Piala Dunia, Paradoks Messi, dan Seni Menata Kekacauan
DARI kekacauan, sepak bola berkembang jadi sebuah permainan yang punya tatanan.
Kisah chaos dan kontrol selalu jadi bagian sepak bola, termasuk di Piala Dunia 2026.
Sepak bola mula-mula kacau, tak berbentuk. Formasi W-M, 4-4-2, 4-3-3 dengan false nine ala Josep "Pep" Guardiola, atau skema nyeleneh 4-6-0 garapan Vicente Del Bosque masih sangat jauh dari bayangan.
Berbadan kecil dan punya kaki kerempeng? Minggir dulu!
Ini olahraga untuk orang tangguh. Mereka yang dianugerahi otot dan dua kaki kuat boleh main.
Ya, kita sedang bicara sepak bola, bukan rugbi atau binaraga. Majalah lawas The Hunter mendeskripsikan sepak bola pada era 1860-an sebagai aktivitas yang “dimainkan oleh orang-orang dengan otot yang kuat dan kaki yang kuat”.
Orang yang lemah hanya akan menjadi penonton dalam kekacauan itu.
Bakal sulit membayangkan pemilik delapan trofi Ballon d’Or, Lionel Messi, bisa bertahan dalam permainan sepak bola kuno.
“Pada mulanya ada kekacauan, dan sepak bola tidak memiliki bentuk,” beginilah cara Jonathan Wilson membuka buku karyanya yang berjudul Inverting The Pyramid: The History of Football Tactics.
“Kemudian datang era Victoria, yang mengkodifikasikannya, dan setelah mereka para ahli teori, yang menganalisisnya. Baru pada akhir 1920-an taktik dalam pengertian yang menyerupai makna modern mulai diakui atau dibahas, tetapi sejak awal 1870-an sudah ada pengakuan bahwa penempatan pemain di lapangan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap cara permainan dimainkan,” tulis Wilson, jurnalis yang punya pengetahuan ngelotok soal sejarah dan perkembangan taktik sepak bola.
Ragam Persoalan Menuju Piala Dunia 2026
Kekacauan pun terus mengiringi perjalanan sepak bola, variabel yang selalu ada dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda.
Persoalan imigrasi jadi salah satu sorotan menuju Piala Dunia 2026.
Kampiun Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro, yang saat ini bekerja sebagai pelatih timnas Uzbekistan, tak luput dari pemeriksaan begitu turun dari pesawat dan mendaratkan kakinya di Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026.
Si Tembok Berlin -julukan Cannavaro-, itu tetap tertembus oleh inspeksi dan deteksi petugas.
Cannavaro lalu coba meluruskan bahwa tak ada skandal dan perlakuan tak hormat.
Publik tetap saja dibuat heran meski Cannavaro sudah menyebut dirinya menjalani “prosedur standar”.
Klarifikasi juga dibuat oleh timnas Senegal yang menyatakan bahwa pemeriksaan yang mereka jalani di landasan pacu adalah demi efisiensi waktu, supaya bisa mempermudah proses naik ke penerbangan pribadi yang akan membawa mereka dari Raleigh ke San Antonio.
Isu soal imigrasi tak berhenti di situ. Penyerang Irak yang pernah menjebol gawang timnas Indonesia di ronde dua Kualifikasi Piala Dunia 2026, Aymen Hussein, kabarnya harus melalui interogasi tujuh jam dalam pemeriksaan di imigrasi.
Omar Abdulkadir Artan yang berangkat menuju Amerika Serikat dengan harapan bikin sejarah sebagai wasit Somalia pertama yang bertugas di Piala Dunia 2026, malah harus pulang ke negaranya sebelum sempat meniup peluitnya.
Ia tak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat, meski berstatus wasit FIFA. Somalia jadi salah satu negara yang masuk daftar “travel ban” Amerika Serikat.
Dari sisi Amerika Serikat, mereka ingin memastikan keamanan nasional selama Piala Dunia 2026, edisi terbesar dalam sejarah 96 tahun penyelenggaraan dengan total 48 kontestan dan 104 partai.
Pemerintahan Donald Trump mengatakan Omar Abdulkadir Artan ditolak masuk karena hubungannya dengan tersangka anggota organisasi teror.
