Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Klaim Perang Iran Hampir Selesai

Ilustrasi Minyak Mentah
Ilustrasi Minyak Mentah

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir. Pernyataan tersebut langsung meredakan sebagian kekhawatiran pasar global terkait potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Penurunan harga minyak ini juga diikuti oleh penguatan pasar saham global. Investor mulai kembali masuk ke pasar setelah khawatir konflik geopolitik akan memicu lonjakan inflasi dan memperburuk kondisi ekonomi dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya pada awal pekan, harga minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel atau setara sekitar Rp2,02 juta per barel (asumsi kurs Rp16.800). Kenaikan tersebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat menyebabkan gangguan pasokan energi global dalam jangka panjang.

Namun setelah komentar terbaru Trump, harga minyak kembali turun ke sekitar US$93 per barel atau setara Rp1,56 juta per barel. Meski demikian, harga minyak masih berada jauh di atas level sebelum konflik meningkat.

Pasar saham juga menunjukkan pemulihan. Indeks saham utama Inggris, FTSE 100, dibuka naik sekitar 1,3 persen seiring meredanya ketegangan di pasar energi.

Trump mengatakan, bahwa konflik yang terjadi kemungkinan tidak akan berlangsung lama. "Perang ini pada dasarnya sudah sangat selesai," ungkapnya, sebagaimana dikutip dari BBC, Selasa, 10 Maret 2026.

Meski demikian, ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia. Peringatan itu terkait dengan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.

"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini," ancam Trump di media sosialnya. 

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari militer Iran. Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps, menyatakan bahwa mereka tidak akan tinggal diam.

Mereka mengatakan, sebagai tanggapan atas omong kosong Trump, bahwa angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor satu liter pun minyak dari kawasan tersebut.

Sebelumnya pada Senin, Trump juga menjelaskan alasan tindakan militer Amerika Serikat dalam konflik tersebut. "Kami melakukan sebuah operasi kecil karena merasa harus melakukannya untuk menyingkirkan sebagian kejahatan. Lalu saya pikir Anda akan melihat bahwa ini akan menjadi operasi jangka pendek," kata Trump dalam konferensi pers di Florida, Senin. 

Di pasar energi Asia, harga minyak sempat turun di bawah US$84 per barel atau sekitar Rp1,41 juta sebelum kembali naik. Pada perdagangan terakhir, minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$93,76 per barel atau sekitar Rp1,57 juta.

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate crude oil, turun sekitar 4 persen menjadi US$90,96 per barel atau setara Rp1,53 juta.

Analis dari perusahaan investasi energi InterCapital Energy, Alberto Bellorin, mengatakan pasar minyak saat ini masih berada dalam kondisi tarik-menarik yang kuat antara kekhawatiran geopolitik dan harapan meredanya konflik.

Menurutnya, penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bernapas bagi para pelaku pasar. Namun, kondisi pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah.

Ia menilai perdagangan minyak akan tetap sangat fluktuatif. Harga bisa melonjak jika konflik kembali meningkat, namun dapat turun cepat jika situasi terlihat mulai mereda.

Sentimen positif juga terlihat di pasar saham Asia. Indeks saham Jepang, Nikkei 225, ditutup naik 2,9 persen setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan, KOSPI, melonjak hingga 5,4 persen. Penguatan ini terjadi setelah kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi konflik mulai mereda.

Selat Hormuz sendiri memiliki peran sangat penting dalam perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur laut tersebut setiap harinya.

Pakar dari S. Rajaratnam School of International Studies, Park Kee Hyun, mengatakan harga minyak saat ini masih sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran lebih dari sepekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengatakan harga minyak kemungkinan akan tetap "bergejolak" karena perusahaan energi akan mengenakan premi tambahan pada pengiriman untuk mengantisipasi risiko memburuknya situasi keamanan.

Park menambahkan bahwa komentar Trump memang memberi sinyal konflik mungkin segera berakhir, namun pasar masih menunggu apakah pernyataan tersebut benar-benar diikuti perubahan nyata di lapangan.