Peneliti BRIN Temukan Spesies Terong Berduri Baru dari Kalimantan

Solanum kalimantanense, Peneliti BRIN Temukan Spesies Terong Berduri Baru dari Kalimantan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia telah mengidentifikasi spesies terong berduri baru dari Kalimantan.

Munculnya jenis terong baru ini menambah kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal Internasional Taprobanica pada tahun 2026.

Dilansir Kompas.com dari Antara pada Kamis (28/5/2026), spesies tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T. Djarwaningsih, E.L Agustiani dan M.R. Hariri.

Kehadiran nama tersebut untuk menghormati para ilmuwan dan peneliti yang menemukan spesies baru tersebut.

Lebih lengkapnya sejumlah nama peneliti tersebut adalah Esthi L Agustiani dari Pusat Penelitian Biosistemika dan Evolusi, Tutie Djarwaningsih dan Muhammad Rifqi Hariri peneliti dari Pusat Penelitian Ekologi Siti Susiarti.

Ciri dan bentuk terong Kalimantan

Dalam pernyataan yang disampaikan di Jakarta pada Minggu (24/5/2026) Muhammad Rifqi Hariri mengatakan spesies tersebut memiliki ciri morfologi yang berbeda dari spesies terkait dalam genus Solanum yang berasal dari Asia Tenggara.

cirinya meliputi daun dengan panjang dan lebar yang hampir sama, lobus daun yang sangat dangkal, bulu halus yang jarang pada permukaan buah yang matang dan bentuknya lebih besar dibandingkan jenis solanum lasiocarpum.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat besar yang belum sepenuhnya didokumentasikan secara ilmiah, termasuk di antara kelompok tumbuhan yang sudah dikenal dan digunakan oleh masyarakat setempat” ujarnya.

Penjelasan lainnya oleh Pusat Penelitian Biosistemika dan Evolusi Esthi L Agustiani menjelaskan bahwa Solanum Kalimantanense ini hidup di tanah lempung berpasir yang berada di ketinggian 9.000 hingga 1.700 meter diatas permukaan laut.

Spesies ini tercatat tumbuh di beberapa bagian di Kalimantan Timur dan Selatan.

Menganalisis spesies terong Kalimantan

Rifqi kembali menjelaskan bahwa dalam meneliti terong spesies baru ini, menggunakan analisis DNA dari penanda Internal Transcribed Spacer (ITS).

Hasilnya, ada perbedaan genetik yang signifikan antara spesies baru dan kerabat terdekatnya.

Sementara itu, Tutie Djarwaningsih dari Pusat Penelitian Biosistemika dan Evolusi mengatakan masyarakat setempat telah lama mengenal tanaman ini sebagai “terong asam” atau “terong dayak” dan sudah menggunakannya sebagai bahan makanan.

Buahnya banyak dijual di pasar terapung Banjarmasin dan biasa dimasak menjadi olahan hidangan khas Kalimantan Selatan.

Disisi lain di Kenohan, Kalimantan Timur, penduduk setempat juga menggunakan daun dan tunas buah muda sebagai bahan pengobatan tradisional yang dikenal dengan nama “wikat”.

Kabarnya, obat tradisional ini digunakan masyarakat sebagai pengobatan kanker.

Penilaian awal menunjukkan spesies ini memiliki populasi terbatas dan masuk dalam syarat sebagai spesies rentan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam.

Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam volume 15 nomor 1 Taprobanica pada tahun 2026.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang