Aturan Baru di Piala Dunia 2026: Tutup Mulut Saat Bertengkar dan Walk Out Bisa Kartu Merah
International Football Association Board (IFAB) resmi menyetujui dua aturan baru terkait disiplin pemain yang akan diterapkan pada Piala Dunia 2026.
Pemain yang menutup mulut saat terlibat konfrontasi dengan lawan dapat dikenai kartu merah. Selain itu, pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit juga berpotensi mendapat sanksi serupa.
Hal tersebut disampaikan usai keputusan diambil oleh badan yang mengatur peraturan dalam sepak bola tersebut pada pertemuan khusus di Vancouver, Kanada, pada Selasa (28/4/2026).
“Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutup mulut dalam situasi konfrontatif dengan lawan dapat dikenai kartu merah,” demikian pernyataan IFAB.
Respons Insiden Diskriminasi dan Kontroversi Lapangan
Aturan ini merupakan bagian dari usulan FIFA yang sebelumnya telah melalui konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan sepak bola.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyoroti kebiasaan pemain menutup mulut saat terlibat konflik di lapangan, yang dinilai menyulitkan pengawasan terhadap potensi pelanggaran, termasuk dugaan ujaran diskriminatif.
Isu ini mengemuka setelah insiden dalam laga Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid ketika pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melontarkan ujaran diskriminatif kepada Vinicius Junior.
Dalam kejadian tersebut, pertandingan sempat dihentikan setelah wasit mengaktifkan protokol anti-diskriminasi UEFA.
Prestianni kemudian dijatuhi sanksi larangan bermain enam pertandingan oleh UEFA.
Sanksi Tegas untuk Aksi Walk Out
Selain itu, IFAB juga memperkenalkan aturan terkait aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.
“Atas kebijakan penyelenggara, wasit dapat memberikan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes,” tulis IFAB, seperti dikutip dari Reuters.
Aturan ini juga berlaku bagi ofisial tim yang memicu aksi tersebut. Tim yang menyebabkan pertandingan terhenti berpotensi dinyatakan kalah.
Kebijakan ini muncul setelah insiden pada final Piala Afrika 2025, ketika pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai protes terhadap penalti untuk Maroko.
Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan Senegal, tetapi kemudian hasilnya dianulir setelah banding Maroko dikabulkan, dan kemenangan 3-0 diberikan kepada Timnas Maroko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang