Iran: Draf Kesepahaman Akhiri Perang dengan AS Hampir Rampung, Perdamaian Segera Tercapai?
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa sebagian besar bagian penting dari kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang hampir selesai dirumuskan, meskipun Amerika Serikat terus menunjukkan sikap yang bertentangan dan berulang kali melakukan tindakan agresi militer yang mengganggu proses diplomatik.
Dalam sebuah wawancara pada Kamis malam, Esmaeil Baghaei menolak berbagai spekulasi media mengenai tercapainya kesepakatan dan menegaskan kembali sikap Iran yang tegas dan berprinsip.
“Dari sisi teks, sebagian besar isi dokumen hampir selesai dirampungkan. Namun, masalahnya adalah sikap Amerika Serikat yang sering berubah-ubah dan saling bertentangan selalu menimbulkan gejolak serta menghambat proses ini,” kata Baghaei dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 12 Juni 2026,
Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran memasuki proses diplomatik dengan niat baik dan rasa tanggung jawab penuh. Sebaliknya, para pejabat Amerika berulang kali mengubah posisi mereka, mengajukan tuntutan baru yang tidak realistis, bahkan melakukan serangan militer selama perundingan berlangsung.
Baghaei juga menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu, Amerika Serikat dan rezim Israel telah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut. Dalam serangan terbaru, pasukan Amerika menargetkan infrastruktur di wilayah selatan Iran dan menyerang dua reservoir air di Sirik.
“Di satu sisi mereka berbicara tentang diplomasi dan perundingan, tetapi di sisi lain mereka menggunakan kekerasan serta melakukan tindakan ilegal dan kriminal,” ujarnya.
Tidak Ada Kompromi atas Garis Merah Iran
Pejabat tersebut menegaskan bahwa Iran telah menunjukkan, baik melalui jalur diplomasi maupun di medan pertempuran, bahwa negara itu tidak akan pernah tunduk pada syarat dan tuntutan pihak lain.
“Iran telah membuktikan dalam praktik bahwa garis merahnya adalah kepentingan dan kesejahteraan rakyat Iran. Dalam hal ini sama sekali tidak akan ada kompromi. Jika Republik Islam berniat mundur dari prinsip-prinsip dasarnya karena tekanan dan ancaman, hal itu sudah dilakukan satu setengah tahun yang lalu. Kami telah membuktikan bahwa kami tetap teguh pada pendirian kami,” tambahnya.
Selat Hormuz Ditutup Akibat Agresi Amerika Serikat
Mengenai situasi di Selat Hormuz, Baghaei mengatakan bahwa meskipun Iran telah bertindak secara bertanggung jawab untuk menjamin keamanan pelayaran, Amerika Serikat justru membuat jalur perairan strategis tersebut menjadi tidak aman melalui serangan-serangan agresifnya.
Setelah serangan Amerika terhadap sejumlah fasilitas Iran di wilayah selatan serta serangan mematikan terhadap kapal-kapal komersial, termasuk tiga kapal India yang menyebabkan tewasnya sejumlah pelaut India, Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kapal.
“Satu-satunya penyebab situasi ini adalah tindakan Amerika yang ilegal dan agresif,” kata Baghaei.
Dia menegaskan bahwa peringatan yang diperlukan telah disampaikan kepada seluruh kapal yang melintas.
Keputusan Ada di Tangan Otoritas Iran
Menanggapi spekulasi media mengenai waktu dan lokasi kemungkinan penandatanganan kesepakatan, Baghaei menyebut semua itu hanya sebagai dugaan semata.
“Proses pengambilan keputusan di negara kami sangat jelas. Otoritas terkait harus meninjau setiap rincian teks tersebut. Begitu kami mencapai kesimpulan akhir yang benar-benar melayani kepentingan rakyat Iran, hal itu akan diumumkan secara resmi,” ujarnya.
Baghaei menambahkan bahwa para mediator dari Pakistan dan Qatar masih terus berupaya menjalankan peran mereka. Namun, jalur diplomasi secara alami terdampak oleh tindakan agresi ilegal yang dilakukan Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran itu menegaskan kembali sikap tegas Iran bahwa dalam setiap perundingan maupun kesepakatan, Republik Islam Iran hanya berfokus pada perlindungan serta pemajuan kepentingan dan hak-hak rakyat Iran.