Tak Cuma Pemain Bintang, Ini Faktor yang Bisa Menentukan Juara Piala Dunia 2026
Piala Dunia selalu menjadi puncak tertinggi dalam sepak bola tingkat internasional.
Turnamen atau Piala Dunia 2026 ini menjadi impian hampir setiap pemain sejak kecil karena menawarkan hadiah paling bergengsi dalam karier mereka.
Namun, pertanyaan lain muncul ketika membahas kualitas permainan di Piala Dunia, yakni apakah turnamen ini benar-benar menjadi panggung sepak bola terbaik di dunia.
Sepak bola klub elite Eropa saat ini memiliki konsentrasi talenta yang sangat besar karena kekuatan finansial mereka jauh lebih kuat dibanding sebagian besar tim nasional.
pertandingan terbaik sering kali justru muncul pada fase akhir Liga Champions UEFA, seperti laga Paris Saint-Germain melawan Bayern Muenchen yang berakhir dengan skor 5-4.
Kondisi itu membuat sebagian besar tim nasional sulit mencapai level permainan yang sama dengan klub-klub elite Eropa.
Luis Enrique, misalnya, mampu membawa PSG ke level yang lebih tinggi dibanding ketika ia menangani Spanyol pada Euro 2020 atau Piala Dunia 2022.
Mantan pelatih Skotlandia, Andy Roxburgh, menilai sepak bola internasional dan sepak bola klub elite tidak bisa dibandingkan secara langsung.
“Saya rasa Anda tidak dapat membandingkan pertandingan internasional dengan sepak bola klub elite. Masing-masing memiliki karakternya sendiri,” kata Roxburgh, dikutip dari AFP pada Selasa (19/5/2026).
Roxburgh saat ini menjabat sebagai direktur teknik Konfederasi Sepak Bola Asia setelah sebelumnya memegang peran serupa di UEFA.
Menurut dia, sepak bola internasional memiliki tantangan berbeda karena pelatih tidak bisa membeli pemain seperti di level klub.
“Dalam sepak bola internasional, tidak ada bursa transfer. Anda memilih dan menggunakan apa yang tersedia,” ujar Roxburgh.
Kondisi itu membuat pelatih tim nasional biasanya harus lebih pragmatis dalam menyusun strategi.
Roxburgh mengatakan, pertandingan internasional memiliki jumlah laga yang lebih sedikit, tetapi sorotannya jauh lebih besar.
“Di kancah internasional, karena jumlah pertandingan lebih sedikit, dan biasanya pertandingan-pertandingan tersebut berprofil tinggi, hasilnya diperbesar dan dibesar-besarkan,” katanya kepada AFP dari Kuala Lumpur.
Pengaruh klub terhadap tim nasional
Roxburgh menjelaskan, pelatih tim nasional harus menyatukan para pemain dari berbagai klub dalam waktu yang relatif singkat.
Pelatih kemudian memasukkan filosofi sendiri sambil tetap mempertimbangkan budaya sepak bola nasional.
Namun, cara bermain pemain di klub masing-masing tetap memberi pengaruh besar terhadap performa tim nasional.
“Seorang manajer tim nasional menyatukan para pemain, menambahkan filosofinya sendiri, dan budaya nasional diperhitungkan. Tetapi cara para pemain bermain di klub mereka memiliki pengaruh yang sangat besar,” ucap Roxburgh.
Contoh paling jelas terlihat pada tim nasional Spanyol yang menjuarai Euro secara beruntun dan memenangkan Piala Dunia 2010.
Spanyol saat itu sangat bergantung pada kerangka permainan Barcelona yang mendominasi sepak bola Eropa pada era tersebut.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana sebuah tim bisa memenangkan Piala Dunia di tengah perkembangan taktik sepak bola modern.
Seiring kemajuan sistem permainan di klub-klub elite, tim nasional papan atas dunia kemungkinan akan banyak meminjam elemen permainan dari level klub.
Tim-tim kuat Eropa, Amerika Selatan, serta beberapa negara seperti Maroko, Senegal, dan Jepang dapat mengambil manfaat dari pendekatan tersebut.
Transisi cepat bisa jadi kunci
Salah satu elemen penting dalam sepak bola modern adalah serangan balik cepat. PSG telah menunjukkan kekuatan transisi cepat secara luar biasa di Liga Champions.
Argentina juga memanfaatkan pola serupa ketika mencetak gol kedua yang spektakuler ke gawang Perancis pada final Piala Dunia 2022.
Pelatih Perancis, Didier Deschamps, menyebut transisi dari bertahan ke menyerang sebagai salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan sepak bola.