Ketegangan AS dengan Iran jadi tantangan lain di Piala Dunia 2026.
Iran yang tengah berkonflik dengan AS, harus memindahkan kamp latihan mereka dari Tucson, Arizona ke Tijuana, Meksiko.
pemain Iran baru dapat visa AS beberapa hari jelang pembukaan Piala Dunia 2026, meski mereka dijadwalkan menjalani laga Grup G di Los Angeles dan Seattle.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, meminta untuk “santai dan rileks”. Menurutnya, FIFA tak diam saja dan bekerja di balik layar untuk mencari solusi.
Cerita timnas Jepang beda lagi. Rombongan Samurai Biru harus berpindah lapangan latihan di Meksiko.
Fasilitas milik Tigres UANL tak memuaskan Jepang. Sampai-sampai ada yang bilang di media sosial, Jepang seperti memakai lapangan kelas tarkam Indonesia.
Jepang lalu menempa diri di El Barrial, fasilitas milik rival Tigres, yakni Monterrey, sebelum bertolak ke kamp mereka di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.
Kerusuhan kartel di Jalisco beberapa waktu lalu yang menewaskan El Mencho, lebih dulu memantik keraguan tentang kesiapan Meksiko jadi tuan rumah Piala Dunia 2026.
Di negara seberang, tuan rumah lain, Kanada, kesulitan mengisi penuh stadion-stadion mereka karena harga tiket yang tinggi.
Fan Kanada kabarnya lebih memilih mendukung perjuangan Alphonso Davies dkk via acara nobar daripada datang ke stadion.
Ratusan tiket untuk laga-laga Kanada dikabarkan masih tersedia jelang hari pembukaan Piala Dunia 2026 pada 11 Juni 2026.
Suporter di AS juga bisa kehilangan selera datang langsung ke arena jika melihat berita yang membahas sejumlah laga berpotensi terinterupsi karena hujan badai maupun cuaca ekstrem.
Konsep “Organised Disorder”
Tetapi pesta bernama Piala Dunia 2026 tetap harus berjalan. Ibarat kata undangan sudah kadung disebar.
Jadi tantangan bagaimana cara untuk menciptakan “kontrol” di tengah “chaos”.
Terlepas dari berbagai dinamika yang ada, sepak bola sendiri sudah teruji dan menemukan jalannya sendiri.
Final yang disebut-sebut terhebat sepanjang masa Argentina vs Perancis tercipta setelah Piala Dunia 2022 Qatar diiringi kontroversi seputar kasus Hak Asasi Manusia dan regulasi minuman beralkohol.
Sihir Maradona di Piala Dunia 1986 jadi teman publik Meksiko melalui trauma hebat akibat gempa besar beberapa bulan jelang turnamen.
Saya juga ingat bagaimana Piala Dunia 2006 di Jerman juga jadi hiburan untuk masyarakat Yogyakarta yang tidur di luar berjaga setelah gempa 27 Mei.
Italia kemudian jadi juara Piala Dunia 2006 setelah dihempas skandal besar perwasitan berlabel calciopoli.
Tanpa sedikit pun mengecilkan apa yang terjadi di luar lapangan, sepak bola seperti tak pernah kehilangan peran sebagai sebuah hiburan sekaligus harapan.
Dalam beberapa kesempatan, tim-tim terunggul adalah yang mampu menciptakan “organised disorder” atau kekacauan yang terkendali.
Idiom ini mengemuka ketika Boris Arkadiev membesut Dynamo Moscow pada 1940-an.
Pasukan Arkadiev mengusung sepak bola operan bertajuk “passovotchka”.
Sistem ini begitu mengandalkan kerja sama tim dan kekuatan fisik, dikombinasikan operan cepat nan tajam.
“Mereka bertukar posisi hingga sayap kiri-luar beralih ke sayap kanan dan sebaliknya. Saya belum pernah melihat sepak bola dimainkan seperti itu,” ujar mantan kapten Rangers, Davie Meiklejohn, soal gaya organised disorder ala tim racikan Boris Arkadiev, dikutip dari bab 5 buku Inverting The Pyramid: The History of Football Tactics.
Sang juara bertahan Piala Dunia, Argentina juga membawa spirit identik dalam falsafah sepak bola yang mereka sebut La Nuestra.
La nuestra secara harfiah bermakna “milik kami” atau “gaya bermain kami” yang mulai berkembang di Argentina pada era 1920-an.
Memakai kacamata la nuestra, sepak bola tak cukup hanya soal menang dan mencetak gol.
Proses mencapai kemenangan serta gol harus melibatkan kebebasan bermain, keceriaan, dan tentu saja keindahan.
Elemen Tak Terduga di Lapangan
Argentina asuhan Lionel Scaloni disebut membangkitkan spirit la nuestra ketika jadi juara di Qatar empat tahun silam.
Formasi atau struktur bukanlah sesuatu yang mutlak bagi Argentina besutan Scaloni. Pemain Argentina bergerak menyesuaikan bola.
Analis sepak bola asal Italia, Antonio Gagliardi, menyatakan dalam perjalanan menjuarai Piala Dunia 2022 Argentina menerapkan tujuh struktur berbeda dalam total tujuh pertandingan!
Tak teratur, tapi terkendali, chaos yang terkontrol.
Masih bersama Scaloni sebagai peramu strategi, di Piala Dunia 2026 Argentina terus mencoba jadi tim yang sulit ditebak.
Kreativitas dan visi Messi pun jadi elemen tak terduga, sebuah “chaos” di struktur permainan Tim Tango.
“Tim menunjukkan kedewasaan kolektif dan sistem yang memungkinkannya berfungsi tanpa hanya bergantung pada Messi,” tutur jurnalis media Argentina La Nacion, Andres Eliceche, membalas pesan singkat saya.
Andres, sapaan akrabnya, tahu betul soal seluk beluk sepak bola Argentina dan Messi.
Ia pernah menjelaskan nama Messi salah eja jadi “Leonel Mecci” dalam sebuah pemanggilan pertama ke Timnas Argentina.
“Messi kini menjadi jangkar emosi utama timnas Argentina. Dia tidak lagi menjadi pemain yang paling menentukan, namun pengaruhnya terhadap rekan satu tim, lawan, wasit, dan fan sama pentingnya dengan ketika dia memenangkan pertandingan sendirian.”
Gestur selebrasi kontroversial Messi ke arah bangku cadangan pemain Belanda dan momen tegang dengan Wout Weghorst adalah kepingan “kekacauan” yang melengkapi puzzle juara Piala Dunia 2022.
“Dengan dia di lapangan, rekan satu timnya bermain lebih baik, dan lawan menjadi terintimidasi. Itu adalah kontribusi terbesarnya bagi perjuangan tim,” ujar Andres Eliceche.
Elemen “chaos” pun terus dicari Pep Guardiola, figur yang menyebut Messi sebagai alasan utama sukses dirinya meraih treble dalam tahun pertama berkarier sebagai pelatih profesional di Barcelona pada 2008-2009.
Dalam periode akhirnya jadi pelatih Man City, Guardiola, yang dikenal lewat pendekatan sepak bola penuh kontrol, butuh deretan jago dribel macam Jeremy Doku atau Rayan Cherki untuk menciptakan kekacauan, menempatkan lawan dalam ketidakpastian.
Guardiola bakal membenci orang yang menggiring bola sendiri sejauh 60 meter. Tapi, mereka yang berani ambil risiko dan berimprovisasi di area kotak 16 meter adalah orang yang paling dia cintai.
Evolusi taktik sepak bola sudah barang tentu membuat permainan sebelas lawan sebelas lebih rapi dan tertata, tapi figur kecil penuh fantasi seperti Messi meniupkan nyawa, pemain yang mungkin bakal terpinggir di sepak bola era mula-mula.
Ketika kemajuan teknologi, pengetahuan gizi, asupan data, dan disiplin taktik dinilai membuat sepak bola terasa robotik, potret pemain seperti Messi, datang memberikan sentuhan manusia.
Elemen tak terduga “chaos” memperkaya taktik sepak bola. Tetapi “chaos” di luar lapangan, jelas tak ideal dan jadi kerikil persiapan ajang besar seperti Piala Dunia 2026.
Semoga kepingan “chaos” hanya muncul lagi di atas rumput hijau sebagai bumbu taktik pertandingan, tanpa perlu mengikis spirit mulia permainan.
Biarlah Piala Dunia 2026 jadi pesta yang mempersatukan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang