Trump Akui Ingin Kuasai Minyak Iran, Pertimbangkan Rebut Pulau Kharg

Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump.

 Pentagon dilaporkan menyiapkan opsi invasi darat terbatas selama beberapa pekan di Iran yang berpotensi mencakup serangan dan perebutan pusat ekspor minyak utama Iran, dan serangan terhadap lokasi pesisir di dekat Selat Hormuz untuk menghancurkan senjata yang mengancam pelayaran komersial dan militer, menurut pejabat Amerika Serikat yang dikutip The Washington Post.

Rencana tersebut disebut tidak mengarah pada invasi penuh, namun dapat melibatkan pasukan operasi khusus dan infanteri konvensional. Skema ini dinilai berisiko karena membuka kemungkinan personel AS terpapar serangan drone, rudal, tembakan darat, hingga bahan peledak improvisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belum ada kepastian apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui opsi tersebut. "Tugas Pentagon adalah melakukan persiapan untuk memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menanggapi laporan itu dilansir Al Jazeera, Senin.

Namun, Presiden Trump terang-terangan mengatakan bahwa AS tertarik mengambil alih minyak di Iran, dengan cara merebut kendali pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.  

"Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan: ‘mengapa Anda melakukan itu?’ Tetapi mereka orang bodoh," kata Trump dalam wawancaranya dengan Financial Times

Menurut Trump, langkah tersebut akan melibatkan perebutan Pulau Kharg, melalui invasi darat terbatas terhadap pusat penempatan minyak mentah utama Iran untuk ekspor.

"Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita memiliki banyak pilihan," kata Trump, menambahkan bahwa operasi apa pun kemungkinan akan membutuhkan pasukan AS untuk tetap berada di sana untuk beberapa waktu.

Pemerintahan Trump diketahui telah mengerahkan tambahan Marinir AS ke Timur Tengah seiring konflik memasuki pekan kelima. Ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga direncanakan dikirim ke kawasan.

Pada Sabtu, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan sekitar 3.500 personel tiba di Timur Tengah menggunakan kapal serbu amfibi USS Tripoli. Mereka tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan datang bersama pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta aset taktis amfibi.

Pejabat yang berbicara kepada Washington Post menyebut diskusi internal selama sebulan terakhir mencakup kemungkinan perebutan Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk—serta serangan ke wilayah pesisir dekat Selat Hormuz untuk menghancurkan sistem senjata yang berpotensi menargetkan pelayaran komersial maupun militer.

Axios dan Wall Street Journal melaporkan bahwa Pentagon juga mempertimbangkan untuk mengirimkan 10.000 pasukan tambahan ke wilayah tersebut, bersamaan dengan kampanye pengeboman yang lebih luas.

Perkiraan durasi operasi yang dibahas bervariasi, dari "minggu, bukan bulan" hingga "beberapa bulan". Pentagon dan pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

Pakistan Mediasi, Iran Keluarkan Ancaman

Laporan ini muncul saat Pakistan, yang berbatasan langsung dengan Iran, memediasi pembicaraan antara Washington dan Teheran. Islamabad menjadi tuan rumah pertemuan dua hari para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu menyatakan bahwa “musuh secara terbuka mengirim pesan negosiasi namun diam-diam merencanakan serangan darat”, seperti dikutip Tasnim News Agency.

Ia juga memperingatkan bahwa pasukan Iran siap menghadapi kedatangan tentara AS di darat. Sebelumnya, Ghalibaf menyinggung adanya laporan intelijen mengenai rencana pendudukan pulau Iran dengan dukungan negara regional yang tidak disebutkan namanya.

Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyatakan kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi sasaran jika berada dalam jangkauan tembak. Pernyataan itu merujuk pada insiden tenggelamnya kapal perang Iran Dena pada 4 Maret.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tasnim juga mengutip sumber militer yang menyebut Iran dapat membuka front baru di sekitar Selat Bab al-Mandeb bila terjadi aksi militer di wilayahnya. Sumber tersebut mengklaim Iran mampu menciptakan “ancaman kredibel” di jalur strategis antara Yaman dan Djibouti itu.

Dalam laporan terpisah, Tasnim menyebut kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran siap berperan jika diperlukan untuk mengendalikan Selat Bab al-Mandeb sebagai respons terhadap musuh-musuh Iran.