Selat Hormuz Membara! Iran Serang Kapal dan Pelabuhan Minyak UEA, Misi Trump Justru Picu Eskalasi Baru

Ilustrasi kapal Diserang di Selat Hormuz, Serangan Balasan Iran, Kapal dan Pelabuhan Jadi Sasaran, Misi AS Dipertanyakan, Iran Klaim Kuasai Perairan, Trump Dorong Negara Lain Ikut Campur, Jalur Energi Dunia Terancam, Ancaman Terbuka Iran
Ilustrasi kapal Diserang di Selat Hormuz

 Ketegangan geopolitik global saat ini sedang memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa pekan terakhir. Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia, kini berubah menjadi titik panas konflik setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal dan fasilitas minyak di Uni Emirat Arab (UEA).

Ironisnya, aksi militer Iran justru datang sebagai respons instan terhadap pengumuman Donald Trump soal Project Freedom. Operasi yang digadang-gadang sebagai "penyelamat" jalur pelayaran internasional itu malah memicu gelombang serangan balasan dalam hitungan jam. Namun alih-alih meredakan ketegangan, operasi tersebut justru memicu respons keras dari Teheran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan Balasan Iran, Kapal dan Pelabuhan Jadi Sasaran

Pada Senin waktu setempat, Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz. Bahkan, sebuah pelabuhan minyak penting di wilayah Fujairah, UEA, dilaporkan terbakar setelah dihantam drone. Fujairah selama ini dikenal sebagai jalur alternatif ekspor minyak yang tidak melewati Selat Hormuz, sehingga serangan ini menandai perluasan target strategis Iran.

Kementerian luar negeri Korea Selatan juga mengonfirmasi bahwa salah satu kapal dagangnya mengalami ledakan dan kebakaran di wilayah tersebut. Sementara itu, otoritas maritim Inggris melaporkan dua kapal lain turut menjadi sasaran serangan di dekat perairan UEA.

Perusahaan minyak nasional UEA, ADNOC, menyebut salah satu kapal tanker kosong mereka diserang drone saat mencoba melintasi jalur tersebut.

Misi AS Dipertanyakan, Iran Klaim Kuasai Perairan

Militer AS bersikukuh menyatakan telah berhasil mengawal dua kapal dagangnya melintasi Selat Hormuz dalam kondisi aman. Namun klaim itu langsung dihempaskan oleh Teheran.

Garda Revolusi Iran dengan tegas menyatakan: nol kapal komersial berhasil menembus selat dalam beberapa jam terakhir. Sebagai "bukti," mereka merilis peta baru yang memperluas garis kendali maritim Iran  termasuk mencaplok sebagian perairan yang semula statusnya internasional.

Tak tinggal diam, Komandan Pasukan AS di kawasan, Laksamana Brad Cooper, balik melontarkan klaim keras: pihaknya telah menghancurkan enam kapal kecil Iran dan memberi ultimatum agar pasukan Teheran menjauhi aset-aset militer Amerika. Namun, pernyataan ini kembali dibantah oleh Teheran.

Trump Dorong Negara Lain Ikut Campur

Melalui media sosial, Trump menyebut Iran telah menyerang kapal dari negara lain, termasuk Korea Selatan.

“Iran telah menembaki negara-negara yang tidak terkait dengan pergerakan kapal dalam Project Freedom, termasuk kapal kargo Korea Selatan. Mungkin sudah saatnya Korea Selatan ikut bergabung dalam misi ini,” tulis Trump.

Ajakan Trump untuk "bergabung" dalam misi ini pada dasarnya adalah upaya mengumpulkan sekutu. Sayangnya, sampai saat ini Washington tampak berjalan sendirian.

Jalur Energi Dunia Terancam

Selat Hormuz, Iran

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air. Ia adalah jantung distribusi energi dunia, di mana seperlima pasokan minyak global mengalir setiap hari. Sejak operasi militer AS-Israel melawan Iran dua bulan lalu memicu konfrontasi, Teheran praktis mengunci selat tersebut dan menjadikannya no-go zone bagi kapal-kapal asing.

Project Freedom? Belum ada buktinya berhasil mendobrak gembok itu. Perusahaan pelayaran global yang punya hitungan mati soal risiko masih memilih menunggu di pinggir, tak berani masuk sebelum ada jaminan keamanan nyata.

Sementara itu, pasar sudah panik. Harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 5 persen dalam sekejap, sinyal jelas bahwa investor global sangat tidak suka dengan ancaman gangguan pasokan yang mengintai.

Ancaman Terbuka Iran

Iran tidak sedang bercanda. Garda Revolusi mereka menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya dalam kendali Teheran, dan kapal mana pun yang ingin aman melintas harus minta izin dulu. Ancaman mereka bahkan lebih tajam dari sekadar blokade.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Pasukan asing, khususnya militer AS, akan menjadi sasaran serangan jika nekat masuk wilayah tersebut," bunyi peringatan keras dari Teheran.

Upaya diplomatik yang beberapa minggu lalu masih menunjukkan titik terang, bahkan kini nyaris gagal. Proposal 14 poin yang diajukan Iran via Pakistan belum mendapat respons positif, dan Trump sudah memberi isyarat kuat bahwa Washington tidak tertarik.