Survei Terbaru Ungkap Kemarahan Publik ke Trump, Perang Iran Disebut Bikin Amerika Makin Lemah
Sebuah survei terbaru menunjukkan tingkat kemarahan publik terhadap Presiden Donald Trump meningkat. Kemarahan ini dipicu oleh perang yang dilancarkan AS ke Iran sejak akhir Februari lalu.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan PBS News/NPR/Marist yang dipublikasi pada Rabu waktu setempat, mayoritas warga AS menilai perang tersebut lebih banyak membawa kerugian daripada manfaatnya, melemahkan posisi AS di mata dunia dan memperburuk tekanan ekonomi di dalam negeri.
Dari hasil survei itu juga diketahui bahwa mayoritas warga AS kini menolak cara Trump dalam menangani perang dengan Iran.
Melansir laman presstv.ir, Jumat 8 Mei 2026, dari survei itu menunjukkan lebih dari 60 persen responden atau sekitar 6 dari 10 warga AS tidak menyetujui kebijakan Trump. Sementara itu hanya 33 persen yang mendukung kebijakan konfrontatifnya yang dinilai berisiko membuat AS semakin terisolasi secara global.
Tak hanya itu saja, diketahui kekecewaan publik terhadap Trump meningkat tajam sejak Maret lalu. Saat itu 54 persen warga Amerika menyatakan tidak setuju terhadap perang yang digaungkan Trump, sedangkan hanya 33 persen yang mendukung kebijakan Iran yang dibuatnya.
Penolakan terhadap perang AS melawan Iran bahkan lebih besar lagi. Sebanyak 61 persen warga Amerika menilai operasi militer tersebut lebih banyak membawa dampak buruk daripada baiknya. Pandangan itu bahkan didukung oleh seperempat responden dari Partai Republik. Sementara hanya 38 persen yang percaya perang tersebut lebih banyak membawa manfaat daripada kerugian.
Di kalangan Partai Republik sendiri, penolakan juga terlihat mengalami peningkatan. Meski 72 persen masih mendukung kebijakan Trump terhadap Iran, angka yang tidak setuju kini naik menjadi 22 persen, dari sebelumnya 15 persen pada Maret lalu.
Sebanyak 22 persen responden Partai Republik juga menilai posisi Amerika Serikat di dunia semakin memburuk, angka ini naik dua kali lipat dibanding angka 11 persen pada Januari lalu.
Survei itu juga menemukan bahwa 62 persen warga Amerika percaya Trump telah melemahkan posisi AS secara internasional dan merusak citra negara tersebut lewat kebijakan luar negeri yang agresif. Angka itu naik dari 57 persen pada Januari.
Tekanan ekonomi di dalam negeri juga memperbesar gelombang penolakan. Sebanyak 61 persen warga Amerika kini tidak puas dengan cara Trump menangani ekonomi, sedikit meningkat dibanding Maret, sementara hanya 35 persen yang menyatakan setuju.
Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu sumber kemarahan terbesar. Lebih dari 80 persen responden mengatakan biaya energi kini membebani anggaran rumah tangga mereka. Mayoritas responden juga secara langsung menyalahkan Trump atas krisis tersebut.
Survei itu juga menunjukkan 63 persen warga Amerika merasa kondisi ekonomi tidak bekerja dengan baik untuk mereka secara pribadi. Sementara 56 persen menilai wilayah tempat tinggal mereka kini tidak terlalu terjangkau atau bahkan sama sekali tidak terjangkau dari sisi biaya hidup.
CEO raksasa energi AS, Mike Wirth, memperingatkan bahwa kekurangan minyak mentah mulai terjadi akibat penutupan Selat Hormuz serta dampak perang AS-Israel terhadap Iran.
“Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik. Permintaan harus menyesuaikan dengan pasokan. Perekonomian akan terpaksa melambat,” kata Wirth dalam sebuah acara.
Akibat situasi tersebut, harga minyak kembali melonjak tajam. Beberapa negara bahkan mulai melakukan pembatasan penggunaan energi karena dampak krisis yang dipicu perang AS-Israel terhadap Iran.
Produksi pupuk juga ikut terganggu parah, memicu kekhawatiran akan bencana pangan global. CEO Yara, Svein Tore Holsether, memperingatkan miliaran porsi makanan bisa hilang akibat runtuhnya pasokan pupuk dunia.