Pierluigi Collina Ungkap Perubahan Aturan VAR dan Perwasitan Jelang Piala Dunia 2026
Sosok wasit legendaris yang kini menjabat sebagai Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, memberikan gambaran besar mengenai transformasi regulasi yang akan diadopsi pada turnamen Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Fokus utama dari perubahan ini adalah meningkatkan efektivitas waktu permainan di lapangan.
Pierluigi Collina, yang juga merupakan anggota Komite Wasit UEFA, hadir secara langsung dalam rapat umum tahunan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) di Wales.
Dalam pertemuan tersebut, para pemangku kepentingan sepak bola dunia sepakat untuk memperkuat peran teknologi VAR guna mendukung transparansi dan keadilan pertandingan.
Salah satu sorotan utama dalam pertemuan tersebut adalah langkah tegas untuk meminimalisir gangguan durasi laga yang sering disebabkan oleh pemain.
Sesuai pernyataan narasumber, tujuannya adalah untuk menghilangkan pemborosan waktu sebanyak mungkin.
“Tujuannya adalah untuk menghilangkan, atau sebisa mungkin menghilangkan, pemborosan waktu yang menghambat keseruan pertandingan,” kata Collina kepada La Gazzetta dello Sport dikutip dari Football Italia.
Pierluigi Collina menjelaskan bahwa keberhasilan aturan sebelumnya menjadi landasan bagi kebijakan baru ini.
“Tahun lalu kami memperkenalkan 'aturan delapan detik' untuk penjaga gawang, dan itu sangat sukses. Hanya ada sedikit kasus di mana tendangan sudut diberikan. Efek jera ini berhasil,” lanjutnya.
Ke depannya, IFAB juga akan memberlakukan batas waktu 10 detik bagi pemain yang diganti untuk segera keluar lapangan.
Jika melanggar, pemain pengganti tidak diperbolehkan masuk hingga jeda berikutnya atau minimal satu menit laga berjalan.
“Kami sudah melakukan sesuatu, yaitu mewajibkan pemain pengganti meninggalkan lapangan dari titik terdekat. Batas waktu adalah tindakan pencegahan yang lebih efektif daripada kartu kuning, yang terkadang dianggap sebagai semacam 'kesepakatan'," kata Collina.
"Hasil dalam beberapa tahun terakhir di MLS menunjukkan bahwa tindakan ini berhasil," tambah pria kelahiran Bologna pada 13 Februari 1960 itu.
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina berpidato selama Kongres FIFA ke-74 di Bangkok pada 17 Mei 2024. (Photo by Manan VATSYAYANA / AFP)
Perluasan Intervensi VAR
Selain masalah durasi, teknologi VAR juga akan mendapatkan perluasan wewenang.
Kini, asisten video wasit diperbolehkan melakukan intervensi pada keputusan kartu kuning kedua.
Kebijakan ini diambil untuk mencegah kesalahan fatal seperti yang dialami bek Juventus, Pierre Kalulu, dalam laga Derby d'Italia melawan Inter Milan baru-baru ini.
Saat itu, Pierre Kalulu diusir keluar lapangan setelah menerima kartu kuning kedua yang dianggap keliru, namun wasit tidak dapat meninjau ulang karena protokol lama hanya mengizinkan tinjauan untuk kartu merah langsung.
“Ketika kami memutuskan untuk melakukan uji coba VAR pada tahun 2016, teknologinya sangat berbeda,” jelas Collina.
“Protokolnya ditulis dari awal dan mengambil inspirasi dari olahraga lain, seperti rugby, dan petugas video tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Saat ini, situasinya sangat berbeda.”
Collina juga menyayangkan adanya keterlambatan implementasi kebijakan ini.
“Kami telah membahasnya selama beberapa tahun dan sayangnya hingga sekarang, sebagian orang belum menganggapnya sebagai prioritas, dan itu sangat disayangkan.”
Tinjauan Video untuk Tendangan Sudut
Pembaruan signifikan lainnya adalah kemampuan VAR untuk meninjau keputusan pemberian tendangan sudut.
Hal ini dianggap penting karena sering kali proses persiapan tendangan sudut memakan waktu lama, yang sebenarnya bisa digunakan petugas video untuk melakukan verifikasi.
“Tendangan sudut adalah dimulainya kembali permainan yang selalu membutuhkan waktu tertentu,” tegas Pierluigi Collina.
“Biasanya Anda harus menunggu sampai bek tengah maju dan penendang seringkali harus menyeberangi seluruh panjang lapangan. Dalam waktu itu, bisa jadi hanya dengan melihat gambar, Anda menyadari bahwa keputusan itu salah.”
Kebijakan ini diambil untuk memperbaiki akurasi keputusan sejak dini.
“Apakah masuk akal membiarkan tendangan sudut berlalu dan berharap tidak terjadi gol? Jauh lebih baik untuk memperbaiki keputusan awal dan menundanya,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang