Trump Siap Gempur Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka, Kemlu Iran: Tak Akan Tunduk pada Ancaman
Ketegangan antara Donald Trump dan Iran masih memanas dalam eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda. Presiden Amerika Serikat itu melontarkan ancaman keras yang menyoroti potensi serangan langsung terhadap infrastruktur vital Iran, hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan berakhir.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan bahwa Iran memiliki waktu sangat terbatas untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, ia mengklaim militer Amerika Serikat mampu melumpuhkan fasilitas penting Iran dalam waktu singkat.
“Di tempat lain di negara ini, bagaimana Anda bisa memilih Demokrat itu penting, karena mereka punya waktu sampai besok,” ujar Trump dalam pernyataannya Truth Social. Ia kemudian menambahkan ancaman yang lebih spesifik, “Tidak akan ada pembangkit listrik. Terima kasih banyak semuanya,” sambungnya.
Trump menyebut kemampuan militer AS dapat menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran hanya dalam waktu sekitar empat jam jika keputusan serangan diambil. Meski demikian, ia tetap membuka ruang diplomasi, dengan menyatakan bahwa langkah militer bisa dihindari apabila Iran memenuhi tuntutan Washington.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump bahkan menggunakan bahasa yang lebih dramatis. Ia menulis bahwa dunia berada di ambang titik balik berbahaya.
“Seluruh peradaban bisa mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi,” tulisnya.
Selat Hormuz, Iran
Pernyataan itu langsung memicu respons keras dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Bagei, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika diserang. Ia menyebut ancaman Trump sebagai pelanggaran serius yang berpotensi mengarah pada kejahatan perang.
Menurutnya, angkatan bersenjata Iran telah berada dalam kondisi siaga penuh, termasuk untuk menargetkan aset Amerika Serikat maupun pihak yang terlibat dalam operasi militer bersama Washington.
Di tengah perang pernyataan ini, situasi di lapangan juga menunjukkan eskalasi nyata. Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg, meski menegaskan tidak menyasar fasilitas minyak.
Sementara itu, laporan dari berbagai sumber menyebut bahwa Israel turut memperluas serangan dengan menargetkan jalur transportasi strategis di seluruh Iran. Infrastruktur seperti rel kereta api, jembatan, dan jalan raya utama dilaporkan menjadi sasaran, dengan alasan digunakan untuk mobilisasi militer Iran.
Serangan tersebut berdampak langsung pada warga sipil. Media Iran melaporkan adanya korban jiwa akibat serangan di jembatan kereta api di Kashan, serta gangguan besar pada jaringan transportasi nasional. Sejumlah jalur utama bahkan terpaksa ditutup karena kerusakan dan risiko lanjutan.
Tidak hanya serangan fisik, gangguan siber juga dilaporkan terjadi pada sistem transportasi Iran, memperparah situasi yang sudah tegang. Pemerintah Iran menyebut serangan ini sebagai bagian dari operasi gabungan yang menargetkan infrastruktur sipil dan militer sekaligus.
Ketegangan ini memperlihatkan betapa krisis telah berkembang melampaui sekadar konflik diplomatik. Ancaman terhadap Selat Hormuz membawa implikasi global, mengingat jalur tersebut dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan belum ada tanda kesepakatan, potensi konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran kian meningkat. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz dinilai berisiko mengganggu stabilitas energi global, mengingat jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Pengamat hubungan internasional dari Center for Strategic and International Studies, Anthony H. Cordesman, dalam berbagai analisanya menilai bahwa eskalasi militer di Teluk Persia berpotensi meluas dengan cepat jika tidak diimbangi langkah deeskalasi. Senada, peneliti Timur Tengah di International Crisis Group, Ali Vaez, juga kerap menekankan bahwa salah perhitungan kecil saja dalam konflik AS-Iran dapat memicu konfrontasi yang lebih besar di kawasan.