Trump Hentikan Sementara Project Freedom di Selat Hormuz, Blokade Iran Tetap Berlaku
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Selasa, 5 Mei 2026, bahwa ia menghentikan operasi militer AS untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz setelah hanya satu hari berlangsung, dalam upaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Operasi Trump yang dijuluki "Project Freedom", untuk membantu kapal-kapal meninggalkan Selat Hormuz, jalur sempit menuju Teluk tempat Iran merebut kendali sebagai respons atas serangan yang diterimanya, dimulai pada Senin.
Namun, pemimpin AS itu mengatakan di Truth Social bahwa ia sekarang menghentikannya setelah permintaan dari mediator Pakistan dan negara-negara lain, dengan mengatakan bahwa "kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final" dengan Teheran.
"Kami telah sepakat bersama bahwa, sementara blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom ... akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani," kata Trump.
Washington terus memblokade pelabuhan Iran dalam upaya untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari.
Ketegangan meningkat tajam terkait operasi Hormuz, dengan AS mengatakan telah menenggelamkan tujuh kapal Iran, dan beberapa kapal sipil diserang, diduga dari Iran.
Bentrokan di Selat Hormuz bukanlah bagian dari perang awal, kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Selasa pagi. "Ini bukan operasi ofensif; ini adalah operasi defensif," kata Rubio. "Dan artinya sangat sederhana - tidak ada tembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu."
Ia menambahkan bahwa AS telah menyelesaikan operasi ofensifnya terhadap Iran, yang diberi nama "Operasi Epic Fury".
"Project Freedom" sendiri menuai kontroversi di dalam negeri AS. Program ini diumumkan setelah tenggat waktu hukum bagi Presiden Trump untuk memperoleh persetujuan Kongres dalam operasi militer telah terlewati. Trump bersikeras bahwa perang telah "berakhir", klaim yang ditentang sejumlah anggota parlemen.
Pada 3 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif bertajuk "Project Freedom" untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dari wilayah tersebut.
Komando Pusat AS, United States Central Command (CENTCOM), menyatakan dukungan militer terhadap inisiatif tersebut melibatkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, berbagai platform tanpa awak lintas domain, serta sekitar 15.000 personel militer. Operasi itu dilaporkan mulai berjalan sejak Senin pagi.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz berada di tangan mereka. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa persetujuan Teheran.
Otoritas Iran telah nerilis peta yang menurut mereka merupakan perluasan wilayah laut yang sekarang berada di bawah kendali Tehera, yang meluas jauh melampaui selat tersebut hingga mencakup bentangan panjang garis pantai UEA.