Klaim Tes Kognitif Sempurna, Trump Justru Disindir Dokter Kenamaan Soal Kondisinya
Akhir April lalu, Presiden Donald Trump sempat menuliskan pernyataan di akun media sosial Truth terkait dengan kecerdasan otaknya. Dalam unggahannya itu, dia mengklaim berhasil lulus dengan nilai sempurna dalam tes kognitif sambil menyindir presiden terdahulunya, Barack Obama dan Joe Bidden.
“Siapapun yang mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden seharusnya diwajibkan menjalani tes kognitif sebelum ikut dalam Pemilu! Dengan begitu kita tidak akan terkejut melihat orang seperti Barack ‘Hussein’ Obama atau Sleepy Joe Biden bisa TERPILIH. Negara kita pasti akan jauh lebih baik! Saya sudah mengikuti tes tiga kali selama masa jabatan saya (TIGA KALI) sebagai presiden saya lulus sempurna di tiga kali tes tersebut. Sebuah pencapaian yang bahkan untuk satu kali tes saja menurut dokter sangat jarang terjadi!,” tulis Trump.
Unggahan Trump tersebut sempat menjadi sorotan ahli jantung sekaligus analis medis utama CNN, Dr. Jonathan Reiner. Dalam unggahannya, Reiner mengatakan sepakat dengan pernyataan tersebut.
“Saya sangat setuju, siapapun yang mencalonkan diri sebagai presiden harus menjalani pemeriksaan medis menyeluruh termasuk tes kognitif dan psikiatri sebelum pemilu. Saya juga berpendapat presiden seharusnya wajib menjalani evaluasi pemeriksaan seperti itu setiap tahunnya dan hasilnya diserahkan ke Kongres,” tulis dokter tersebut.
Namun di akhir pernyataannya, Reiner menyinggung kalau Trump sudah melewati jadwal pemeriksaan tahunannya, apalagi setelah Trump membuat serangkaian unggahan yang dinilai tidak biasa pada Kamis lalu.
“Ngomong-ngomong presiden sudah melewati jadwal pemeriksaan tahunannya,” sentil sang dokter.
Pernyataan Reiner tersebut langsung mendapat kritik dari pihak Gedung Putih. Dia menyingung bahwa Reiner merupakan simpatisan dari Partai Demokrat. Sehingga tak heran jika dokter jantung tersebut memberikan pernyataan ‘omong kosong’ soal Trump.
“Kalau terdengar seperti bebek bisa jadi itu memang hanya dokter partisan dari kubu Demokrat. Presiden Trump adalah presiden paling tajam, paling mudah diakses dan paling energik dalam sejarah Amerika. Siapapun yang mengaku professional medis tapi membuat diagnosis sembarangan atau spekulasi demi kepentingan politik jelas melanggar sumpah Hipoktrates,” kata Juru Bicara Gedung Putih, Davis Ingle saat dimintai keterangan.
Pemeriksaan kesehatan tahunan terakhir Trump dilakukan pada 11 April tahun lalu.
Dua hari setelahnya, pada 13 April 2025, dokter Gedung Putih Sean Barbabella merilis laporan hasil pemeriksaan tersebut, yang mencakup tes diagnostik, pemeriksaan laboratorium, serta konsultasi dengan 14 dokter spesialis.
Dalam laporan itu disebutkan tinggi badan Trump 190 cm dengan berat sekitar 101 kilogram.
“Presiden Trump tetap dalam kondisi kesehatan yang sangat baik, dengan fungsi jantung, paru-paru, saraf, dan kondisi fisik umum yang kuat,” kata Barbabella. “Ia juga menunjukkan kesehatan kognitif dan fisik yang sangat baik serta sepenuhnya mampu menjalankan tugas sebagai Panglima Tertinggi dan Kepala Negara.”
Beberapa bulan kemudian, pada Juli, Gedung Putih mengungkap bahwa Trump mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum di mana pembuluh darah di kaki kesulitan mengalirkan darah kembali ke jantung.
Lalu pada Oktober, Trump kembali menjalani pemeriksaan rutin tahunan kedua, yang kembali memicu spekulasi soal kondisi kesehatannya. Kali ini, pemeriksaan mencakup pencitraan medis lanjutan, tes laboratorium, serta evaluasi kesehatan preventif.
“Presiden Trump terus menunjukkan kondisi kesehatan yang sangat baik secara keseluruhan,” ujar Barbabella saat itu.