Eks Hakim AS Sebut Serangan Trump Malah Angkat Iran Jadi Negara Sangat Kuat
Agresi militer yang dilakukan Donald Trump terhadap Iran disebut-sebut menciptakan petaka sendiri untuk Amerika Serikat. Mantan Hakim AS, Andrew Napolitano menyebut serangan AS justru merugikan Amerikan Serikat. Menurutnya, Trump gagal mencapai tujuannya yakni merebut atau melemahkan material nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran.
Agresi militer tersebut malah memicu inflasi, menjauhkan AS dari sekutu-sekutunya di Eropa dan membuat Iran menjadi lebih kuat.
“Sebaliknya, Trump justru mengalami penurunan besar dalam kredibilitas internasional dan posisi politik di dalam negeri. Harga bahan bakar dan pangan melonjak di seluruh Amerika, sementara sekutu-sekutu Eropa seperti Jerman, Prancis, Spanyol, dan Inggris menolak ikut terlibat karena mereka melihat konflik ini lebih didorong kepentingan Israel dibanding keamanan nasional Amerika,” ujarnya dikutip dari laman presstv.ir, Kamis 7 Mei 2026.
Mantan hakim AS ini juga menyinggung soal Selat Hormuz, disebutnya jalur pelayaran global itu kini berubah dari jalur yang stabil dan aman menjadi zona pertempuran yang membuat harga minyak dunia melonjak.
Napolitano juga menjelaskan bahwa penolakan negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Spanyol dan Inggris untuk bergabung dengan project freedom di Selat Hormuz menunjukkan bahwa negara sekutu di Eropa menyadari bahwa konflik tersebutlah bukan perang mereka.
“Negara-negara itu melihat konflik ini muncul akibat pilihan strategis Israel dan kepatuhan Trump terhadap tuntutan Israel,” katanya.
Ia menambahkan, Eropa tidak memperoleh keuntungan apa pun dari konflik tersebut, sementara Trump justru mengalami penurunan posisi politik karena minimnya dukungan dari sekutu.
Menurut Napolitano, meski banyak pihak menganggap perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran layak berujung pemakzulan secara hukum dan konstitusi, Kongres AS yang saat ini dikuasai Partai Republik masih enggan mengambil langkah tersebut.
“Para anggota parlemen secara pribadi diyakini menganggap pemakzulan memang layak dilakukan, tetapi mereka takut kepada presiden,” ujarnya.
Namun, ia memperkirakan situasi politik Amerika bisa berubah drastis pada Januari 2027 ketika Partai Demokrat diproyeksikan menguasai Kongres. Pada saat itu, menurutnya, akan ada keberanian politik yang cukup untuk mendorong proses pemakzulan Trump.
Napolitano juga menilai salah satu dampak besar dari perang ini adalah munculnya Iran sebagai kekuatan militer yang tangguh dan mampu membuat AS serta Israel frustrasi. Ia bahkan menyebutnya sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.
Menurutnya, Iran kini masuk dalam jajaran negara-negara yang sangat kuat karena berhasil menghentikan laju dua kekuatan militer terbesar dunia melalui keberanian, tekad, dan kemampuan.
Ia juga menyoroti mekanisme baru transportasi maritim Iran di Selat Hormuz yang disebut menjadi aset strategis sangat kuat. Napolitano menilai AS kini tidak berdaya untuk mencegah kendali Iran atas jalur perairan penting tersebut.
“Jika Iran benar-benar memberlakukan biaya bagi kapal-kapal yang melintas, negara itu akan menjadi sangat kaya dalam waktu dekat dan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu negara paling berpengaruh di dunia,” katanya.
Ia menambahkan, pengaruh Iran di Selat Hormuz juga bisa menjadi semacam senjata balasan terhadap upaya sanksi baru yang mungkin dijatuhkan di masa depan.