Trump Tunda Serangan Militer ke Iran Selama 5 Hari, Tanda Menyerah?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan militer AS untuk menunda rencana serangan ke pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Hal ini dilakukan setelah AS melakukan pembicaraan yang dinilai berjalan lancar dan menunjukkan kemajuan dengan Iran.
“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran, dalam dua hari terakhir, telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan lancar terkait penyelesaian penuh dan menyeluruh atas konflik kita di Timur Tengah,” tulis Trump pada hari Senin di platform Truth Social miliknya, menggunakan huruf kapital dikutip dari laman Al Jazeerah, Selasa 24 Maret 2026.
Trump juga menyebut bahwa dirinya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.
Pengumuman terbaru ini diperkirakan akan menjadi kabar yang melegakan bagi kawasan Timur Tengah, yang selama ini terdampak langsung oleh serangan Iran, serta bagi dunia secara luas, mengingat perang dengan Iran telah memicu krisis energi global dan membuat harga minyak melonjak tajam.
Dalam upaya menurunkan harga energi, pada hari Sabtu Trump memberi waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua kapal. Ia memperingatkan bahwa jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik Iran. Ultimatum ini bertujuan untuk mengakhiri kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Koresponden Al Jazeera, Osama Bin Javaid, mengatakan bahwa melalui pengumuman ini, Trump mungkin telah membuka peluang untuk meredakan perang dengan Iran.
“Ini adalah kabar penting yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua pihak di kawasan dan juga dunia… bahwa Donald Trump, yang memulai perang ini secara sepihak tanpa dasar hukum, juga bisa mengakhirinya secara sepihak tanpa syarat apa pun,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis Al Jazeerah, Alan Fisher dari Washington DC mengatakan bahwa Trump tampaknya sedang mencari jalan keluar dari masalah ini.
“Ia menetapkan tenggat waktu lima hari, kita akan lihat ke mana arah pembicaraan ini. Tapi perlu diingat, tenggat waktu dari Trump sering kali fleksibel. Bisa saja pada hari Jumat nanti belum ada penyelesaian,” katanya.
Analis Mohamad Elmasry dari Doha Institute for Graduate Studies menilai pengumuman Trump ini mungkin merupakan cara baginya untuk keluar dengan terhormat.
“Namun pertanyaan yang harus dijawab adalah apa yang akan dilakukan Iran dan Israel, serta sejauh mana mereka bersedia melanjutkan perang tanpa dukungan Amerika Serikat, jika itu yang terjadi,” tambahnya.
Trump mengatakan kepada Fox Business Network bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan dan hal itu bisa terjadi dalam waktu lima hari. Ia juga menyebut bahwa utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, masih terlibat dalam pembicaraan hingga Minggu malam.
Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Mohamed Vall mengatakan bahwa Iran kemungkinan akan meredakan sikapnya meskipun perang sudah berlangsung tiga minggu. “Kemungkinan mereka menolak tawaran ini sangat kecil. Iran tidak ingin melanjutkan perang ini. Mereka mengatakan perang ini dipaksakan kepada mereka dan kawasan. Mereka juga menyatakan bahwa jika ada jaminan, negosiasi lanjutan, tidak ada lagi agresi serupa di masa depan, dan ada kemauan untuk mencapai kesepakatan jangka panjang, maka saya yakin Iran tidak akan menolak,” katanya.