Trump Akui AS Sempat Persenjatai Demonstran Iran Saat Aksi Januari Lalu

Presiden AS Donald Trump memimpin pertemuan Board of Peace, Kamis 19/2
Presiden AS Donald Trump memimpin pertemuan Board of Peace, Kamis 19/2

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa AS sempat diam-diam mencoba memasok senjata kepada para demonstran di Iran. Pasokan senjata ini dikirim melalui perantara kelompok Kurdi, beberapa minggu sebelum perang saat ini dimulai bahkan ketika Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran.

“Kami mengirim senjata ke para demonstran, banyak sekali,” kata Trump seperti dikutip Fox News pada Minggu malam waktu setempat dan dikutip ulang dari laman Al Jazeerah, Selasa 7 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menyebut bahwa senjata-senjata tersebut kemungkinan justru disimpan oleh pihak Kurdi.

Pernyataan ini muncul di tengah perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari, beberapa minggu setelah gelombang demonstrasi pecah akibat tingginya biaya hidup di Iran. Aksi protes tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi setelah bertahun-tahun terkena sanksi AS.

Sejumlah laporan media, termasuk dari Channel 12 Israel, pada Januari lalu juga menyebut bahwa para demonstran diduga mendapat pasokan senjata dari pihak asing.

Trump juga mengklaim bahwa selama aksi protes, Iran telah membantai sekitar 45.000 warga sipil. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Pihak berwenang Iran menyatakan sebanyak 3.117 orang tewas selama beberapa pekan demonstrasi, sekaligus membantah tuduhan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia yang menyebut aparat negara bertanggung jawab atas kematian tersebut.

Pejabat Iran juga mengatakan ratusan polisi tewas dan fasilitas pemerintah dirusak oleh para demonstran, yang mereka sebut sebagai perusuh, penyabot, dan teroris. Sejak itu, Iran telah mengeksekusi sejumlah orang dengan tuduhan terlibat dalam aksi protes atas perintah pihak asing.

Sementara itu, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan pada akhir Januari bahwa mereka telah memverifikasi 6.872 kematian dan masih menyelidiki lebih dari 11.000 kasus lainnya. Seorang pelapor khusus PBB bahkan memperkirakan jumlah korban bisa melebihi 20.000 jiwa.

Al Jazeera menyebut angka-angka tersebut juga belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.

Bantahan dari kelompok Kurdi

Sejumlah kelompok oposisi Kurdi di Iran membantah klaim Trump bahwa mereka menerima senjata dari AS. Hal ini dilaporkan oleh Rudaw, media yang berbasis di wilayah otonomi Kurdi di Irak.

Pejabat senior dari Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), Mohammed Nazif Qaderi,  mengatakan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar.

“Pernyataan itu tidak benar dan kami tidak menerima senjata apa pun. Senjata yang kami miliki berasal dari 47 tahun lalu, didapat dari medan perang Republik Islam, dan sebagian dibeli dari pasar,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mendorong aksi kekerasan.

“Kebijakan kami bukan membuat demonstrasi menjadi anarkis atau menggunakan cara-cara keras. Kami percaya tuntutan harus disampaikan secara damai dan sipil tanpa senjata,” katanya.

Kelompok oposisi Kurdi lainnya, seperti Partai Komala Kurdistan Iran dan Tentara Nasional Kurdistan yang berafiliasi dengan Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), juga membantah klaim Trump.

“Pernyataan Donald Trump tidak jelas bagi kami, yang pasti, kami sebagai pasukan tidak pernah menerima senjata dari AS atau negara mana pun bahkan tidak satu peluru pun,” kata Hamno Naqshbandi dari komando umum Tentara Nasional Kurdistan.

Pada awal Maret, sejumlah kelompok juga membantah laporan media yang menyebut pasukan mereka masuk ke wilayah Iran untuk melawan pemerintah Teheran.

Sebelumnya, laporan Fox News mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa ribuan warga Kurdi Irak telah melancarkan serangan darat ke Iran.

Saat itu, hanya beberapa hari setelah perang AS-Israel dimulai, muncul laporan bahwa AS tengah berupaya menjalin komunikasi dengan kelompok oposisi Kurdi untuk mempersenjatai mereka dan memicu pemberontakan di Iran.

Kelompok bersenjata Kurdi memang telah lama menentang pemerintah Teheran dan kerap melakukan serangan di wilayah Kurdistan Iran serta provinsi barat lainnya. Mereka beroperasi di sepanjang perbatasan Iran-Irak, di mana komunitas Kurdi di kedua negara memiliki kedekatan budaya yang kuat.

Badan intelijen AS, CIA, juga memiliki sejarah kerja sama dengan kelompok Kurdi di Irak, yang pernah diinvasi AS pada 2003.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Suku Kurdi sendiri merupakan kelompok etnis yang berasal dari wilayah Mesopotamia dan dataran tinggi sekitarnya, yang kini mencakup wilayah Turki tenggara, Suriah timur laut, Irak utara, Iran barat laut, dan Armenia barat daya.

Sejumlah kelompok bersenjata Kurdi di Turki dan Suriah kini telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pemberontakan, sementara di Irak, komunitas Kurdi mengelola wilayah otonomi sendiri.