Analisa Video Ungkap Rudal Tomahank AS yang Hantam Bangunan Sekolah Iran, Trump Berbohong?
Sebuah video yang baru dirilis memicu sorotan internasional setelah memperlihatkan serangan rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat (AS) yang menghantam pangkalan angkatan laut di dekat sebuah sekolah dasar di Iran selatan. Dalam insiden tersebut, 175 orang dilaporkan tewas dan mayoritas korban adalah anak-anak, demikian mengutip laporan media, Minggu, 8 Maret 2026.
Rekaman itu menunjukkan sebuah rudal menghantam fasilitas di dalam pangkalan angkatan laut yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di kota Minab pada 28 Februari.
Analisis The New York Times berdasarkan citra satelit, unggahan media sosial, serta video lain yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa bangunan Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh mengalami kerusakan parah akibat serangan presisi yang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan angkatan laut IRGC di dekatnya.
Video tersebut memperlihatkan rudal menghantam sebuah bangunan yang disebut sebagai klinik medis di dalam pangkalan tersebut, memunculkan kepulan asap dan puing ke udara.
Saat kamera mengarah ke area sekitar, awan debu dan asap besar sudah terlihat membubung dari sekitar sekolah, yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut kemungkinan telah terkena serangan tidak lama sebelum rudal menghantam fasilitas angkatan laut itu.
Militer AS merupakan satu-satunya pihak dalam konflik tersebut yang diketahui menggunakan rudal jelajah Tomahawk.
Ketika ditanya seorang wartawan apakah AS mengebom sekolah tersebut, Presiden Donald Trump membantah bertanggung jawab.
"Tidak. Menurut pendapat saya, dan berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran," kata Trump, seraya menambahkan bahwa amunisi Iran "sangat tidak akurat."
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan Pentagon sedang meninjau insiden tersebut.
"Satu-satunya pihak yang menargetkan warga sipil adalah Iran," katanya.
Rudal jelajah Tomahawk merupakan senjata berpemandu jarak jauh yang mampu menempuh jarak sekitar 1.000 mil atau 1.609 kilometer dan diprogram dengan jalur penerbangan tertentu sebelum diluncurkan.
Setiap rudal memiliki panjang sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter dengan rentang sayap sekitar 8,5 kaki atau 2,6 meter.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengatakan pasukan AS sedang melakukan serangan di Iran selatan pada saat kejadian tersebut.