BRIN Temukan Mikroplastik di Air Hujan Jakarta, Ahli Ungkap Dampaknya ke Kesehatan

mikroplastik, dampak mikroplastik bagi kesehatan, Air hujan jakarta mengandung mikroplastik, Air hujan Jakarta, BRIN Temukan Mikroplastik di Air Hujan Jakarta, Ahli Ungkap Dampaknya ke Kesehatan, Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk ke Air Hujan?, Apa Dampaknya terhadap Kesehatan?, Bagaimana Tanggapan Pemerintah DKI Jakarta?, Apa Langkah Kolaboratif yang Didorong?, Seberapa Serius Temuan BRIN Ini?

 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mengungkap temuan yang mengejutkan yakni air hujan di Indonesia telah tercemar mikroplastik.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik kini tidak lagi terbatas di laut dan tanah, tetapi juga telah mencapai atmosfer serta menjadi bagian dari siklus air.

Para ahli menilai fenomena ini sebagai peringatan serius terhadap eskalasi krisis lingkungan dan kesehatan publik.

Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk ke Air Hujan?

Ahli kesehatan lingkungan, Dr. Dicky Budiman, menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, yang berasal dari degradasi berbagai jenis sampah seperti kantong plastik, botol, pakaian sintetis, dan ban kendaraan.

Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat terangkat ke udara bersama debu dan uap air, lalu turun kembali ke bumi melalui air hujan.

“Ini menandakan tingkat penyebaran lingkungan yang makin meluas dan tidak lagi terbatas pada laut atau tanah, tapi juga sudah mencapai atmosfer dan siklus air kita,” ujar Dicky.

Setelah turun bersama hujan, partikel mikroplastik dapat menyusup ke tanah, terserap oleh tanaman, dan pada akhirnya terakumulasi di tubuh manusia melalui rantai makanan maupun udara yang dihirup.

Penelitian internasional bahkan menemukan mikroplastik di organ vital manusia, seperti paru-paru, darah, dan plasenta.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa paparan mikroplastik telah menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari.

Apa Dampaknya terhadap Kesehatan?

Menurut Dicky, paparan mikroplastik memiliki efek jangka panjang yang bersifat kronis. Ia memaparkan beberapa risiko yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Peradangan kronis pada saluran napas dan sistem pencernaan.
  • Gangguan hormon endokrin akibat bahan kimia seperti Bisphenol A (BPA) yang terkandung dalam plastik.
  • Risiko penyakit kardiovaskular dan stres oksidatif akibat akumulasi jangka panjang.

Selain itu, mikroplastik juga berfungsi sebagai pembawa bagi logam berat dan mikroba patogen, yang dapat memperburuk dampak terhadap kesehatan manusia dan mempercepat penyebaran kontaminan lainnya.

mikroplastik, dampak mikroplastik bagi kesehatan, Air hujan jakarta mengandung mikroplastik, Air hujan Jakarta, BRIN Temukan Mikroplastik di Air Hujan Jakarta, Ahli Ungkap Dampaknya ke Kesehatan, Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk ke Air Hujan?, Apa Dampaknya terhadap Kesehatan?, Bagaimana Tanggapan Pemerintah DKI Jakarta?, Apa Langkah Kolaboratif yang Didorong?, Seberapa Serius Temuan BRIN Ini?

Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, mengkhawatirkan potensi wabah virus Marburg karena intensitas kasusnya meningkat di tahun-tahun terakhir.

Bagaimana Tanggapan Pemerintah DKI Jakarta?

Menanggapi temuan BRIN, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut kondisi ini sebagai “alarm lingkungan” yang perlu direspons dengan cepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa polusi plastik kini telah menjangkau atmosfer dan menuntut langkah konkret dari semua pihak.

“Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta,” ujar Asep dalam pernyataan tertulis, Minggu (19/10/2025).

Pemprov DKI kini memperkuat langkah pengendalian sampah plastik dari hulu ke hilir dan memperluas pemantauan kualitas udara serta air hujan melalui sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI).

Sistem ini mengintegrasikan data lingkungan untuk memantau mikroplastik di udara dan air hujan secara real-time.

Selain itu, Jakarta juga terus melanjutkan kebijakan pembatasan plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan.

Program Jakstrada Persampahan pun diperluas dengan target pengurangan 30 persen sampah dari sumbernya melalui pengembangan bank sampah, TPS 3R, serta daur ulang berbasis komunitas.

“Upaya pengurangan plastik harus dilakukan dari sumbernya, mulai dari rumah tangga, industri, hingga sektor jasa. Setiap orang punya peran,” lanjut Asep.

Apa Langkah Kolaboratif yang Didorong?

DLH DKI berencana meluncurkan kampanye publik bertajuk “Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi” untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak mikroplastik.

Kampanye ini mendorong warga agar mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, memilah sampah rumah tangga, dan tidak membakar limbah sembarangan.

“Langit Jakarta sedang mengingatkan kita untuk lebih bijak mengelola bumi. Perubahan perilaku adalah kunci,” tegas Asep.

Pemprov DKI juga membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha, lembaga riset, dan komunitas lingkungan dalam pengembangan teknologi filtrasi serta inovasi produk ramah lingkungan.

“Kami terbuka untuk kolaborasi riset dan inovasi yang bisa membantu menjaga langit bersih dari mikroplastik. Ini tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Seberapa Serius Temuan BRIN Ini?

Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa penelitian tentang kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta bukan sekadar dugaan, melainkan hasil studi ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Science Direct pada Januari 2022.

Penelitian tersebut berlangsung selama 12 bulan penuh dan mendeteksi partikel mikroplastik di setiap tetes hujan yang jatuh di ibu kota.

“Hasilnya menunjukkan laju deposisi mikroplastik di Jakarta mencapai 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari, dengan rata-rata 15 partikel,” kata Reza.

Pengumpulan data dilakukan menggunakan rain gauge dan ombrometer, sementara analisis jenis polimer plastik dilakukan dengan teknologi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).

Temuan ini menegaskan bahwa mikroplastik kini telah menjadi bagian dari siklus atmosfer global.

Karena itu, para ahli menilai perlunya strategi nasional yang menggabungkan kebijakan pengelolaan sampah, sistem pemantauan lingkungan, dan perubahan perilaku masyarakat. Jika tidak, mikroplastik akan terus menumpuk di udara yang kita hirup dan air yang kita minum.

“Jika langit sudah terkontaminasi plastik, maka kita sudah melewati batas peringatan alam. Ini saatnya bergerak bersama, sebelum bumi menagih lebih banyak harga dari kelalaian kita," tutup Dicky.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dan Kompas.com dengan judul "Pemprov DKI Tanggapi Temuan BRIN soal Mikroplastik di Air Hujan Jakarta".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.