Piala Dunia 2026 Terbesar Sepanjang Sejarah Dihantam Kritik Bertubi-tubi
Piala Dunia 2026 digadang-gadang menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah. Namun di balik kemegahan turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu, muncul suara-suara yang justru meragukan pesonanya.
Untuk pertama kalinya, Piala Dunia akan diikuti 48 negara dengan total 104 pertandingan. Turnamen juga berlangsung lebih panjang, mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, serta digelar di 16 kota yang tersebar di tiga negara.
Di atas kertas, format baru ini terlihat sempurna. Lebih banyak tim, lebih banyak pertandingan, dan lebih banyak kesempatan bagi negara-negara dari berbagai benua untuk tampil di panggung dunia. Namun, tidak semua pencinta sepak bola menyambut perubahan itu dengan antusias.
Bagi sebagian penggemar lama, termasuk mereka yang telah mengikuti Piala Dunia sejak era 1970-an, edisi 2026 justru menimbulkan kekhawatiran. Salah satu alasannya adalah jumlah pertandingan yang dinilai terlalu banyak.
Jika sebelumnya Piala Dunia hanya menyajikan 64 pertandingan, kini angka tersebut melonjak menjadi 104 laga. Situasi itu dikhawatirkan mengurangi eksklusivitas yang selama ini menjadi daya tarik utama ajang empat tahunan tersebut.
Setiap pertandingan Piala Dunia dulu terasa spesial karena jumlahnya terbatas. Kini, banyak pihak khawatir kuantitas justru mengalahkan kualitas.
Kekhawatiran lainnya datang dari jadwal pertandingan. Bagi penonton di Eropa dan sejumlah wilayah lain, banyak laga diprediksi berlangsung hingga dini hari akibat perbedaan zona waktu dengan Amerika Utara.
Belum lagi persoalan cuaca. Beberapa kota tuan rumah dikenal memiliki suhu panas dan tingkat kelembapan tinggi saat musim panas. Kondisi tersebut diprediksi menjadi tantangan tersendiri bagi pemain maupun suporter.
Pada ajang Piala Dunia Antarklub yang digelar di Amerika Serikat sebelumnya, cuaca ekstrem bahkan sempat memengaruhi jalannya pertandingan. Situasi serupa dikhawatirkan kembali terjadi di Piala Dunia 2026.
Selain faktor teknis, isu politik juga menjadi sorotan. Kebijakan visa, ketegangan antarnegara, hingga akses perjalanan bagi pendukung dari negara tertentu berpotensi menjadi tantangan tersendiri selama turnamen berlangsung.
Meski demikian, pesimisme tersebut belum tentu menjadi kenyataan.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa Piala Dunia selalu menghadirkan cerita tak terduga. Dari munculnya tim kejutan, lahirnya bintang baru, hingga momen-momen ikonik yang dikenang sepanjang masa.
Pada akhirnya, sebesar apa pun kritik yang muncul, Piala Dunia tetaplah Piala Dunia. Para penggemar mungkin mengeluh soal format, jadwal, atau jumlah pertandingan. Namun ketika peluit kick-off berbunyi pada Juni tahun depan, miliaran pasang mata dipastikan tetap tertuju ke lapangan hijau.
Soal siapa yang akan menjadi juara, perdebatan sudah mulai bermunculan. Spanyol, Prancis, Inggris, Brasil, dan Argentina disebut sebagai kandidat terkuat.
Namun ada satu nama yang mulai mendapat perhatian khusus, yakni Brasil. Meski performanya belum terlalu meyakinkan dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran pelatih kawakan Carlo Ancelotti membuat Selecao kembali diperhitungkan.
Dengan koleksi lima trofi Liga Champions dan status sebagai satu-satunya pelatih yang pernah menjuarai lima liga top Eropa, Ancelotti diyakini punya kapasitas untuk mengembalikan kejayaan Brasil di panggung terbesar sepak bola dunia.