Trump Blokir AI Anthropic, Microsoft Turun Tangan di Pengadilan

Konflik antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic semakin memanas.
Setelah Presiden AS, Donald Trump memerintahkan lembaga federal menghentikan penggunaan teknologi Anthropic, raksasa teknologi Microsoft kini turun tangan membela pencipta AI Claude tersebut di pengadilan.
Microsoft mengajukan dokumen hukum berupa amicus brief untuk mendukung gugatan Anthropic terhadap pemerintahan Trump.
Dalam dokumen tersebut, Microsoft meminta pengadilan menunda keputusan Pentagon yang menetapkan pembuat chatbot AI Claude itu sebagai “risiko rantai pasok” (supply chain risk).
Amicus brief sendiri berasal dari istilah Latin amicus curiae yang berarti “sahabat pengadilan”. Dalam praktik hukum, dokumen ini diajukan oleh pihak ketiga yang bukan bagian dari sengketa, tetapi memiliki kepentingan terhadap kasus tersebut.
Melalui amicus brief, pihak ketiga dapat memberikan pandangan atau informasi kepada hakim untuk membantu pengadilan memahami dampak lebih luas dari suatu perkara. Meski begitu, pihak yang mengajukan dokumen ini tidak menjadi pihak yang berperkara secara langsung.
Microsoft sendiri ikut turun tangan karena diketahui memiliki kepentingan langsung terhadap nasib Anthropic.
Kedua perusahaan baru saja memperluas kerja sama teknologi, termasuk rencana integrasi model AI Claude ke dalam platform Microsoft 365 Copilot.
Kemitraan tersebut juga mencakup investasi besar dari pembuat OS Windows itu ke Anthropic yang nilainya dilaporkan mencapai miliaran dollar AS.
Microsoft ikut turun tangan karena diketahui memiliki kepentingan langsung terhadap nasib Anthropic. Kedua perusahaan baru saja memperluas kerja sama teknologi, termasuk rencana integrasi model AI Claude ke dalam platform Microsoft 365 Copilot.
Dalam kasus ini, Microsoft menilai keputusan Pentagon terhadap Anthropic berpotensi menimbulkan dampak luas bagi industri teknologi.
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan federal California, Microsoft memperingatkan bahwa penerapan kebijakan tersebut secara langsung dapat menimbulkan konsekuensi negatif bagi sektor teknologi secara keseluruhan.
“Ini bukan saat yang tepat untuk mempertaruhkan ekosistem AI yang selama ini justru didorong oleh pemerintah,” tulis pengacara Microsoft dalam dokumen tersebut.
Microsoft juga menilai implementasi keputusan tersebut secara mendadak dapat mengganggu proyek teknologi yang saat ini sudah berjalan, termasuk kerja sama dengan kontraktor pemerintah yang menggunakan teknologi Anthropic.
Perusahaan tersebut memperingatkan bahwa perubahan mendadak terhadap konfigurasi produk dan kontrak dapat menghambat penggunaan AI canggih dalam berbagai operasi pemerintah, termasuk di sektor pertahanan.
Juru bicara Microsoft mengatakan semua pihak sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan teknologi AI digunakan secara bertanggung jawab.
“Departemen Pertahanan membutuhkan akses yang andal terhadap teknologi terbaik di negara ini,” ujar juru bicara Microsoft.
Ia menambahkan bahwa semua pihak juga ingin memastikan AI tidak digunakan untuk pengawasan massal domestik maupun memicu konflik tanpa kendali manusia.
Karena itu, Microsoft menilai perlu ada waktu dan proses yang jelas agar pemerintah dan industri teknologi dapat menemukan titik temu.
Selain Microsoft, sejumlah perusahaan teknologi lain juga menunjukkan dukungan terhadap Anthropic. Karyawan dari perusahaan AI seperti OpenAI dan Google bahkan turut mengajukan dokumen dukungan terpisah di pengadilan.
Awal mula ketegangan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026).
Anthropic sebelumnya menggugat Pentagon dan sejumlah lembaga federal setelah Presiden Trump memerintahkan penghentian penggunaan teknologi mereka pada awal Maret lalu.
Tak berselang lama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian menyatakan bahwa Anthropic akan ditetapkan sebagai “risiko rantai pasok” (supply-chain risk).
Status tersebut biasanya digunakan untuk perusahaan yang dianggap berpotensi mengancam keamanan nasional, dan dapat membatasi kontrak perusahaan dengan mitra pertahanan.
Perintah larangan dan status “risiko rantai pasok” tersebut muncul setelah negosiasi antara Anthropic dan Departemen Pertahanan AS terkait batasan keamanan AI mengalami kebuntuan.
Pentagon disebut meminta akses yang lebih luas terhadap model AI Anthropic untuk berbagai kebutuhan militer.
Ini termasuk penggunaan yang menurut perusahaan berisiko tinggi seperti pengawasan massal domestik dan pengembangan senjata otonom tanpa kendali manusia.
CEO Anthropic, Dario Amodei, mengatakan perusahaan tidak dapat menyetujui permintaan tersebut karena alasan etika dan keselamatan teknologi.
“Kami tidak dapat menyetujui permintaan tersebut karena hati nurani dan alasan kemanusiaan,” kata Amodei dalam pernyataan resmi perusahaan.
Ilustrasi perusahaan AI Anthropic.
Meski demikian, Amodei menegaskan bahwa Anthropic tetap mendukung keamanan nasional AS dan telah lama bekerja sama dengan komunitas intelijen serta Departemen Pertahanan dalam berbagai proyek.
Model AI perusahaan tersebut digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari analisis intelijen, simulasi operasional, perencanaan militer, hingga operasi siber.
Anthropic kini meminta pengadilan untuk membatalkan penetapan “risiko rantai pasok” dari Pentagon.
Putusan pengadilan terhadap permintaan penundaan kebijakan Pentagon diperkirakan akan menjadi penentu arah konflik ini.
Jika pengadilan mengabulkan permintaan Anthropic, implementasi status “risiko rantai pasok” terhadap perusahaan tersebut dapat dihentikan sementara.
Untuk saat ini, di tengah tekanan dari pemerintah AS, Anthropic menyatakan teknologi mereka tetap tersedia di berbagai platform komersial.
Perusahaan seperti Google, Amazon, dan Apple disebut masih akan menyediakan layanan AI Anthropic selama tidak berkaitan dengan proyek Pentagon, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Business Insider dan The Hill.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang