Tepat 3 Kali Tebak Juara Piala Dunia, Matematikawan Jerman Kini Jagokan Belanda, Ini Perhitungannya
Matematikawan asal Jerman, Joachim Klement, kembali menjadi sorotan menjelang Piala Dunia 2026.
Penyebabnya bukan karena riset matematika terbaru yang ia hasilkan, melainkan karena rekam jejak prediksinya yang nyaris sulit dipercaya.
Dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, Klement dilaporkan berhasil menebak juara dengan tepat.
Ia memprediksi Jerman akan menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil, Perancis menjadi kampiun di Rusia pada 2018, dan Argentina mengangkat trofi di Qatar pada 2022.
Kini, untuk Piala Dunia 2026, Klement menjagokan Belanda sebagai juara.
Bagaimana perhitungan Klement?
Prediksi tersebut disampaikan Klement melalui model statistik yang telah ia kembangkan selama bertahun-tahun.
Menariknya, tujuan awal pembuatan model itu bukan untuk mencari juara dunia, melainkan justru untuk menunjukkan bahwa menebak pemenang turnamen sepak bola sebesar Piala Dunia pada dasarnya hampir mustahil dilakukan.
Namun, hasil yang muncul justru membuatnya terkejut.
"Kali pertama saya benar-benar kaget ketika Jerman menjadi juara dunia di Brasil pada 2014," kata Klement kepada Der Spiegel, sebagaimana dilansir ESPN, Kamis (4/6/2026).
Ia mengingat bagaimana banyak pengamat saat itu meragukan peluang Jerman. Salah satu alasannya adalah fakta bahwa belum pernah ada negara Eropa yang menjuarai Piala Dunia yang digelar di Amerika Selatan.
"Semua pakar saat itu mengatakan tidak ada tim Eropa yang pernah memenangkan Piala Dunia di Amerika Selatan," ujar Klement.
Meski demikian, model yang ia bangun justru menunjuk Jerman sebagai pemenang, dan hasil akhirnya sesuai dengan prediksi tersebut.
Dalam menyusun proyeksi Piala Dunia, Klement tidak hanya melihat kekuatan sepak bola semata.
Modelnya menggabungkan sejumlah variabel yang dianggap berpengaruh terhadap performa sebuah negara di level internasional.
Beberapa faktor yang diperhitungkan antara lain produk domestik bruto (PDB) per kapita yang mencerminkan kualitas infrastruktur olahraga, jumlah penduduk, posisi sepak bola dalam kehidupan sosial masyarakat, peringkat tim nasional di ranking dunia, hingga unsur keberuntungan.
Faktor terakhir itu justru menjadi hal yang paling sering ditekankan oleh Klement.
"Belanda kalahkan Spanyol di semifinal dan Portugal di final"
Berdasarkan simulasi yang ia lakukan untuk Piala Dunia 2026, Belanda diprediksi mengalahkan Spanyol pada semifinal.
Di partai puncak, De Oranje disebut akan mengalahkan Portugal untuk meraih gelar juara dunia pertama dalam sejarah mereka.
Sementara itu, Portugal diproyeksikan melaju ke final setelah menyingkirkan Inggris pada semifinal lainnya.
Meski memiliki rekam jejak yang impresif, Klement mengingatkan publik agar tidak terlalu serius menanggapi prediksinya.
Menurut dia, sepak bola tetap memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi sehingga hasil akhir turnamen tidak pernah bisa dipastikan hanya melalui model statistik.
"Ini sepenuhnya tidak rasional. Sama seperti bermain lotre," kata Klement.
"Saya selalu mengatakan bahwa jika ada orang yang memasang taruhan berdasarkan prediksi saya tentang siapa juara dunia berikutnya, maka orang itu sudah tidak bisa ditolong".
Ia kemudian membandingkan prediksi tersebut dengan lemparan koin.
"Anda mungkin saja memprediksi koin akan jatuh pada sisi gambar empat kali berturut-turut, dan itu memang bisa terjadi. Tetapi hal itu tidak menjamin hasil yang sama akan terjadi lagi pada lemparan berikutnya," jelasnya.
Bagi Belanda, prediksi tersebut tentu menjadi kabar yang menarik. Tim berjuluk De Oranje selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola dunia yang belum pernah menjuarai Piala Dunia.
Belanda tercatat telah mencapai final sebanyak tiga kali, tetapi selalu gagal mengangkat trofi. Mereka menjadi runner-up pada edisi 1974, 1978, dan 2010.
Pada Piala Dunia 2026, tim asuhan Ronald Koeman akan memulai perjuangan mereka dengan menghadapi Jepang pada 14 Juni. Belanda tergabung di Grup F bersama Jepang, Swedia, dan Tunisia.
Apakah prediksi Joachim Klement kembali menjadi kenyataan untuk keempat kalinya, atau justru berakhir kali ini, hanya waktu yang akan menjawab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang