Iran Balas Ancaman Trump, Siap Hancurkan Infrastruktur Timur Tengah
Iran menyatakan akan menghancurkan secara permanen infrastruktur penting di seluruh Timur Tengah jika Amerika Serikat menyerang fasilitas energinya. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Donald Trump mengancam akan meluluhlantakkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu mengatakan bahwa infrastruktur vital, termasuk sektor energi dan minyak di kawasan tersebut akan menjadi target sah jika fasilitas Iran lebih dulu diserang, demikian pernyataannya seperti dikutip dari laman The Guardian, Senin 23 Maret 2026.
Media pemerintah Iran juga mengutip juru bicara militer, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas dengan serangan ke aset energi milik AS dan Israel di kawasan, termasuk fasilitas teknologi informasi dan instalasi desalinasi air.
Seperti diketahui Sabtu kemarin, Presiden AS memberi waktu 48 jam kepada Iran hingga menjelang tengah malam GMT pada Senin untuk membuka Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia. Jika tidak, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Sementara itu, menurut perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional, Ali Mousavi, menyatakan pada Minggu bahwa selat Hormuz sebenarnya terbuka untuk semua kapal, kecuali yang terkait dengan musuh Iran, dan pelayaran tetap bisa dilakukan dengan koordinasi keamanan bersama Teheran.
Namun, pada praktiknya serangan Iran membuat selat tersebut nyaris tertutup. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini. Situasi ini memicu krisis minyak terburuk sejak 1970-an dan membuat harga gas di Eropa melonjak hingga 35% dalam sepekan terakhir.
Eskalasi Makin Meningkat
Sejak 28 Februari, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang target di Israel dan negara-negara Teluk. Lebanon ikut terseret setelah kelompok Hezbollah yang didukung Iran menyerang Israel.
Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel sejak dini hari Minggu, memperingatkan datangnya rudal Iran. Serangan malam sebelumnya melukai puluhan orang di dua kota selatan, Arad dan Dimona.
Militer Israel pada Minggu pagi menyatakan akan membalas dengan menyerang Teheran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, saat mengunjungi Arad, mengatakan para komandan senior Garda Revolusi Iran akan diburu secara pribadi.
“Kami mengejar rezim ini. Kami mengejar IRGC, kelompok kriminal ini. Kami akan menargetkan mereka secara langsung para pemimpin, fasilitas, dan aset ekonominya,” kata Netanyahu.
Militer Israel mengakui tidak mampu mencegat rudal yang menghantam Dimona dan Arad, kota-kota besar terdekat dari pusat nuklir di Gurun Negev, yang diyakini sebagai lokasi satu-satunya persenjataan nuklir di Timur Tengah.
Israel sendiri tidak pernah mengakui memiliki senjata nuklir dan menyatakan fasilitas tersebut hanya untuk penelitian. Serangan ini menjadi pertama kalinya rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel di wilayah itu.
Sekitar 200 orang dilaporkan terluka, termasuk seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dan anak perempuan berusia lima tahun yang kondisinya serius. Media Israel sempat melaporkan indikasi adanya korban tewas, namun belum ada konfirmasi resmi.
Iran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas pengayaan nuklir utamanya di Natanz pada Sabtu. Israel membantah terlibat, sementara Pentagon di Washington menolak berkomentar.
Di Tel Aviv, 15 orang lainnya terluka akibat serangan terpisah yang melibatkan bom klaster. Serangan-serangan ini semakin membebani sistem pertahanan udara Israel yang mulai diuji batas kemampuannya.