Profil Timnas Qatar: Dari Bahan Olok-olok Jadi Penantang Serius, The Maroons Siap Bikin Kejutan di Piala Dunia 2026

Timnas Qatar melakukan selebrasi, Dari Negara Kecil Menjadi Raja Timur Tengah, Lolos dengan Keringat, Bukan Undangan, Kekuatan Utama Qatar Ada di Chemistry, Daftar Skuad Sementara Qatar di Piala Dunia 2026, Jadwal Qatar di Piala Dunia 2026, Mampukah Qatar Jadi Kuda Hitam?
Timnas Qatar melakukan selebrasi

Empat tahun lalu, Timnas Qatar datang ke Piala Dunia dengan status tuan rumah. Mereka disambut sorotan dunia, stadion megah, dan ekspektasi tinggi sebagai wajah baru sepak bola Timur Tengah. Namun di balik kemeriahan itu, Qatar pulang dengan luka besar: tiga kekalahan dari tiga pertandingan.

Di Piala Dunia 2026, Qatar tidak lagi hadir karena privilese sebagai host. Mereka datang lewat jalur kualifikasi yang panjang dan penuh tekanan. Status itu membuat langkah Al Annabi terasa jauh lebih berharga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Negara kecil di Teluk itu memang belum pernah menjadi juara dunia. Bahkan mereka baru dua kali tampil di putaran final Piala Dunia. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Qatar perlahan menjelma menjadi salah satu kekuatan paling stabil di Asia.

Dua gelar Piala Asia beruntun menjadi bukti nyata bahwa proyek sepak bola mereka bukan sekadar pencitraan sesaat. Akademi Aspire, pembinaan usia muda, investasi besar di liga domestik, hingga perekrutan pelatih kelas Eropa mulai menunjukkan hasil.

Pemain Timnas Qatar rayakan kemenangan kontroversial setelah kalahkan Uzbekistan

Dari Negara Kecil Menjadi Raja Timur Tengah

Bicara sejarah Piala Dunia, Qatar memang belum memiliki warisan besar seperti Brasil, Jerman, atau Argentina. Turnamen 2022 menjadi debut pertama mereka di level tertinggi sepak bola dunia.

Debut itu berjalan pahit. Qatar kalah 0-2 dari Ekuador pada laga pembuka, tumbang 1-3 dari Senegal, lalu ditutup kekalahan 0-2 melawan Belanda. Mereka menjadi tuan rumah pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal meraih satu poin pun di fase grup.

Namun kegagalan tersebut justru menjadi titik balik. Federasi Sepak Bola Qatar tidak membongkar proyek mereka. Sebaliknya, mereka memilih melanjutkan fondasi yang sudah dibangun sejak lama. Filosofi permainan diperbaiki, mental pemain diperkuat, dan regenerasi terus berjalan.

Hasilnya mulai terlihat. Qatar sukses menjuarai Piala Asia 2019 dengan performa luar biasa. Mereka bahkan kembali mempertahankan trofi pada edisi 2023. Dua gelar Asia berturut-turut membuat negara ini mulai dipandang sebagai elite baru AFC. Di level regional, Qatar bukan lagi tim kejutan. Mereka sudah berubah menjadi tim yang ditakuti.

Lolos dengan Keringat, Bukan Undangan

Salah satu hal yang paling dibanggakan publik Qatar menjelang Piala Dunia 2026 adalah cara mereka lolos. Tidak ada lagi jalur otomatis sebagai tuan rumah. Qatar harus bertarung di kualifikasi Asia bersama negara-negara lain. Dan perjalanan mereka tidak selalu mulus.

Pada fase awal, performa Al Annabi sempat naik turun. Tekanan pasca-kegagalan Piala Dunia 2022 masih terasa. Pergantian pelatih juga membuat permainan mereka sempat kehilangan arah.

Namun pengalaman menjadi pembeda. Di bawah pelatih asal Spanyol Julen Lopetegui, Qatar mulai menemukan keseimbangan baru. Lopetegui membawa pendekatan yang lebih fleksibel dan pragmatis. Qatar tidak lagi hanya mengandalkan serangan balik cepat seperti era sebelumnya, tetapi juga mampu mengontrol tempo permainan.

Mereka tampil konsisten sepanjang fase kualifikasi dan akhirnya memastikan tiket menuju Piala Dunia 2026 lewat putaran akhir zona Asia.

Lopetegui sendiri bukan nama sembarangan. Mantan pelatih Timnas Spanyol itu pernah membawa La Furia Roja menjalani kualifikasi Piala Dunia tanpa kekalahan. Ia juga sempat menangani Real Madrid, Sevilla, Wolverhampton Wanderers, hingga West Ham United.

Kehadirannya memberi dimensi baru bagi Qatar, terutama dari sisi disiplin taktik dan organisasi permainan.