“Momen kunci dalam pertandingan sepak bola adalah peralihan dari fase bertahan ke fase menyerang, ketika lawan tidak punya waktu,” kata Deschamps beberapa bulan setelah final Piala Dunia 2022.
Transisi cepat membutuhkan kemampuan merebut bola secepat mungkin.
Banyak tim papan atas dunia kini menggunakan pressing tinggi agar bisa segera menguasai bola di area lawan.
Roxburgh, yang kini berusia 82 tahun, telah mengikuti perubahan sepak bola internasional sejak melatih Skotlandia pada Piala Dunia 1990.
Menurut dia, perubahan paling besar dalam sepak bola modern terlihat dari kecepatan permainan.
“Yang telah berubah adalah kecepatan permainan. Tekanan pada bola jauh lebih intens,” ujar Roxburgh.
Ia menilai permainan kolektif di level internasional saat ini jauh lebih canggih dibanding masa lalu.
“Dulu sangat bergantung pada bintang-bintang individu, sekarang bintang-bintang bermain untuk tim,” kata Roxburgh.
Tantangan cuaca panas
Ilustrasi bola.
Meski pressing tinggi menjadi senjata penting, strategi itu memiliki tantangan besar pada Piala Dunia mendatang.
Salah satu masalah utama adalah cuaca panas musim panas di Amerika Utara.
Pressing tinggi membutuhkan energi besar karena pemain harus terus bergerak untuk menekan lawan.
Roxburgh menilai jeda minum yang disiapkan dalam pertandingan mungkin belum tentu cukup untuk menjaga intensitas permainan.
“Saya tahu kita akan memiliki jeda minum air, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk memungkinkan tim untuk menekan dan bermain dengan intensitas tinggi,” kata Roxburgh.
Ia menyebut Kanada di bawah Jesse Marsch mungkin mampu menerapkan pressing tinggi karena sangat mengandalkan pendekatan tersebut.
Namun, strategi serupa belum tentu mudah dilakukan di beberapa wilayah Amerika Serikat atau Meksiko.
“Jesse Marsch, yang sangat mengandalkan pressing tinggi di Kanada, mungkin bisa melakukannya, tetapi saya tidak yakin bahwa di beberapa bagian AS atau bahkan Meksiko akan mudah untuk melakukannya,” ujar Roxburgh.
Bola mati kembali jadi senjata
Selain transisi cepat dan pressing tinggi, bola mati juga berpotensi menjadi faktor penting dalam perebutan gelar Piala Dunia.
Hal yang sama terlihat dalam Liga Premier musim ini, ketika bola mati dan lemparan jauh kembali banyak digunakan sebagai senjata.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mengatakan pola-pola seperti itu akan kembali memegang peran penting dalam pertandingan.
“Hal-hal ini akan penting. Semua pola ini kembali dan umpan silang juga kembali,” kata Tuchel pada awal musim ini. Bola mati menjadi salah satu aspek permainan yang bisa lebih mudah dikendalikan pelatih.
Situasi tendangan sudut, tendangan bebas, hingga lemparan jauh memberi peluang bagi tim untuk menciptakan gol tanpa harus selalu mendominasi permainan terbuka.
Jeda hidrasi selama tiga menit yang diperkenalkan FIFA di tengah setiap babak juga bisa memberi ruang tambahan bagi pelatih untuk memberi instruksi taktis.
Mantan gelandang Arsenal dan tim nasional Brasil, Gilberto Silva, menilai jeda tersebut dapat menjadi momen penting bagi pelatih.
Gilberto merupakan bagian dari kelompok studi teknis FIFA setelah sebelumnya ikut membawa Brasil menjuarai Piala Dunia 2002.
“Ini bisa menjadi momen besar bagi pelatih dari sudut pandang taktis,” kata Gilberto.
Menurut dia, pelatih kini memiliki kesempatan lebih banyak untuk melakukan penyesuaian selama pertandingan.
“Sekarang mereka memiliki dua kesempatan lagi, setelah jeda babak pertama, untuk melakukan perubahan. Itu adalah keuntungan besar bagi mereka,” ujar Gilberto.
Dengan kondisi tersebut, Piala Dunia tidak hanya akan ditentukan oleh kualitas individu para pemain.
Tim yang mampu menyesuaikan taktik, mengelola energi, memanfaatkan transisi cepat, dan memaksimalkan bola mati berpeluang lebih besar untuk melangkah jauh.
Pada akhirnya, Piala Dunia bisa dimenangkan bukan hanya oleh tim dengan pemain terbaik, tetapi oleh tim yang paling siap membaca detail kecil di lapangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang