Ngaku 'Main Sendiri' Serang Ladang Gas Iran, Netanyahu Ditegur Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta Israel menahan diri dan tidak kembali menyerang infrastruktur gas alam Iran, di tengah eskalasi konflik yang memicu lonjakan tajam harga energi global.
Permintaan itu muncul setelah rangkaian serangan balasan terhadap fasilitas energi memperparah ketegangan dalam perang antara AS–Israel dan Iran. Konflik yang meletus sejak 28 Februari tersebut telah menewaskan ribuan orang, meluas ke kawasan sekitar, serta mengguncang perekonomian dunia usai gagalnya perundingan program nuklir Teheran.
Harga energi melonjak pada Kamis, 19 Maret 2026, setelah Iran merespons serangan Israel terhadap ladang gas utamanya dengan menghantam kawasan industri Ras Laffan di Qatar. Wilayah tersebut merupakan pusat pemrosesan sekitar seperlima pasokan gas alam cair dunia. Kerusakan yang ditimbulkan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pemulihan.
Selain itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga menjadi sasaran serangan. Pelabuhan ini sebelumnya dipandang sebagai alternatif jalur ekspor untuk menghindari potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Serangan-serangan tersebut menegaskan kemampuan Iran dalam memberikan tekanan besar terhadap operasi militer AS dan Israel, sekaligus menunjukkan keterbatasan sistem pertahanan udara dalam melindungi aset energi strategis di kawasan Teluk.
Di tengah tekanan politik domestik akibat kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu, Trump juga mengkritik sekutu yang dinilai lamban merespons permintaan untuk membantu menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Trump mengungkapkan telah secara langsung meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi. "Saya mengatakan kepadanya, ‘Jangan lakukan itu’, dan dia tidak akan melakukannya," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Di sisi lain, sejumlah sumber menyebut Washington tengah mempertimbangkan pengiriman tambahan ribuan pasukan ke Timur Tengah. Namun Trump menegaskan belum memiliki rencana untuk pengerahan pasukan darat.
Netanyahu kemudian mengonfirmasi bahwa Israel bertindak sendiri dalam serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran, sekaligus membenarkan adanya permintaan dari Trump untuk menunda serangan serupa.
Ia juga menyatakan bahwa Iran telah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara selama hampir tiga pekan terakhir, meski menilai perubahan rezim tidak dapat dicapai hanya melalui operasi udara tanpa keterlibatan darat.
Sementara itu, Iran kembali meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, menurut laporan militer kedua pihak, termasuk Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Militer Israel menyebut telah melakukan lebih dari 130 serangan udara dalam 24 jam terakhir terhadap berbagai target di Iran bagian barat dan tengah, termasuk fasilitas peluncur rudal balistik, drone, dan sistem pertahanan udara.
Di kawasan Teluk, otoritas Uni Emirat Arab mengumumkan berhasil membongkar jaringan yang disebut terkait dengan kelompok Hizbullah serta Iran.
Krisis Energi Global Memburuk
Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, kekhawatiran terhadap "guncangan minyak" global semakin meningkat. Sejumlah negara maju seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan kesiapan untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran strategis.
Mereka juga berkomitmen mengambil langkah tambahan guna menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara-negara produsen untuk meningkatkan produksi.
Meski demikian, belum ada sinyal aksi konkret dalam waktu dekat. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa keterlibatan dalam pengamanan jalur laut hanya akan dilakukan setelah konflik benar-benar mereda.