Bocor! Draf Kesepakatan Damai Iran-AS Ungkap Sejumlah Poin Sensitif
Media Iran, Mehr, merilis rincian draf nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin antara Teheran dan Washington. Dokumen tersebut mengungkap sejumlah perbedaan signifikan dibandingkan dengan ketentuan yang sebelumnya dilaporkan oleh Axios, terutama terkait pencabutan sanksi, aset Iran yang dibekukan, komitmen rekonstruksi, serta cakupan negosiasi lanjutan.
Menurut kantor berita Mehr, draf tersebut terdiri dari 14 poin dan masih harus melalui peninjauan serta persetujuan akhir dari otoritas terkait di Iran. Kedua versi yang beredar memiliki sejumlah kesamaan dalam tujuan utama yang ingin dicapai.
Namun, terdapat perbedaan penting mengenai bagaimana tujuan tersebut akan diwujudkan. Axios melaporkan adanya perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, termasuk di Lebanon, sambil negosiasi nuklir terus berlangsung.
Sementara itu, draf yang dipublikasikan Mehr menyerukan penghentian permusuhan secara langsung dan permanen di seluruh front, termasuk Lebanon, yang kemudian diikuti oleh 60 hari perundingan untuk mencapai kesepakatan nuklir final.
Perbedaan juga muncul terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Axios menyebut jalur pelayaran strategis itu akan dibuka kembali secara segera tanpa pungutan biaya serta dengan pemulihan volume pelayaran normal. Sebaliknya, versi yang dilaporkan media Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan dilakukan dalam waktu 30 hari dan harus dikoordinasikan dengan Iran.
Pencabutan sanksi menjadi salah satu titik perbedaan terbesar. Menurut Axios, keringanan sanksi dari Amerika Serikat akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap isi kesepakatan. Namun, draf yang diterbitkan Mehr melangkah lebih jauh dengan menyerukan penangguhan sanksi terhadap minyak, produk petrokimia, dan turunannya, pemberian akses penuh terhadap sumber daya keuangan Iran, serta pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder AS.
Selain itu, draf tersebut juga mengusulkan penghapusan berbagai pembatasan terkait yang diberlakukan melalui Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Perlakuan terhadap aset Iran yang dibekukan juga menunjukkan perbedaan mencolok. Axios melaporkan bahwa Iran hanya akan memperoleh akses terhadap sebagian dana yang dibekukan untuk pembelian kebutuhan kemanusiaan melalui mekanisme yang dibahas bersama Qatar. Sebaliknya, draf yang dipublikasikan Mehr mengusulkan pencairan aset Iran yang dibekukan senilai 24 miliar dolar AS selama masa negosiasi 60 hari. Setengah dari jumlah tersebut disebut akan tersedia bahkan sebelum perundingan final dimulai.
Perbedaan besar lainnya berkaitan dengan rekonstruksi dan jaminan pascaperang. Laporan Axios tidak menyinggung bantuan rekonstruksi. Namun, draf yang diterbitkan Mehr menyatakan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya diwajibkan mengajukan rencana pembangunan kembali Iran dengan nilai sedikitnya 300 miliar dolar AS.
Draf versi Iran juga memuat sejumlah ketentuan yang tidak disebutkan dalam laporan Axios, termasuk komitmen AS untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran, menghormati kedaulatan negara tersebut, serta menarik pasukan AS dari wilayah-wilayah di sekitar Iran.
Selain itu, Amerika Serikat juga disebut berjanji tidak akan menambah pengerahan militer di kawasan dan tidak memberlakukan sanksi baru selama proses negosiasi berlangsung. Dalam isu nuklir, kedua versi memiliki beberapa kesamaan. Axios melaporkan adanya kerangka kerja untuk menangani persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran, dengan langkah-langkah lanjutan bergantung pada kesepakatan berikutnya. Sementara itu, draf yang diterbitkan Mehr menyebut Iran akan menegaskan kembali komitmennya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tidak memproduksi senjata nuklir.
Perbedaan yang mungkin paling penting menyangkut cakupan negosiasi di masa depan. Menurut draf yang dipublikasikan Mehr, kesepakatan final hanya akan mencakup material nuklir yang diperkaya, aktivitas pengayaan uranium, pencabutan sanksi, serta program rekonstruksi ekonomi Iran.
Dokumen tersebut secara tegas mengecualikan pembahasan mengenai program rudal Iran maupun dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok yang disebut sebagai kelompok perlawanan. Draf itu juga menyatakan bahwa setiap kesepakatan final nantinya akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB dan akan dibentuk mekanisme pengawasan untuk memastikan implementasinya. Ketentuan tersebut tidak disebutkan dalam laporan Axios.
Mehr menegaskan bahwa teks tersebut masih memerlukan peninjauan dan persetujuan dari otoritas terkait di Iran sebelum dapat diadopsi secara resmi. Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri secara permanen perang antara AS-Israel dan Iran dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini. Pernyataan itu muncul di tengah perkembangan situasi yang berubah sangat cepat.
Pada hari yang sama, Iran menyatakan bahwa bagian utama dari naskah kesepahaman dengan Amerika Serikat telah dirampungkan. Namun, Teheran juga menuduh Washington menghambat kemajuan perundingan karena kerap mengubah posisinya. Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis terhadap sejumlah target di Iran, setelah sebuah helikopter Apache ditembak jatuh di atas Selat Hormuz.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang 18 target militer utama AS, termasuk di Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain, serta sebuah pangkalan yang menjadi lokasi penempatan jet tempur Amerika di Yordania.
Eskalasi terbaru ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan setelah serangan AS terhadap Iran dan keputusan Teheran untuk menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim.