana arahan Gubernur NTB dalam penanganan banjir?
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan Gubernur Lalu Muhammad Iqbal menekankan pentingnya penanganan yang cepat, tepat, dan terukur. Prioritas utama adalah keselamatan masyarakat agar tidak ada korban jiwa akibat bencana.
"Gubernur meminta seluruh perangkat daerah terkait memastikan langkah-langkah darurat berjalan, serta semua upaya yang bisa dilakukan untuk meringankan beban warga terdampak segera dilaksanakan," ucap Ahsanul Khalik di Mataram, Rabu (14/1/2026) dikutip dari Antara.
Menurutnya, langkah awal yang telah dilakukan pemerintah provinsi adalah memperkuat koordinasi antara BPBD NTB dengan BPBD Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah.
"Personel TRC-PB, unsur TNI/Polri, aparatur desa dan kecamatan, serta masyarakat turut dilibatkan untuk memastikan respons di lapangan berjalan optimal," kata Ahsanul Khalik.
Seberapa besar dampak banjir di Lombok Barat dan Lombok Tengah?
Berdasarkan laporan terbaru dari BPBD NTB, banjir di Lombok Barat mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Korban tercatat atas nama Ibu NR (69), warga Kecamatan Sekotong.
Di wilayah Lombok Barat, banjir terjadi di Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong. Sebanyak 570 kepala keluarga (KK) atau 1.711 jiwa terdampak, dan hingga laporan terakhir kondisi genangan air di sejumlah titik masih belum sepenuhnya surut.
Sementara itu, di Kabupaten Lombok Tengah, banjir melanda Kecamatan Praya Barat Daya yang mencakup Desa Montong Ajang dan Desa Kabul. Lokasi terdampak juga bertambah di Kecamatan Praya Barat, tepatnya di Desa Selong Belanak.
Rincian sementara dampak banjir di Lombok Tengah antara lain:
- Desa Montong Ajang: 50 KK terdampak dengan 50 unit rumah terendam.
- Desa Kabul: 250 KK terdampak dengan 250 unit rumah terendam.
- Desa Selong Belanak: pendataan masih berlangsung oleh tim di lapangan.
"Personel BPBD, Tagana, dan tenaga kesehatan diperintahkan untuk siaga penuh. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat tertangani dengan baik, dan keselamatan warga menjadi yang utama," kata Ahsanul Khalik.
Mengapa potensi cuaca ekstrem di NTB masih perlu diwaspadai?
Di tengah upaya penanganan banjir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat NTB untuk mewaspadai potensi angin kencang.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB, Satria Topan Primadi, menyebutkan kecepatan maksimum angin permukaan dapat mencapai 40 kilometer per jam.
"Arah angin bertiup dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan maksimum 40 kilometer per jam," kata Satria di Mataram, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, angin kencang dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer, antara lain keberadaan pusat tekanan rendah di Samudera Hindia selatan perairan NTB serta penguatan Monsun Asia. Kondisi ini menyebabkan aliran massa udara semakin kuat dan meningkatkan kecepatan angin permukaan.
"Tekanan udara di NTB hari ini sekitar 1.008 sampai 1.011 milibar," ujarnya.
BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi dengan ketinggian dapat mencapai dua meter atau lebih di seluruh perairan NTB. Gelombang kategori sedang tersebut berisiko bagi perahu nelayan dan kapal tongkang.
"Bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir serta pengguna jalur terbuka seperti jalan bypass, dimohon agar selalu waspada terhadap potensi angin kencang, gelombang tinggi, dan dampak lanjutan lainnya," kata Satria Topan Primadi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang