Trump Ancam Serangan Lebih Dahsyat ke Iran Jika Tak Penuhi Kesepakatan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat konferensi pers di Washington DC, Senin, 6/4
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat konferensi pers di Washington DC, Senin, 6/4

Presiden Donald Trump memperingatkan akan adanya serangan yang lebih besar, lebih hebat, dan lebih kuat daripada yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya  jika Iran tidak mematuhi apa yang ia sebut sebagai kesepakatan sebenarnya terkait gencatan senjata.

“Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, bersama tambahan amunisi, persenjataan, serta segala hal lain yang dianggap perlu dan sesuai untuk melanjutkan operasi penghancuran terhadap musuh yang sudah sangat melemah, akan tetap berada di dalam dan sekitar Iran sampai kesepakatan sebenarnya benar-benar dipatuhi,” katanya seperti dikutip dari laman The Times, Jumat 10 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Trump juga mengatakan bahwa, berbeda dengan berbagai pernyataan yang beredar, sejak lama sebenarnya sudah ada kesepakatan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus tetap terbuka serta aman untuk pelayaran. Ia menambahkan bahwa militer Amerika Serikat saat ini sedang bersiaga dan menunggu, bahkan disebut siap menjalankan misi berikutnya.

Meski rincian kesepakatan sebenarnya belum dipublikasikan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada Rabu bahwa hak Iran untuk memperkaya uranium menjadi bagian penting dari proposal 10 poin milik Iran sendiri.

Trump sebelumnya menyebut proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar yang bisa digunakan untuk bernegosiasi, meski belum jelas versi mana yang ia maksud.

Sementara itu, kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami dilaporkan mengatakan bahwa perlindungan hak Iran untuk memperkaya uranium adalah hal yang wajib dalam setiap pembicaraan gencatan senjata.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut isu pengayaan uranium sebagai garis merah yang tidak akan ditinggalkan oleh Presiden.

Isu ini diperkirakan menjadi fokus utama dalam pertemuan antara negosiator AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, bersama menantu Trump Jared Kushner dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff, dengan pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, pada hari Sabtu waktu setempat.

Peringatan terbaru dari Presiden AS ini muncul di tengah gencatan senjata rapuh selama dua minggu yang disepakati sebelum batas waktu yang ditetapkan Trump pada 7 April. Ketegangan meningkat akibat situasi di Selat Hormuz serta serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

Perselisihan Selat Hormuz jadi sumber ketegangan

Perbedaan pandangan soal Selat Hormuz menjadi salah satu sumber utama ketidakstabilan. Selat ini merupakan jalur penting antara Teluk Persia dan Teluk Oman, yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Dalam proposal Iran, Teheran disebut ingin tetap memegang kendali atas selat tersebut, yang sebelumnya juga digunakan sebagai alat tekanan dalam konflik untuk memengaruhi pasar energi dan menekan AS serta sekutunya.

Gedung Putih pada Rabu membantah laporan yang menyebut Iran menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai sebagai respons atas serangan Israel ke Hezbollah. Namun, Leavitt juga menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap jalur pelayaran laut tidak bisa diterima.

Ia kembali menegaskan harapan dan tuntutan Presiden Trump agar Selat Hormuz segera dibuka kembali secara cepat, aman, dan tanpa gangguan.

Trump sebelumnya sempat mengusulkan agar AS dan Iran bersama-sama mengenakan biaya tol untuk kapal yang melewati selat tersebut. Namun menurut Leavitt, meski ide itu pernah dilontarkan, Trump pada akhirnya menginginkan jalur tersebut terbuka tanpa batasan apa pun.

Pada Kamis pagi, media pemerintah Iran menampilkan grafik yang menyebut bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah memasang ranjau laut di Selat Hormuz selama perang. Disebutkan pula bahwa pelayaran aman hanya bisa dilakukan jika ada koordinasi dengan IRGC untuk menghindari ranjau.

Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga energi dan mengguncang pasar global, dengan volatilitas yang diperkirakan masih akan berlanjut.

Para ahli juga mengingatkan dampak ekonomi yang sudah terjadi. Emily Holland dari Foreign Policy Research Institute mengatakan bahwa dunia sedang menghadapi krisis energi besar, dan meski jalur pelayaran kembali dibuka, dampaknya tetap akan terasa, terutama bagi negara-negara miskin yang semakin kesulitan mendapatkan energi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, ada kekhawatiran lain terkait jalur laut penting lainnya, yaitu Bab el-Mandeb, yang berada antara Yaman, Djibouti, dan Eritrea di Tanduk Afrika. Jalur ini juga disebut berada dalam ancaman.

Noam Raydan dari The Washington Institute for Near East Policy menegaskan bahwa Bab el-Mandeb sama pentingnya dengan Hormuz bagi ekonomi global, karena menjadi jalur utama kapal kargo dan tanker minyak yang melintasi berbagai wilayah dan benua.