Kekuatan Utama Qatar Ada di Chemistry

Banyak negara memiliki pemain bintang. Tetapi kekuatan terbesar Qatar justru ada pada chemistry tim. Mayoritas pemain mereka tumbuh bersama sejak usia muda lewat sistem Aspire Academy. Mereka memahami karakter satu sama lain dengan sangat baik. Hal ini membuat permainan Qatar terlihat lebih cair dibanding banyak negara Asia lainnya.

Di lini depan, nama Akram Afif tetap menjadi pusat perhatian. Pemain kreatif tersebut masih menjadi motor serangan utama Al Annabi. Kecepatan, kemampuan duel satu lawan satu, hingga visi bermainnya membuat Afif menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan. Ia adalah simbol generasi emas Qatar.

Selain Afif, ada Almoez Ali yang tetap tajam di depan gawang. Kombinasi keduanya menjadi senjata utama Qatar dalam membongkar pertahanan lawan.

Di lini tengah, pengalaman masih menjadi kekuatan utama. Nama-nama seperti Karim Boudiaf, Abdulaziz Hatem, hingga Assim Madibo memberi keseimbangan antara agresivitas dan kontrol permainan. Sementara di sektor pertahanan, Qatar masih mengandalkan pemain senior seperti Bassam Al Rawi, Lucas Mendes, dan Pedro Miguel.

Menariknya, Qatar juga membawa perpaduan generasi tua dan muda. Nama Sebastian Soria bahkan masih masuk dalam skuad sementara meski usianya sudah 42 tahun. Jika dimainkan di Piala Dunia 2026, ia berpeluang menjadi salah satu pemain outfield tertua dalam sejarah turnamen tersebut.

Julen Lopetegui dan Wajah Baru Qatar Kehadiran Julen Lopetegui menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam proyek Qatar menuju Piala Dunia 2026. Pelatih asal Spanyol itu dikenal detail secara taktik dan sangat disiplin dalam organisasi permainan. Filosofi tersebut perlahan mulai terlihat dalam permainan Qatar.

Mereka kini bermain lebih sabar saat membangun serangan. Transisi bertahan ke menyerang juga terlihat lebih rapi dibanding empat tahun lalu. Lopetegui tidak mencoba mengubah identitas Qatar sepenuhnya. Ia tetap mempertahankan kecepatan dan fleksibilitas pemain depan, tetapi memberi struktur yang lebih kuat di lini tengah dan pertahanan.

Hasilnya, Qatar kini tampil lebih matang. Mereka memang belum berada di level negara elite Eropa atau Amerika Selatan. Tetapi secara organisasi tim, Qatar jauh lebih siap dibanding saat tampil di kandang sendiri pada 2022.

Daftar Skuad Sementara Qatar di Piala Dunia 2026

Berikut daftar pemain Qatar yang dipersiapkan menuju Piala Dunia 2026:

Kiper

Meshaal Barsham

Mahmoud Abunada

Salah Zakaria

Shehab Ellethy

Bek

Bassam Al Rawi

Boualem Khoukhi

Pedro Miguel

Lucas Mendes

Tarek Salman

Homam Al Amin

Sultan Al Brake

Jassem Gaber

Niall Mason

Rayyan Al Ali

Gelandang

Karim Boudiaf

Abdulaziz Hatem

Assim Madibo

Ahmed Fathi

Mohammed Waad

Issa Lay

Tahsin Mohammed

Ayub Al Alawi

Mubarak Shannan

Penyerang

Akram Afif

Almoez Ali

Edmilson Junior

Mohammed Muntari

Youssef Abdelrisaq

Ahmed Alaaeldin

Ahmed Al Janhi

Hassan Al Haydos

Sebastian Soria

Daftar tersebut masih bisa berubah karena FIFA mewajibkan setiap negara mengerucutkan skuad menjadi 26 pemain sebelum turnamen dimulai.

Jadwal Qatar di Piala Dunia 2026

Qatar tergabung di Grup B bersama Kanada, Swiss, dan Bosnia-Herzegovina. Grup ini dianggap cukup menantang karena dihuni tim dengan karakter permainan berbeda.

Berikut jadwal Qatar di fase grup:

14 Juni 2026

Qatar vs Swiss

19 Juni 2026

Kanada vs Qatar

25 Juni 2026

Bosnia-Herzegovina vs Qatar

Laga melawan Swiss diprediksi menjadi penentu awal perjalanan mereka. Jika mampu mencuri poin, peluang Qatar untuk bersaing lolos fase grup akan terbuka lebar.

Mampukah Qatar Jadi Kuda Hitam?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Banyak pengamat masih memandang Qatar sebagai tim pelengkap. Namun pandangan itu bisa menjadi jebakan. Qatar punya pengalaman juara Asia, pemain yang sudah lama bermain bersama, serta pelatih dengan pengalaman elite Eropa. Mereka juga datang dengan motivasi besar untuk menghapus trauma 2022.

Format baru Piala Dunia dengan 48 tim membuat peluang negara nonunggulan semakin terbuka. Qatar mungkin belum cukup kuat untuk disebut kandidat juara. Tetapi untuk menciptakan kejutan dan melangkah ke fase gugur, peluang itu jelas ada.