Cerita Peneliti BRIN Temukan Lukisan Cap Tangan Tertua Dunia Berusia 67.800 Tahun
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN), Dr. Adhi Agus Oktaviana, mengungkap perjalanan penelitian lukisan cap tangan tertua di dunia yang dimulai sejak 2012 saat dihubungi Kompas.com, Selasa (26/5/2026).
baru ini, Guinness World Records menobatkan lukisan cap tangan di Liang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia.
Kilas balik pada 2012 silam, Adhi bercerita bahwa dirinya terlibat dalam kolaborasi penelitian di Sulawesi bersama Australian National University (ANU).
Setahun kemudian, ia bergabung dalam penelitian bersama Griffith University yang dipimpin oleh Profesor Maxime Aubert dan Profesor Adam Brumm di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.
Ia bersama tim peneliti gabungan tengah menyiapkan publikasi penelitian seni cadas Sulawesi yang kemudian terbit di jurnal Nature pada 2014.
Dalam proses tersebut, peneliti muda tersebut mempelajari teknik pengambilan sampel lukisan di dinding gua untuk penanggalan uranium-series dari Profesor Maxime.
Adhi lantas ikut melakukan pengambilan sampel di sejumlah situs, termasuk di Liang Timpuseng.
"Di situ saya beruntung, saya bisa belajar dari Profesor Maxime Aubert gimana sih cara ngambil sampel gambar cadas yang ada untuk pertanggalan uranium series yang tertutup kolaroid," ungkap dia.
Penelitian di Liang Metanduno
Peneliti BRIN Dr. Adhi Agus Oktaviana saat meneliti lukisan cap tangan tertua di dunia yang berlokasi Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Perjalanan penelitian berlanjut saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat proyek buku Gambar Cadas Prasejarah Indonesia pada 2015. Adhi mendapat tugas penelitian di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Saat menelusuri situs Liang Metanduno, Adhi menemukan jejak cap tangan yang sebelumnya tidak banyak disebut dalam literatur penelitian.
"Akhirnya pada 2015 saya dengan mereka datang ke sana, saya cek tuh Metanduno karena penasaran ya kok enggak ada cap tangan sih itu infonya, di literatur sebelumnya juga enggak ada," kata Adhi.
Salah satu cap tangan yang ditemukan, diketahui tertutup lapisan koraloid sehingga dinilai berpotensi untuk diteliti menggunakan metode penanggalan uranium-series.
Temuan tersebut kemudian dipresentasikan oleh Adhi dalam konferensi arkeologi Sulawesi di ANU pada 2015 mengenai cap tangan di Pulau Muna, lalu dipublikasikan pada 2018.
Pada 2019, Adhi bersama Profesor Maxime Aubert dan beberapa orang lainnya mengambil sampel lukisan di Liang Metanduno.
Pengambilan sampel itu dilakukan bersamaan dengan penelitian di Liang Karampuang, Maros-Pangkep, yang hasilnya dipublikasikan pada 2024.
Lukisan cap tangan tertua di dunia itu berusia 67.800 tahun. Letaknya berada di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang kini dinobatkan sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia oleh Guinness World Records pada Selasa (19/5/2026).
Untuk menentukan usia lukisan, tim menggunakan metode laser-ablation uranium-series, yakni teknik penanggalan terbaru yang memanfaatkan laser untuk mengambil sampel mineral berukuran mikroskopis dari lapisan kalsit di permukaan lukisan.
Adhi mengaku terkejut setelah hasil penanggalan menunjukkan usia lukisan mencapai 67.800 tahun. Sebab, saat pertama menemukan cap tangan berjari runcing di Metanduno, ia memperkirakan usianya tidak akan setua itu.
“Saya tidak memperkirakan umurnya setua itu karena sebelumnya yang berjari runcing di Maros usianya sekitar 17.000 tahun,” kata dia.
Empat bulan setelah resmi dipublikasikan di jurnal Nature, lukisan cap tangan yang dibuat dengan teknik stensil itu kini dinobatkan sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia oleh Guinness World Records pada Selasa (19/5/2026).
Temuan ini melampaui lukisan gua tertua berusia 51.200 tahun di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang ditemukan pada 2024.
"Sebenarnya kita juga masih punya banyak sampel lain yang belum kita publish. Misalnya di wilayah Maros Pangkep, terus ada juga temuan yang di Kalimantan Timur yang sudah kita ambil sampel, tapi belum kita publish," pungkas Adhi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang