Ahli Geologi Unsoed Ingatkan Warga Barlingmascakeb Waspadai Ancaman Tanah Longsor di Zona Rawan
Musim hujan yang masih intens membuat wilayah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb) kembali menghadapi risiko tanah longsor.
Dua kejadian besar longsor Cilacap dan Banjarnegara, menjadi peringatan keras atas adanya ancaman bencana tanah longsor tersebut.
Dua kejadian bencana itu menyita perhatian nasional karena jumlah korban meninggal di masing-masing lokasi mencapai lebih dari 20 orang.
Situasi ini menegaskan bahwa kawasan rawan longsor tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga keselamatan warga secara langsung.
Zona Merah Kawasan Bencana, Potensi Longsor Sangat Tinggi
Menurut Dr. Indra Permanajati, ahli geologi Fakultas Teknik Unsoed, lokasi longsor di Majenang dan Situkung sejak lama tergolong zona merah dan zona kuning rawan bencana.
"Artinya, secara geologi, potensi longsor di kawasan itu sangat tinggi," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (21/11/2025).
Ia menekankan bahwa bencana sebenarnya dapat diminimalisasi bila langkah mitigasi dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
"Yang harus dipikirkan ke depan adalah bagaimana mitigasi dilakukan secara lebih detail, bukan hanya di level peta zona merah, tapi sampai mengidentifikasi titik-titik longsor dan jalur longsornya," ujar Indra.
Pembelajaran dari longsor Majenang dan Situkung, menurutnya, harus mendorong pemerintah untuk menerapkan peta risiko secara lebih detail.
Tahapannya meliputi identifikasi titik longsor, pemetaan jalur luncuran material, serta penentuan jangkauan pergerakan tanah.
Pendekatan tersebut membutuhkan analisis geologi dan ilmu kebumian untuk memahami karakter tanah serta struktur wilayah secara ilmiah.
Sosialisasi dan Desa Siaga Bencana Jadi Kunci Mitigasi
Setelah data geologi diperoleh, langkah berikutnya adalah sosialisasi kepada warga dan pembentukan desa siaga bencana.
Menurut Dr. Indra, mitigasi tidak boleh berhenti pada kajian teknis saja.
"Desa harus diberi pengetahuan. Apabila masyarakat memahami gejala awal longsor, maka penanganannya bisa cepat, bahkan sebelum bencana terjadi," jelasnya.
Warga di wilayah rawan longsor perlu dilatih memantau kondisi lingkungan setiap saat, termasuk mengenali retakan tanah, pohon miring, munculnya mata air baru, air yang tiba-tiba keruh, hingga pergeseran bangunan.
temuan ini harus segera ditindaklanjuti dengan peringatan dini, pemasangan alat deteksi, atau evakuasi sesuai kondisi lapangan.
Pentingnya Penerapan Alur Mitigasi Berjenjang
Jika alur mitigasi dilakukan berjenjang—mulai dari kajian geologi, edukasi masyarakat, hingga sistem peringatan dini—potensi jatuhnya korban bisa diminimalkan.
"Bukan longsornya yang kita hentikan, karena secara geologi mustahil. Tapi risikonya bisa dikendalikan agar tidak lagi menelan banyak korban," tegas Dr. Indra.
Tragedi Majenang dan Situkung kini menjadi refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan.
Di wilayah Barlingmascakeb, ancaman longsor bukan hanya persoalan alam, tetapi persoalan keselamatan warganya.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Ahli Geologi Unsoed Ingatkan Barlingmascakeb Siaga: Longsor Bisa Diprediksi, Asal Dipantau Serius”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.