Bertolak Belakang dengan Trump, CIA Sebut Iran Masih Simpan 70 Persen Rudalnya
Badan intelijen Amerika Serikat, CIA mengungkap bahwa Iran masih bisa bertahan menghadapi blokade laut Amerika Serikat hingga empaat bulan ke depan sebelum tekanan ekonomi serius. Dalam laporan CIA yang dirilis The Washington Post itu menyebut bahwa Tehran masih memiliki kemampuan rudal balistik yang signifikan meski telah berminggu-minggu dibombardir AS dan Israel.
Temuan CIA itu bertolak belakang dengan pernyataan pemerintahan Trump yang selama ini mengklaim sebagian besar kemampuan rudal dan drone Iran sudah dihancurkan.
The Washington Post yang mengutip seorang pejabat AS mengatakan bahwa Iran masih memiliki sekitar 75 persen peluncur rudal bergeraknya sebelum perang. Iran juga disebut masih memiliki stok rudal sekitar 70 persen sebelum konflik di mulai. Disebutkan juga bahwa Iran berhasil kembali membuka fasilitas penyimpanan rudal bawah tanahnya.
“Rudal mereka sebagian besar sudah dihancurkan. Mereka mungkin hanya punya sekitar 18 atau 19 persen saja dibanding sebelumnya,” kata Trump di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu dikutip dari laman Middle East Eye, Jumat 8 Mei 2026.
Trump dan para penasihat utamanya selama beberapa pekan terus bersikeras bahwa serangan AS dan Israel telah menghancurkan Iran, meski Tehran menunjukkan sistem komando dan kendalinya masih berjalan normal dan tetap mampu melancarkan serangan kapan saja.
“Operation Epic Fury telah melumpuhkan militer Iran dan membuat mereka tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun,” kata Menteri Perang AS, Pete Hegseth pada awal April.
Baru pekan ini, Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal dan drone ke Uni Emirat Arab sebagai balasan atas upaya AS mengirim kapal perang melewati Selat Hormuz. Iran juga mengklaim berhasil menyerang kapal perang AS, meski Gedung Putih membantah tuduhan tersebut.
Pemerintahan Trump sebelumnya juga sempat membuat klaim serupa terkait efektivitas blokade laut terhadap Iran, namun sejauh ini belum terbukti sepenuhnya.
“Sesuatu akan terjadi sampai akhirnya meledak. Mereka bilang hanya tinggal tiga hari lagi sebelum itu terjadi. Kalau sudah meledak, infrastrukturnya tidak akan pernah bisa dibangun kembali seperti semula,” kata Trump kepada Fox News pekan lalu saat membahas infrastruktur minyak Iran.
Ruang penyimpanan minyak makin menipis
AS menyebut Iran mulai kehabisan ruang penyimpanan minyak, dan penumpukan minyak mentah dikhawatirkan bisa merusak infrastruktur energi tua milik negara tersebut.
Sejumlah analis mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Iran kemungkinan hanya memiliki sisa kapasitas penyimpanan untuk beberapa minggu lagi.
Perusahaan analisis energi Kpler mengatakan kepada New York Times bahwa Iran memiliki waktu sekitar 25 hingga 30 hari sebelum kapasitas penyimpanannya penuh.
Namun analisis CIA yang dikutip The Washington Post memberikan perkiraan waktu yang lebih panjang sebelum Iran benar-benar menghadapi krisis ekonomi besar akibat blokade.
Badan intelijen itu memperkirakan Teheran masih mampu bertahan menghadapi embargo selama 90 hingga 120 hari sebelum mengalami tekanan ekonomi yang sangat berat.
Saat ini baik AS maupun Iran sama-sama menerapkan blokade di Selat Hormuz demi menunjukkan kendali atas jalur laut strategis tersebut. Iran memang kesulitan mengirim kapal tanker minyak keluar dari Hormuz dan Teluk Oman, tetapi di sisi lain negara itu juga berhasil menghambat ekspor negara-negara Teluk.
Meski hampir seluruh ekspor minyak Iran bergantung pada jalur laut, negara tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz untuk perdagangan umum dengan negara-negara tetangganya.
Iran berbatasan dengan Laut Kaspia bersama Kazakhstan, Turkmenistan, Rusia, dan Azerbaijan. Iran juga memiliki perbatasan darat dengan Pakistan, Afghanistan, Turki, Irak, Armenia, Azerbaijan, dan Turkmenistan.
Untuk kebutuhan penting seperti pangan, Iran disebut sudah mampu memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan domestiknya sendiri.