Di Tengah Perang, Trump Diam-Diam Kirim Pesan ke Iran Lewat Perantara, Apa Isinya?
Iran dikabarkan menerima pesan dari Amerika Serikat lewat perantara, sebagai sinyal awal untuk membuka peluang perundingan antara kedua negara yang sedang berkonflik. Hal ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Iran kepada CBS News pada Senin waktu setempat, setelah Presiden Trump memberi sinyal bahwa konflik ini berpeluang diselesaikan lewat kesepakatan.
“Kami menerima sejumlah poin dari Amerika Serikat melalui mediator dan saat ini sedang dipelajari,” kata pejabat Iran tersebut dikutip dari laman CBS News, Selasa 24 Maret 2026.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengumumkan lewat media sosial bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh atas konflik diantara kedua negara tersebut dalam beberapa hari terakhir. Ia juga mengatakan kepada wartawan bahwa kedua pihak sudah memiliki sekitar 15 poin kesepahaman, dan pejabat Iran menyatakan bahwa mereka menginginkan perdamaian.
“Saya rasa peluang untuk mencapai kesepakatan sangat besar,” kata Trump dengan optimis.
Trump juga melunak dari ultimatum yang ia sampaikan pada akhir pekan lalu, yang menuntut Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz jalur penting dalam distribusi minyak dunia, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya. Ia menyebutkan bahwa militer AS akan menunda rencana pemboman terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan pembicaraan yang sedang berlangsung.
Awalnya, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya pembicaraan tersebut. Namun, pernyataan Trump memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama 23 hari ini bisa segera mereda. Menyusul kabar itu, harga minyak dunia acuan Brent Crude turun 10 persen pada hari Senin, sementara indeks S&P 500 menguat 1,15 persen.
Iran dan AS sendiri tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dan selama ini berkomunikasi secara tidak langsung melalui negara-negara lain sebagai perantara. Pakistan disebut-sebut berupaya mengambil peran sebagai mediator, menurut laporan CBS News. Selain itu, Oman juga kerap menjadi penengah antara kedua negara, termasuk dalam beberapa putaran pembicaraan nuklir pada awal tahun ini.
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS sedang berkomunikasi dengan sosok penting di Iran, namun bukan pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ia menolak menyebutkan nama orang tersebut dengan alasan tak ingin sosok pemimpin tersebut terbunuh,
Detail dari kemungkinan kesepakatan ini masih belum jelas. Trump menyebut bahwa Iran telah setuju tidak akan memiliki senjata nuklir, yang merupakan salah satu tujuan utama AS sejak awal konflik, selain melemahkan kekuatan militer konvensional Iran.
Di sisi lain, Iran sejak lama membantah memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran awal tahun ini, terutama karena tuntutan Trump agar Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium, syarat yang terus ditolak oleh Iran.
Belum jelas juga apakah Israel akan dilibatkan dalam kesepakatan antara AS dan Iran nantinya. AS dan Israel mulai melancarkan serangan bersama ke Iran sejak akhir Februari, tetapi kedua sekutu ini terkadang berbeda pandangan soal sejauh mana target serangan. Bahkan, Trump sempat menyatakan tidak setuju dengan serangan Israel terhadap salah satu ladang gas alam besar milik Iran pekan lalu.
CBS News telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta komentar namun belum mendapatkan ketarangan resmi.