Klaim Trump soal Iran “Menyerah” Dipertanyakan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

 Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi sorotan dunia setelah pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Iran telah “menyerah” kepada negara-negara tetangganya. Klaim tersebut disampaikan melalui unggahannya di platform Truth Social dan langsung memicu berbagai tanggapan dari pengamat geopolitik.

Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bagian dari strategi komunikasi politik, bukan gambaran akurat mengenai kondisi di lapangan. Narasi kemenangan yang disampaikan Trump justru dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan realitas geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Gaya komunikasi seperti itu kerap digunakan Trump untuk membangun tekanan psikologis terhadap pihak lawan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social, yang menyebut Iran sebagai "The Loser of the Middle East" dan menggambarkan Iran sudah "menyerah" kepada negara-negara tetangganya, tidak menggambarkan situasi geopolitik yang sedang terjadi.

Hal tersebut turut disorot oleh Emaridial Ulza, akademisi yang saat ini menjabat sebagai Associate Professor di Uhamka serta aktif di bidang hubungan internasional. Emaridial Ulza menyebut pernyataan tersebut tidak lebih dari sekadar retorika politik dan bukan gambaran nyata dari Timur Tengah saat pertempuran berkecamuk.

“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis” ujar Emaridial Ulza dalam keterangan tertulisnya. 

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Iran “telah meminta maaf dan menyerah” kepada negara tetangga setelah serangan AS dan Israel. Ia bahkan menyebut Iran bukan lagi sebagai ancaman di Timur Tengah, melainkan sebagai “pecundang”.

Selain itu, Trump juga menyampaikan ancaman bahwa Iran bisa menghadapi “pukulan sangat keras”. Pernyataan tersebut membuka kemungkinan perluasan target serangan ke wilayah atau kelompok yang sebelumnya tidak termasuk dalam sasaran.

Namun menurut Emaridial, narasi tersebut justru menunjukkan adanya kontradiksi. Ia menilai kondisi konflik di lapangan kemungkinan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan gambaran yang disampaikan secara sepihak.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam banyak konflik internasional, deklarasi kemenangan sering kali digunakan sebagai strategi komunikasi politik untuk mempengaruhi opini publik.

Menurutnya, dalam banyak situasi perang atau konflik internasional deklarasi kemenangan sepihak biasanya digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membangun opini publik. 

Pola komunikasi seperti ini, kata Emaridial, bukan hal baru dalam diplomasi internasional. Ia mencontohkan bagaimana pendekatan serupa pernah muncul dalam negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, krisis Korea Utara, hingga konflik-konflik lain di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, klaim bahwa Iran telah menyerah kemungkinan besar merupakan framing politik yang ditujukan untuk konsumsi domestik. Narasi kemenangan semacam itu sering kali digunakan untuk membangun citra keberhasilan di hadapan publik.

“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik,” kata Emaridial.

Ia juga menyoroti dinamika koalisi internasional dalam konflik tersebut. Beberapa negara sekutu Amerika disebut tidak ikut terlibat secara langsung dalam konflik, termasuk Inggris dan Spanyol, setelah sebelumnya Jerman juga menunjukkan sikap serupa.

Situasi ini, menurutnya, dapat mengindikasikan bahwa Washington membutuhkan jalur negosiasi untuk meredakan ketegangan.

Dalam konteks ini, ia menilai peran negara-negara lain, termasuk Indonesia, bisa menjadi penting sebagai penengah. Dengan posisi strategis di dunia internasional, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mendorong dialog melalui organisasi internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau forum negara-negara Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Indonesia juga memiliki posisi yang cukup unik karena terlibat dalam beberapa forum internasional, termasuk Board of Peace bentukan Trump dan keanggotaannya dalam BRICS.

Menurut Emaridial, langkah diplomasi yang dilakukan Indonesia dapat membantu meredakan ketegangan, meskipun mungkin tidak secara langsung mengubah dinamika konflik.