Gianluigi Buffon Ikuti Jejak Gabriele Gravina Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026

Gabriele Gravina, Piala Dunia 2026, FIFA, Gianluigi Buffon, Italia, Bosnia-Herzegovina, Giancarlo Abete, Gianluigi Buffon Ikuti Jejak Gabriele Gravina Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026

Revolusi besar tengah melanda persepakbolaan Italia menyusul keputusan mengejutkan dari legenda hidup Gianluigi Buffon yang resmi menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Delegasi tim nasional.

Langkah ini diambil hanya berselang singkat setelah Gabriele Gravina menyatakan mundur dari kursi Presiden FIGC.

Gelombang pengunduran diri ini merupakan konsekuensi langsung atas kegagalan menyakitkan Gli Azzurri yang kembali absen di putaran final Piala Dunia 2026 di bawah naungan FIFA.

Keputusan Gianluigi Buffon untuk hengkang dari jajaran manajemen tim nasional diumumkan setelah digelarnya rapat darurat di markas besar Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) di Roma pada Kamis (2/4/2026).

Publik Negeri Piza harus menerima kenyataan pahit setelah tim kesayangan mereka gagal menembus turnamen akbar tersebut untuk ketiga kalinya secara beruntun, menyusul kekalahan dari Bosnia-Herzegovina di partai final play-off Zona Eropa.

Gabriele Gravina memutuskan untuk meletakkan jabatan yang diembannya sejak 2018 setelah mendapat tekanan hebat dari berbagai pihak.

Meski sempat membawa Italia merengkuh gelar juara Euro 2020, kegagalan beruntun menuju panggung dunia pada edisi 2022 dan 2026 menjadi catatan merah yang tak terelakkan.

Dalam pernyataannya, federasi mengonfirmasi akan segera menggelar pemilihan ketua baru dalam waktu dekat.

"Gravina menginformasikan kepada Presiden Lega Serie A Ezio Maria Simonelli, Presiden Serie B Paolo Bedin, Presiden Lega Pro Matteo Marani, Presiden Liga Amatir Nasional Giancarlo Abete, Ketua Asosiasi Pesepak Bola Italia Umberto Calcagno, dan Ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia Renzo Ulivieri, bahwa ia telah mengundurkan diri dari jabatan yang dipercayakan kepadanya pada Februari 2025 dan bahwa ia telah meminta diadakannya Sidang Pemilihan Luar Biasa FIGC pada 22 Juni di Roma," bunyi rilis resmi dari federasi dikutip dari Football Italia.

Pernyataan Emosional Gianluigi Buffon

Tak lama setelah sang Presiden mundur, Buffon menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh hati melalui akun media sosialnya.

Mantan penjaga gawang legendaris Juventus tersebut mengungkapkan bahwa dirinya memendam kesedihan yang mendalam atas kegagalan tim nasional dan merasa perlu mengambil tanggung jawab moral.

Gabriele Gravina, Piala Dunia 2026, FIFA, Gianluigi Buffon, Italia, Bosnia-Herzegovina, Giancarlo Abete, Gianluigi Buffon Ikuti Jejak Gabriele Gravina Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026

Gambar yang dirilis Osservatore Romano memperlihatkan Paus Fransiskus (tengah) menerima pohon zaitun dari Lionel Messi (kanan) dan Gianluigi Buffon (kiri) di Vatikan pada 13 Agustus 2013, malam sebelum laga ekshibisi Italia vs Argentina. Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 April 2025 dalam usia 88 tahun. (Photo by Handout / OSSERVATORE ROMANO / AFP)

"Menyerahkan surat pengunduran diri saya hanya satu menit setelah pertandingan melawan Bosnia berakhir adalah tindakan mendesak yang muncul dari lubuk hati saya yang paling dalam," kata Buffon.

"Tindakan itu sama spontannya dengan air mata dan rasa sakit di hati yang saya tahu juga dirasakan oleh kalian semua."

"Saya diminta untuk menunggu sebentar agar semua orang memiliki waktu buat merenung dengan baik," lanjut pria kelahiran Carrara, Italia, itu.

"Kini setelah Presiden Gravina memutuskan untuk mundur, saya merasa bebas melakukan apa yang menurut saya merupakan tindakan yang bertanggung jawab."

Gianluigi Buffon mengungkapkan keyakinannya terhadap soliditas dan semangat tim yang telah dibangun bersama pelatih Gennaro Gattuso beserta seluruh staf pendukung dalam waktu yang sangat terbatas.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kegagalan memenuhi misi utama—yakni membawa kembali Italia ke panggung Piala Dunia—menjadi alasan kuat di balik keputusannya untuk mundur.

Sang legenda merasa sudah saatnya menyerahkan tongkat estafet kepada pimpinan baru agar mereka dapat memilih sosok pengganti yang dianggap paling kompeten untuk mengisi posisi tersebut.

"Meskipun saya sungguh-sungguh percaya bahwa kami telah membangun semangat dan tim yang kuat bersama Rino Gattuso serta seluruh staf dalam waktu sangat terbatas, tujuan utama kami adalah membawa Italia kembali ke Piala Dunia. Dan kami tidak berhasil."

"Sudah sepantasnya saya menyerahkan kepada mereka yang akan menggantikan saya guna memilih orang yang mereka anggap paling tepat untuk mengisi peran saya."

Sebuah Kehormatan Besar

Bagi Buffon, mewakili tim nasional merupakan sebuah kehormatan serta gairah yang telah mendarah daging sejak masa kecilnya.

Selama menjabat, ia mengeklaim telah mencurahkan seluruh energinya untuk berfungsi sebagai jembatan komunikasi, saluran dialog, sekaligus sumber sinergi dalam menyinergikan berbagai sektor, termasuk merancang proyek pembinaan pemain yang terintegrasi mulai dari level usia dini hingga tim nasional U21.

"Mewakili tim nasional adalah suatu kehormatan dan gairah yang telah mengisi hidup saya sejak kecil," ungkap Buffon.

"Saya telah berusaha memenuhi tugas-tugas dengan mencurahkan seluruh energi, memperhatikan semua sektor untuk berperan sebagai jembatan, saluran dialog, dan sumber sinergi antara tim-tim muda, bekerja sama dengan para manajer guna merancang proyek yang dimulai dari pemain termuda dan berlanjut hingga tim nasional U21."

"Semua ini bertujuan untuk meninjau kembali cara kita mengembangkan bakat-bakat tim nasional senior masa depan."

"Saya menyimpan semuanya di hati, dengan rasa syukur atas kesempatan istimewa dan pelajaran yang ditinggalkan bagi saya. Forza Azzurri selalu," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang