Iran Peringatkan Trump: Netanyahu Bisa Gagalkan Perundingan dan Hancurkan Perekonomian AS
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengganggu upaya diplomasi di tengah rencana pembicaraan gencatan senjata antara Teheran dan Washington.
Dalam pernyataannya di media sosial pada Kamis waktu setempat, Araghchi menyinggung bahwa sidang kasus hukum Netanyahu yang akan kembali digelar pada hari Minggu bisa menjadi faktor yang memengaruhi upaya perdamaian. Ia menilai situasi itu berpotensi dimanfaatkan untuk menghambat stabilitas di kawasan.
Pernyataan Araghchi muncul di saat gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan segera dimulai. Kesepakatan ini dimediasi oleh Pakistan dan bertujuan membuka jalan bagi perundingan untuk meredakan ketegangan di kawasan Asia Barat.
Ada juga harapan bahwa langkah ini bisa berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas, termasuk gencatan senjata di seluruh kawasan, khususnya di Lebanon.
“Sidang kasus Netanyahu dimulai lagi hari Minggu. Jika gencatan senjata berlaku di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, itu bisa mempercepat proses hukum terhadapnya,” tulis Araghchi dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 10 April 2026.
Ia juga menambahkan, jika Amerika Serikat membiarkan Netanyahu menghambat diplomasi, dampaknya bisa merugikan AS sendiri, bahkan terhadap ekonominya.
“Jika AS memilih membiarkan Netanyahu merusak upaya diplomasi, itu akan menjadi pilihan mereka sendiri. Kami menilai itu langkah yang tidak bijak, tapi kami siap menghadapinya,” ujarnya.
Sebelumnya, pada November tahun lalu, Presiden AS Donald Trump dalam sebuah surat pernah meminta Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu yang saat itu menghadapi tiga dakwaan korupsi.
Permintaan itu menyusul pernyataan Trump pada Oktober saat berbicara di parlemen Israel, di mana ia pertama kali menyarankan agar Herzog mempertimbangkan pemberian pengampunan. Netanyahu sendiri juga tengah menghadapi proses hukum di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang.
Pada hari yang sama, Araghchi juga membahas serangan Israel ke bangunan permukiman di Lebanon dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot.
Lebanon disebut menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS, hal yang juga ditegaskan oleh Pakistan sebagai pihak mediator.
“Sayangnya, kami masih melihat pelanggaran gencatan senjata dan kembalinya serangan keras Israel ke Lebanon,” kata Araghchi.
Ia menegaskan bahwa penghentian serangan di kawasan, termasuk di Lebanon, merupakan bagian penting dari kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Araghchi juga meminta masyarakat internasional, termasuk negara-negara Eropa, untuk menghentikan serangan Israel terhadap Lebanon.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan pentingnya mengakhiri konflik dan berharap perundingan yang akan datang bisa membawa kembali stabilitas dan perdamaian di kawasan. Ia juga menyerukan agar serangan Israel ke Lebanon segera dihentikan.