Harga Tiket hingga Isu Politik, Ini Kontroversi yang Membayangi Piala Dunia 2026

Pemain bintang di Piala Dunia 2026
Pemain bintang di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan akan dimulai ada 11 Juni mendatang terus menarik perhatian penggemar sepak bola. Namun berbeda dengan penyelenggaraan empat tahun sebelumnya, penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini disebut-sebut dibayangi berbagai persoalan yang memicu kekhawatiran. 

Lantas apa yang membuat Piala Dunia kali ini begitu terasa berbeda? Melansir laman Channel4news.substack berikut ini ulasannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

1. Berbeda

Piala Dunia 2026 memang akan menjadi turnamen yang unik. Untuk pertama kalinya, ajang bergengsi di dunia sepak bola ini digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan pertandingan tersebar di 16 kota. Selain itu, jumlah peserta juga bertambah dari 32 menjadi 48 negara dan menjadikannya Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah.

Namun, di balik skala yang semakin besar, persiapan menuju turnamen ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Mulai dari harga tiket dan transportasi yang melonjak tajam, kekhawatiran terhadap cuaca panas ekstrem, hingga situasi geopolitik yang rumit karena Amerika Serikat sedang berkonflik dengan salah satu negara peserta, Iran.

2. Biaya yang Sangat Mahal

Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu yang paling mahal dalam sejarah. Sebagai contoh, di New York, biaya menginap dua malam di hotel ditambah tiket untuk satu pertandingan bisa mencapai sekitar 2.000 dolar AS atau setara Rp 35,86 juta. Angka itu belum termasuk biaya perjalanan.

Menariknya, pertandingan sebenarnya tidak digelar di Kota New York, melainkan di New Jersey yang berada di seberang sungai. Harga tiket kereta dan bus menuju stadion pun melonjak menjadi 98 dolar AS atau setara Rp 1,76 juta, lebih dari tujuh kali lipat tarif normal yang biasanya hanya sekitar 12,90 dolar AS atau setara Rp 231,3 ribu.

Lonjakan harga tiket pertandingan juga memicu penyelidikan dari otoritas negara bagian New York dan New Jersey. Mereka ingin memastikan apakah FIFA telah menetapkan harga yang terlalu tinggi sehingga merugikan para penggemar.

Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport, bahkan menuding proses pembelian tiket Piala Dunia dibuat membingungkan dan menciptakan kesan kelangkaan yang tidak wajar.

"FIFA telah mengubah proses membeli tiket Piala Dunia menjadi sesuatu yang membingungkan, penuh kesan kelangkaan palsu, dan memiliki harga yang sangat tinggi," ujarnya.

Meski demikian, Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela kebijakan harga tersebut. Menurutnya, tingginya harga tiket mencerminkan besarnya permintaan pasar.

Infantino mengklaim FIFA menerima sekitar 500 juta permintaan tiket untuk Piala Dunia 2026. Sebagai perbandingan, dua edisi Piala Dunia sebelumnya secara gabungan hanya menerima sekitar 50 juta permintaan.

3. Ancaman Cuaca Panas

Selain biaya, cuaca juga menjadi perhatian serius. Sekelompok ilmuwan yang menandatangani surat terbuka kepada FIFA memperingatkan bahwa 14 dari 16 stadion yang digunakan berpotensi mengalami suhu yang mencapai tingkat berbahaya bagi pemain dan penonton.

Di beberapa wilayah Meksiko bagian utara dan Amerika Serikat bagian selatan, suhu diperkirakan dapat melampaui 30 derajat Celsius.

Sebagai langkah antisipasi, FIFA mewajibkan jeda pendinginan selama tiga menit pada setiap babak pertandingan. Namun para ilmuwan menilai durasi tersebut belum cukup dan menyarankan agar waktu jeda diperpanjang menjadi setidaknya enam menit.

Meski kondisi cuaca berbeda-beda di setiap kota tuan rumah, aturan jeda pendinginan akan tetap sama di seluruh stadion. Partai final sendiri akan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey. Stadion ini juga menjadi lokasi final Piala Dunia Antarklub 2025 yang dimenangi Chelsea.

4. Sarat Politik

Piala Dunia 2026 juga tidak bisa dipisahkan dari isu politik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan telah menyebutnya sebagai Piala Dunia paling sukses sebelum turnamen dimulai.

Namun perhatian juga tertuju pada Iran, salah satu peserta yang akan bertanding saat negaranya masih terlibat konflik dengan Amerika Serikat.

Tim nasional Iran hanya diizinkan menetap di Meksiko selama turnamen berlangsung. Sementara itu, para pendukung Iran yang meneriakkan slogan anti-Amerika dalam acara pelepasan tim disebut tidak diperbolehkan menghadiri pertandingan.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran terkait pemeriksaan imigrasi, visa, dan pengawasan perbatasan yang lebih ketat.

5. Bukan Kontroversi Pertama

Piala Dunia sebenarnya sudah lama akrab dengan kontroversi. Piala Dunia 2018 di Rusia dan Piala Dunia 2022 di Qatar juga diwarnai berbagai kritik sebelum turnamen dimulai. Di Qatar, isu pelanggaran hak asasi manusia menjadi sorotan utama dan sempat mendominasi pemberitaan internasional. Namun menurut Adam Crafton, ketika pertandingan mulai berlangsung, perhatian publik perlahan beralih ke sepak bola.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Setelah turnamen dimulai, banyak pertanyaan penting tentang perlakuan terhadap pekerja dan perempuan di Qatar mulai tersisih oleh jalannya pertandingan," katanya.

Ia bahkan mengingat bagaimana beberapa minggu setelah turnamen berjalan, banyak orang mulai memuji Qatar sebagai tuan rumah yang aman dan sukses.