Suporter Iran Kecewa Masalah Visa Tim Melli di Piala Dunia 2026

Iran, Tim Melli, visa, Piala Dunia 2026, Suporter Iran Kecewa Masalah Visa Tim Melli di Piala Dunia 2026, Masalah visa bayangi kedatangan Iran, Tijuana dipilih di tengah ketegangan politik, Suporter tetap percaya pada Tim Melli, Pengamanan ketat dan kritik terhadap FIFA

Kedatangan tim nasional Iran di Tijuana, Meksiko, pada Minggu (7/6/2026), disambut sekelompok kecil suporter yang tetap menunjukkan antusiasme di tengah polemik visa menjelang Piala Dunia 2026.

Sekitar belasan pendukung hadir di sekitar bandara saat bus pemain Iran meninggalkan lokasi kedatangan.

Salah satu suporter, Sadegh Galavi, mengaku senang bisa menyambut langsung tim nasional negaranya (Tim Melli) di kota tempat ia tinggal.

“Saya sangat senang melihat mereka,” kata Galavi, dikutip dari AFP, Senin (8/6/2026).

Galavi, seorang mekanik yang tinggal di kota perbatasan Amerika Serikat-Meksiko itu, rela bangun sejak fajar demi menyambut kedatangan Tim Melli pada pukul 05.00 waktu setempat.

“Tim nasional saya datang ke kota saya, dan berada di sini adalah hal kecil yang dapat saya lakukan hanya untuk menyambut mereka,” ujarnya.

Galavi datang dengan mengenakan jersey putih Iran dengan aksen hijau dan merah, warna khas tim nasional Iran.

Masalah visa bayangi kedatangan Iran

Kedatangan Iran ke Meksiko berlangsung dalam situasi yang tidak sepenuhnya mudah. Para pemain Iran memang sudah mendapatkan visa untuk masuk ke Amerika Serikat, tempat mereka dijadwalkan menjalani laga fase grup di Los Angeles dan Seattle.

Namun, tidak semua anggota delegasi Iran memperoleh izin serupa.

Sekitar 15 pejabat pendamping disebut ditolak visanya, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj.

Taj diketahui pernah bertugas di Korps Garda Revolusi Islam Iran, lembaga yang ditetapkan Washington sebagai kelompok teroris.

Bagi Galavi, persoalan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola kembali terseret ke dalam ketegangan politik.

“Ini tidak masuk akal bagi saya. Olahraga seharusnya menjadi simbol perdamaian, jadi ketika Anda mencampur politik dan olahraga, itu tidak berhasil,” kata Galavi.

Tijuana dipilih di tengah ketegangan politik

Kontroversi visa menjadi babak terbaru dari perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026, turnamen yang digelar bersama Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Situasi Iran semakin rumit setelah serangan pertama Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari.

Perang tersebut membuat keikutsertaan Tim Melli beberapa kali dipertanyakan.

Belum pernah ada negara peserta Piala Dunia yang datang ke turnamen dalam kondisi berperang dengan salah satu negara tuan rumah.

Teheran juga sempat membiarkan pertanyaan mengenai kemungkinan Iran tampil di Piala Dunia tetap terbuka.

Desakan FIFA akhirnya membuat Iran tetap melanjutkan persiapan mereka menuju turnamen.

Namun, dua pekan sebelum kedatangan tim, Federasi Sepak Bola Iran memutuskan bahwa skuad akan bermarkas di Tijuana, bukan Tucson, Arizona, seperti rencana awal.

Keputusan itu diambil saat ketegangan politik kembali meningkat. Iran akan menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan Mesir pada fase grup.

Tim Melli juga masih mengejar target besar, yakni lolos dari fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.

Suporter tetap percaya pada Tim Melli

Meski berbagai persoalan muncul di luar lapangan, sebagian suporter Iran tetap yakin tim mereka mampu tampil kuat.

Sina Moghadam, warga Iran-Amerika yang datang dari San Diego, mengatakan bahwa tekanan tersebut tidak akan melemahkan Iran.

“Sejarah Iran sudah berlangsung ribuan tahun. Hal-hal seperti ini hanya membuat kita lebih kuat; hal itu tidak akan menggoyahkan tim,” kata Moghadam.

Moghadam datang sambil membawa bendera Iran berukuran besar.

Sebagai mantan pemain yang menyebut dirinya patriot, ia berharap Iran bisa bertemu Amerika Serikat pada fase gugur. Pertemuan itu berpotensi menjadi salah satu laga paling politis dalam turnamen.

“Saya harap mereka akan menghajar tim AS,” kata Moghadam sambil tertawa saat bus pemain menjauh dari lokasi penyambutan.

Pengamanan ketat dan kritik terhadap FIFA

Kedatangan Iran di Tijuana mendapat pengawalan ketat dari kepolisian dan personel militer Meksiko bersenjata lengkap.

Pengamanan juga terlihat di sekitar hotel tempat tim menginap dan pintu masuk Estadio Caliente, lokasi latihan Iran.

Kondisi itu membuat Hossein Nikyar, suporter Iran yang datang dari Los Angeles bersama putranya, merasa sedikit lebih tenang.

“Lebih aman bagi mereka berada di sini daripada di Los Angeles, karena banyak orang Iran di LA adalah pendukung monarki yang ingin menggulingkan pemerintah,” kata Nikyar.

Nikyar sudah memiliki tiket untuk menyaksikan laga Iran di Los Angeles. Namun, ia mengaku kecewa melihat situasi politik yang membayangi turnamen bahkan sebelum pertandingan dimulai.

“FIFA mengeklaim bahwa tidak ada politik dalam Piala Dunia, dan semuanya tentang permainan sepak bola yang adil,” ujar Nikyar.

“Tetapi kenyataannya, kita melihat bahwa itu tidak benar,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang